Manusia Modern


Matahari terbit dari balik horizon dan mendenyarkan cahaya keemasan ke arah wajah-wajah lesu para penumpang kapal. Begitu terbangun dari tidur semalaman, para penumpang itu bergegas mencari makan, minum, dan bersenang-senang, mengikuti gerak kapal menembusi samudra tak bertepi.

Sementara itu, seorang yang tampak lebih cerdas ketimbang lain-lainnya mulai berpikir, lalu menengok ke arah rekannya dan bertanya, “Ke mana gerangan kita menuju?” Orang yang juga baru terbangun dari tidurnya menangkap pertanyaan itu dan segera menanyakan soal serupa kepada rekan-rekan lainnya. Sebagian yang terlalu karam dan kesenangan dan keriangan tak menggubris pertanyaan ini, dan terus saja tenggelam dalam urusannya sendiri. Tetapi, perlahan-lahan, pertanyaan ini menyabar sampai terdengar oleh awak dan kapten kapal. Ternyata mereka pun tidak tahu dan bertanya-tanya tentang hal yang sama. Akhirnya, suatu tanda besar menggelayuti suasana kapal, menimbulkan ketakutan dan kecemasan….

Bukankah skenario khayal di atas menyerupai kisah anak cucu Adam di dunia: menumpang kapal besar bernama bumi, berputar-putar di jagat kosmos, melancongi lautan waktu yang tak terbatas (limitless)? Bukankah mereka bak binatang peliharaan, seperti dikatakan dalam Al-Quran, “Mereka bersenang-senang dan makan kayaknya binatang…” (QS. Muhammad [47]:12). Dan Al-Quran juga menyatakan, “Mereka punya hati, tapi tak bisa memahami; mereka punya mata, tapi tak bisa melihat; mereka punya telinga, tapi tak bisa mendengar. Benar-benar mereka mirip binatang piaraan, tidak, malah mereka lebih tersesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai” (QS. Al-A’raf [7]:179).

Ya, itulah kisah manusia zaman kita! Dengan kemajuan teknologi yang menakjubkan, mereka menjadi terserang kebingungan dan kebimbangan serta tidak tahu dari mana mereka berasal dan akan ke mana mereka pergi. Ke arah mana mereka seharusnya berbelok dan jalan apa yang mestinya mereka tempuh? Inilah mengapa absurdisme, nihilisme, dan hippiisme muncul di abad ruang angkasa ini. Laksana kanker, paham-paham ini menyerang jiwa, pikiran dan ruh manusia beradab. Ia menghancurkan dan meluluhkan pasak-pasak istana kemanusiaan bagaikan rayap menggerogoti kayu.

Pertanyaan-pertanyaan ini dibersitkan oleh orang-orang yang sadar dan digemakan oleh orang-orang semi-sadar sehingga memaksa para pemikir untuk mencari jawabannya yang jitu, tajam, memberi suluh dan arah. Mereka ini mengetahui tujuan sejati perjalanan tersebut, dan dengan sigap mengikuti jalan yang lurus. Sebaliknya, kelompok yang terpengaruh oleh pemikiran dan faktor-faktor jiwa yang tidak matang berkhayal bahwa kafilah manusia berjalan tanpa awal dan akhir. Dengan mudahnya gelombang ombak mengempas mereka ke sana ke mari. Menjelang ke tepi pantai, ombak menyambar dan menyeretnya kembali ke laut: “Mereka berkata, tiada apa pun kecuali kehidupan kita saat ini; kita hidup dan kita mati, dan tiada selain waktu yang menghancurkan kita” (QS.Al-Jatsiyah [45]:24).

Bagaimanapun, suka atau tidak suka, pertanyaan-pertanyaan itu akan selamanya menghantui manusia. Bagaimana kita berawal? Bagaimana kita berakhir? Dan manakah jalan yang lurus mencapai tujuan? Tentu saja, ilmu-ilmu alam dan matematika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan pertanyaan mengenai apa yang mesti kita lakukan. Jika demikian, bagaimanakah cara kita menjawab seluruh pertanyaan tersebut dengan benar dan tepat? Seperti telah disebutkan sebelumnya, setiap pertanyaan itu merupakan pertanyaan dasar bagi cabang tertentu filsafat yang mesti diteliti melalui metode-metode rasional. Dan pada gilirannya, semua pertanyaan itu menuntut kehadiran filsafat pertama atau metafisika. Oleh karena itu, kita mesti memulai dengan epistemologi dan ontologi, baru kita berurusan dengan ilmu-ilmu kefilsafatan lainnya untuk menemukan jawaban jitu atas seluruh pertanyaan itu.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: