Aliran-aliran Sosial


Kebingungan dan ketercekaman yang melanda manusia modern tidak terbatas pada lingkup pribadi dan individu, tetapi juga menjalar ke soal-soal sosial, seperti terlihat dalam berbagai aliran sosial-politik yang bertentangan. Walaupun pelbagai sistem semu ini telah gagal membuktikan dirinya bernilai dan sempurna, tetap saja masyarakat bingung ini enggan berlepas tangan dari mereka. Terus saja para pelancong bingung ini menempuh jalan melenceng itu dan mencoba merajut baju-baju baru dari bahan yang sama. Setiap kali isme baru muncul di pentas alam ideologi, sekelompok orang terkecoh olehnya dan pecahlah hiruk-pikuk. Tidak lama sebelum gagal dan  hancur berantakan, ia muncul lagi dengan nama, warna, dan aroma baru untuk kembali memperdaya kelompok lain.

Agaknya orang-orang sial ini telah bersumpah untuk tidak menyimak seruan kebenaran dan mendengar firman-firman Ilahi. Mereka bergumam, “Mengapa kalian tidak bergelimang emas dan perak? Kalau kalian berbicara tentang kebenaran, mengapa pula istana-istana putih dan merah tidak dalam kendali kalian?” Benar, inilah cerita yang berkali-kali dibisikkan oleh Al-Quran mulia ke telinga masyarakat dunia. Tapi, manakah telinga yang hendak mendengarnya?

Bagaimanapun, sebagai bentuk dakwah dengan kebijaksanaan, haruslah kita katakan: sistem sosial mesti dirancang sesuai dengan kesadaran akan watak-dasar manusia dan segenap aspek keberadaannya, memperhatikan tujuan-tujuan penciptaannya, dan faktor-faktor yang dapat membawanya ke matlamat akhirnya. Menemukan rumusan pelik semacam itu jelas di luar kemampuan manusia. Kemampuan manusia cuma diharapkan bisa mengetahui masalah-masalah mendasar dan asas-asas umum sistem tersebut dan mengukuhkannya secara mantap. Dengan kata lain, kemampuan manusia cuma diharapkan bisa mengetahui Pencipta alam dan manusia, adanya tujuan bagi kehidupan manusia, dan jalan yang disiapkan Sang Pencipta bagi manusia untuk benar-benar dapat menempuh dan mengapai matlamat akhirnya. Selanjutnya, kita diharuskan memusatkan hati kepada-Nya, menelusuri jalan itu dan mengikuti bimbingan Ilahi, tanpa ragu-ragu atau tergesa-gesa sepanjang perjalanan tersebut.

Jika orang gagal memanfaatkan akal yang dianugrahkan Tuhan, lalu tidak peduli pada awal dan akhir wujud, gagal memecahkan masalah-masalah pokok kehidupan, membuat jalan seenaknya sendiri, lalu membangun sistem dan mencanangkan kekuasaan bagi dirinya sendiri atau orang-orang selainnya, ia pasti akan mengemban seluruh akibat kebodohan, keangkuhan, keingkaran, kesesatan, dan kerancuannya sendiri. Dan ia tidak bisa mempersalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri atas segala nasib buruk yang menantinya di depan.

Menemukan ideologi benar sesungguhnya terpaut dengan memiliki pandangan-dunia yang benar. Sampai tonggak-tonggak pandangan-dunia diisbatkan secara kukuh, masalah-masalah utamanya dipecahkan secara tepat dan rangsangan untuk mengingkarinya dientaskan, manusia tidak bisa berharap menemukan ideologi yang imbang, berguna, dan mangkus (effective). Bukan tanpa alasan kalau para ahli agama menyebut soal-soal di atas sebagai “prinsip-prinsip agama” (ushul al-din): teologi menjawab pertanyaan “Bagaimana awalnya”; kajian atas Hari Kebangkitan menjawab “Bagaimana akhirnya?”; kajian atas wahyu dan kenabian menjawab “Apa jalannya, dan siapa pemandunya?”

Tak ayal lagi, pemecahan tepat dan pasti atas semua pertanyaan tersebut bergantung seutuhnya pada gagasan-gagasan filsafat yang rasional. Dengan demikian, dari segi lain, kita mengetahui arti penting dan keniscayaan filsafat pertama, berikut kemudian epistemologi dan ontologi.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: