Metode Rasional dan Empiris


Deduksi melahirkan kepastian bilamana ia sesuai dengan syarat-syarat logika dan bentuk yang benar, sekaligus memiliki premis-premis yang juga pasti. Apabila proposisi-proposisi (yang diasumsikan) pasti tidak swabukti, ia mesti mengacu pada yang swabukti. Dengan kata lain, proposisi-proposisi (yang diasumsikan) pasti itu mestilah disimpulkan atau diturunkan dari proposisi-proposisi yang tidak membutuhkan bukti rasional apa pun.

Para logikawan membagi proposisi-proposisi swabukti (badihiyyat) menjadi dua: proposisi-proposisi swabukti primer dan sekunder. Proposisi-proposisi “empiris” atau proposisi-proposisi yang didapatkan dari pengalaman (mujarrabat) masuk dalam bagian proposisi-proposisi swabukti sekunder. Menurut mereka, pengalaman bukanlah metode tandingan atas metode deduktif. Selain pengalaman itu sendiri mengandung deduksi, ia juga dapat menjadi salah satu premis dalam deduksi lain. Atas dasar itu, menyetarakan induksi dengan pengalaman ataupun mempertentangkan deduksi dengan pengalaman jelaslah tidak mengena!

Tentu saja “pengalaman” punya banyak makna, yang tidak bisa kita jelaskan satu per satu di sini. Yang jelas, tindakan mempertentangkan metode empiris dan rasional—kalau dianggap masuk akal—berasal dari pertimbangan bahwa metode rasional merupakan deduksi yang terdiri atas premis-premis rasional belaka. Baik premis-premis itu bersumber dari proposisi-proposisi swabukti primer atau berujung padanya (dan bukan para proposisi-proposisi empiris), semisal bukti-bukti silogistis yang digunakan dalam filsafat pertama, matematika, dan sebagian besar ilmu kefilsafatan. Jadi, letak perbedaan metode rasional dan empiris bukan pada deduksi dan induksi, melainkan pada fakta bahwa yang pertama semata-mata bertopang pada swabukti primer dan yang kedua bertopang pada premis-premis empiris yang terhitung sebagai swabukti sekunder. Jauh dari bisa dibilang kekurangan, perbedaan itu justru merupakan keistimewaan metode rasional yang terbesar.

Menimbang butir-butir singkat di atas, jernihlah kiranya kelemahan dan jauhnya pendapat-pendapat (kaum positivis) tersebut dari kebenaran. Karena, pertama, pengalaman tidak setara dengan induksi. Kedua, metode empiris tidak bertentangan dengan metode deduktif. Ketiga, baik induksi maupun pengalaman membutuhkan (sebentuk) deduksi. Keempat, baik metode rasional maupun empiris sama-sama deduktif. Bedanya, metode rasional semata-mata mengandalkan proposisi-proposisi swabukti primer, sedangkan metode empiris bermuara pada proposisi-proposisi empiris yang nilainya tidak akan pernah mencapai swabukti primer.

Perlu dicatat bahwa topik ini menuntut penjelasan dan penyelidikan lebih jauh, mengingat sebagian aturan logika klasik bisa diperdebatkan. Tetapi, saya kira sekarang bukan saat yang tepat untuk itu. Di sini, saya hanya mencukupkan diri pada bahan-bahan darurat untuk membidas fantasi sebagian orang dalam kaitan ini.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: