Tradisi dan Faham Orang Awam


Filsafat adalah suatu perkembangan yang agak baru dalam perjuangan manusia yang panjang untuk memahami segi kehidupannya. Pada waktu sekarang juga, hanya sebagian kecil dari manusia yang secara sungguh-sungguh mempunyai pandangan terhadap problema-problema kehidupan manusia yang fundamental yang dipikirkan oleh para filosof. Mayoritas yang terbanyak hanya mengikuti pendapat atau kepercayaan yang didasarkan atas tradisi dan adat kebiasaan. Marilah kita bicarakan secara ringkas pendapat-pendapat (tradisi dan adat) sebelum kita menyelidiki sumber-sumber yang pokok dari pengetahuan kita.

Kita dilahirkan dalam kelompok-kelompok sosial yang memilih cara-cara tertentu untuk bertindak, merasakan dan berpikir. Kita sadar akan diri kita dan dunia di sekeliling kita. Kita berkenalan dengan orang lain dan mengenal benda-benda melalui pengalaman-pengalaman yang bertambah luas. Kesadaran kita mencakup sentuhan, penglihatan, pendengaran, pencicipan dan daya cium. Pada waktu obyek (atau hubungan – relation -, kualitas, dan sebagainya) dan suara terkumpul dengan melalui asosiasi atau conditioning yang disengaja, kita membentuk kata-kata dan belajar nama benda-benda. Kata-kata dikelompokkan dalam kalimat (sentence) ketika mengetahui bahasa. Kejadian-kejadian kesadaran kita adalah sangat khusus karena tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang kita rasakan. Walaupun begitu, kita menganggap bahwa pengalaman-pengalaman orang lain sama dengan pengalaman-pengalaman kita.

Jika kita menjadi besar dan mendapatkan pengalaman-pengalaman, kita memperoleh adat kebiasaan, perasaan (feeling), pikiran, kepercayaan, dan ingatan-ingatan yang nampaknya dapat diandalkan cara-cara bertindak dan berpikir sebagai tersebut di atas, yang dilakukan oleh anggota-anggota kelompok tanpa rasa ragu-ragu atau mempertanyakan, adalah adat kebiasaan dan tradisi yang cenderung untuk mengikat individu dalam satu jalan. Sering manusia melihat kepada fikiran kelompok untuk membentuk pikirannya sendiri. Cara bertindak dan berpikir, beralih dari suatu generasi ke generasi lain dengan sarana tradisi, meniru dan pengajaran. Cara yang umum untuk memandang kepada sesuatu ini biasanya dinamakan paham orang awam (common sense). Dengan begitu maka common sense adalah istilah yang luas untuk pendapat-pendapat yang dimiliki oleh tiap anggota kelompok.

Kebijaksanaan yang diperoleh ini (bukan bawaan) mencakup kaidah (maxim) dan peribahasa yang praktism pendapat-pendapat tentang praktek yang diikuti oleh orang ramai, dan kepercayaan yang tidak diucapkan akan tetapi dpegang teguh oleh anggota kelompok. Bahwa anak-anak harus tunduk kepada perintah ibu-bapak mereka, bahwa organisme binatang mempunyai umur tertentu, bahwa benda yang lebih berat dari udara akan jatuh ke bumi, dan bahwa benda-benda itu ada, terlepas dari kita dan dari pengetahuan kita tentang benda-benda tersebut, semua ini dapat dimasukkan ke dalam keyakinan-keyakinan yang tak terhitung jumlahnya dan yang timbul dari pengalaman manusia. Di antara sifat-sifat pendapat orang awam, kita cantumkan empat yang penting seperti di bawah ini:

Pertama, pendapat orang awam condong untuk bersifat kebiasaan dan meniru, yang diwarisi dari masa silam. Ia bersandar kepada adat dan tradisi. Apa yang menjadi adat dan tradisi bagi suatu kelompok menjadi kebiasaan dan kepercayaan bagi pribadi-pribadi. Kepercayaan orang awam biasanya dikatakan sebagai peribahasa atau kaidah yang datang dari masa lalu. Umpamanya, peribahasa Inggris: “Spare the rod and spoil the child” (jangan memakai cambuk dan anakmu akan jadi manja).

Kepercayaan orang awam membatasi kemauan dan tingkah laku individu seta menekankan kepada cara-cara kelompok yang sudah dicoba dan disepakati. Karena itu maka paham orang awam biasanya dianggap sinonim dengan good sense dan orang memiliki common sense dianggap sebagai seorang yang mempunyai pertimbangan yang sehat.

Kedua, pendapat orang awam biasanya samar-samar dan tidak jelas. Pendapat itu seringkali dangkal dan dapat berbeda dari seseorang kepada orang lain, dan dari suatu daerah ke daerah lain. Paham orang awam adalah campuran dari fakta dan purbasangka, dari kebijaksanaan dan kecenderungan emosi. Ia mencakup pendapat-pendapat yang telah terbentuk tanpa pemikiran yang teliti atau kritik, umpamanya “The good die young” (orang-orang yang baik mati pada usia muda). Selain dari itu pendapat orang awam mencakup semua bidang kehidupan dalam arti bahwa ia adalah kepercayaan yang tidak terkhususkan (spesialis). Pada suatu waktu ia mungkin menjadi unsur kekuatan dan keseimbangan. Ia memungkinkan kita untuk menganggap faham orang awam sebagai sebaliknya dari pendapat-pendapat spesialis yang ekstrim atau berat sebelah yang melihat dunia dan kehidupan dari segi yang sangat sempit. Walaupun begitu kepercayaan orang awam dapat menyesatkan orang sebagaimana ia dapat menuntun ke arah yang benar. Dalam dunia yang kompleks dan berubah secara cepat, paham orang awam sering tidak cukup untuk menghadapi atau mengatasi situasi yang baru dan belum terkenal.

Ketiga, pendapat orang awam, kebanyakan merpakan kepercayaan yang belum diuji. Tidak seperti orang yang kebanyakan cenderung untuk percaya, pendapat orang awam bukannya pernyataan tentang fakta yang didasarkan atas perasaan dari tangan pertama atau pengalaman-pengalaman lain. Sebagai contoh, ada pepatah bahasa Inggris: Red-headed people are quick-tempered (orang yang rambutnya merah lekas marah). Seperti orang-orang yang tidak berambut merah, ada yang lekas marah dan ada pula yang tidak. Kasus-kasus positif biasanya menguatkan pendapat, sedang kasus-kasus negatif biasanya tidak dipakai untuk menolak kepercayaan itu. Walaupun mereka yang memegang teguh pikiran-pikiran tersebut mungkin mengira bahwa pikiran mereka itu sangat jelas, pada hakikatnya pikiran tersebut didasarkan atas tanggapan-tanggapan yang sering tidak diselidiki dan karenanya perlu untuk dicek dan dikritik. Walaupun banyak pikiran orang awam yang dapat dibenarkan, sejarah sains dan filsafat membuktikan bahwa pandangan pertama (first look) tidak selalu benar dan benda-benda itu tidak selalu seperti apa yang nampak kepada penglihatan kita.

Keempat, pendapat orang awam jarang disertai dengan penjelasan mengapa benda-benda itu seperti yang dikatakan. Penjelasan tidak ada, atau jika ada, ia terlalu umum sehingga tidak memperhatikan kekecualian atau kondisi-kondisi yang membatasi. Sebagai contoh: jika air dikatakan membeku pada temperatur rendah, mengapa begitu. Dan mengapa air yang mengalir dan air asin tidak membeku pada kondisi yang sama seperti air yang tenang dan tawar? Untuk membedakan sains daripada faham orang awam, Ernest Nagel berkata: “Yang menimbulkan sains adalah keinginan untuk penjelasan yang bersifat sistematis dan dapat dikontrol dengan bukti-bukti fakta; maksud yang jelas dari sains adalah untuk mengatur dan mengelompok-ngelompokkan pengetahuan atas dasar prinsip-prinsip yang menjelaskan.[1]

Kita tidak pernah dapat membebaskan diri dari faham orang awam, walaupun kita sudah mendapat pengetahuan yang sangat jauh atau memiliki pengetahuan yang sangat khusus (spesial). Barangkali ada baiknya bahwa kita tidak pernah meninggalkan kepercayaan faham orang awam, karena faham orang awam dapat berguna sebagai cek terhadap hal-hal yang samar-samar (blind spots) yang timbul dalam pikiran orang jika ia terlalu berspesialisasi. Tetapi, jika harus dipakai untuk maksud yang berfaidah itu, faham orang awam perlu diperiksa kembali secara teliti.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] The Structure of Science (New York: Harcourt, Brace and World, 1961), hal. 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: