Kesalinghubungan Ilmu-ilmu


Meskipun himpunan ilmu dalam arti soal-soal serumpun terpisahkan berdaarkan berbagai kriteria, seperti subjek, tujuan, dan metode penelitiannya, mereka tetap saling berhubungan satu sama lain. Setiap ilmu, sampai derajat tertentu, dapat membantu memecahkan masalah ilmu lain. Dan seperti telah disinggung, sebagian besar prinsip positifa ilmu ditetapkan dalam ilmu lain. Contoh terbaik manfaat satu ilmu pada ilmu lain tampak dalam hubungan antara matematika dan fisika.

Hubungan di antara ilmu-ilmu kefilsafatan juga jelas. Contoh terbaiknya terdapat dalam hubungan antara ilmu akhlak dan psikologi filosofis, mengingat salah satu prinsip utama ilmu akhlak adalah kehendak dan kebebasan manusia. Tanpa kedua sifat itu, kebaikan dan keburukan, pujian dan cacian, serta pahala dan siksa menjadi tanmakna (meaningless). Prinsip positif ilmu akhlak ini mesti dikukuhkan dalam psikologi filosofis yang membahas watak-watak dasar jiwa dengan metode rasional.

Hubungan yang kurang lebih sama juga terdapat antara ilmu-ilmu kefilsafatan dan ilmu-ilmu alam. untuk menuntaskan suatu masalah dalam ilmu-ilmu kefilsafatan, orang bisa meminjam sejumlah premis yang telah ditetapkan dalam ilmu-ilmu empiris. Misalnya, dalam psikologis empiris telah ditetapkan: kendatipun syarat-syarat fisik dan fisiologis untuk melihat dan mendengar telah terwujud, adakalanya persepsi tetapi tidak terjadi. Barangkali kita semua pernah berpapasan dengan seorang kawan, tapi kita tidak melihatnya, akibat perhatian benak kita yang tertuju pada suatu hal lain. Atau keadaan ketika kita tidak bisa mendengar suatu yang menggetarkan gendang telinga. Subjek ini tentunya bisa digunakan sebagai premis untuk memecahkan salah satu masalah dalam ilmu filsafat jiwa. Dan juntrungnya kita bisa menyimpulkan bahwa persepsi bukan sekadar proses umpan balik material. Pasalnya, syarat-syarat material bagi terjadinya persepsi ternyata tidaklah mencukupi.

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah hubungan-hubungan serupa juga terjadi antara filsafat (baca: metafisika) dan ilmu-ilmu lain, atau di antara mereka terdapat dinding tebal yang tak tertembuskan? Tanggapannya, terdapat hubungan antara filsafat dan ilmu-ilmu lain, hanya saja filsafat sedikit pun tidak bergantung pada selain dirinya. Ia juga tidak perlu pada prinsip positif yang telah ditetapkan dalam ilmu lain. Alhasil, pada satu sisi, filsafat membantu dan memenuhi kebutuhan dasar ilmu-ilmu lain, dan pada sisi lain, ia mengambil manfaat dari selainnya dalam satu pengertian. Selanjutnya, kita akan secukupnya mengupas tali-temali antara filsafat dan ilmu-ilmu lain.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a Istilah positif ini disadur dari kata Inggris, positive, untuk menunjukkan makna kata Arab, maudhu’. Maknanya: laid down or determined by convention (diletakkan atau ditentukan oleh konvensi dan kesepakatan), seperti dalam konteks “hukum positif”. Dengan demikian, prinsip-prinsip positif atau prinsip-prinsip hasil kesepakatan (al-ushul al-maudhu’ah) adalah sederet patokan-duga yang ditetapkan untuk suatu ilmu dan menjadi kerangka sekaligus latar belakang kemunculan ilmu tersebut—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: