Prinsip-prinsip Filsafat


Pada pelajaran lalu telah kita katakan bahwa sebelum mulai memecahkan masalah-masalah suatu ilmu, orang seharusnya mengenali prinsip-prinsip ilmu tersebut. Nah, apakah prinsip-prinsip filsafat? Dan pada ilmu mana prinsip-prinsip ini ditetapkan? Jawabannya, mengenali prinsip-prinsip konseptual suatu ilmu atau mengetahui konsep dan esensi subjek serta konsep pokok-pokok masalah ilmu tersebut lazimnya melalui ilmu itu sendiri. Dengan begitu, definisi subjek ilmu yang bersangkutan dipaparkan dalam pengantar umum, dan definisi tiap-tiap masalah partikular dipaparkan dalam pengantar untuk pembahasan masalah tersebut. tetapi, konsep masalah utama filsafat (baca: maujud) adalah swanyata (self-evident) dan tidak membutuhkan definisi. Oleh karena itu, filsafat tidak memerlukan prinsip-prinsip konseptual, sedangkan definisi pokok-pokok masalah partikularnya tertera pada permulaan setiap pembahasan—sebagaimana biasanya terjadi dalam ilmu-ilmu lain.

Prinsip-prinsip asertif ilmu dibagi menjadi dua: afirmasi atas keberadaan subjek; dan afirmasi atas prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah ilmu yang bersangkutan. Keberadaan subjek atau masalah utama filsafat (baca: maujud) tidak lagi perlu dipastikan lantaran kemaujudan maujud bersifat swabukti dan tidak bisa disangkal oleh orang berakal mana pun. Paling tidak, semua orang menyadari kemaujudan diri mereka sendiri, yang sudah cukup untuk membuktikan bahwa konsep “maujud” mempunyai acuan-acuan nyata (baca: kemaujudan diri masing-masing kita), sehingga acuan-acuan lain segera bisa dibahas dan ditahkik. Pada titik inilah para filosof berpisah jalan dari kaum sofis, skeptis, dan idealis (yang menolak atau meragukan kemaujudan mutlak, ataupun kemaujudan secara mutlak).

Ihwal kelompok kedua dari prinsip-prinsip asertif, yakni prinsip-prinsip yang melandasi pemecahan masalah-masalah ilmu tertentu, terbagi menjadi dua: pertama adalah prinsip-prinsip teoretis (= prinsip-prinsip non-swabukti) yang mesti dibuktikan dalam ilmu lain yang disebut dengan prinsip-prinsip hasil kesepakatan (al-ushul al-maudhu’ah). Dan seperti sudah kita sebutkan, prinsip-prinsip hasil kesepakatan yang paling umum ditetapkan dalam filsafat pertama. Dengan kata lain, sebagian masalah filsafat pertama menyangkut pembuktian prinsip-prinsip hasil kesepakatan untuk semua ilmu. Dan filsafat pertama pada dasarnya sama sekali tidak memerlukan prinsip-prinsip hasil kesepakatan serupa, meskipun ilmu-ilmu kefilsafatan lain, seperti teologi, psikologi filosofis, dan etika memerlukan prinsip-prinsip hasil kesepakatan yang telah ditetapkan dalam filsafat peratama atau ilmu-ilmu kefilsafatan lain atau bahkan ilmu-ilmu empiris.

Kelompok prinsip-prinsip kedua adalah proposisi-proposisi swabukti yang tidak perlu dibuktikan lagi, semisal proposisi kemustahilan kontradiksi. Maslaah-masalah filsafat pertama cuma memerlukan prinsip-prinsip dalam kelompok kedua yang sama sekali tidak perlu dibuktikan dalam ilmu itu sendiri, apalagi dalam ilmu lain. Oleh sebab itu, filsafat pertama atau utama tidak perlu bantuan ilmu rasional atau empiris atau naratif lainnya. Dan inilah yang menjadi ciri terpenting filsafat pertama. Logika menjabarkan bahwa metode pembuktian yang berlaku dalam filsafat pertama berpijak pada kaidah-kaidah logis, sedangkan epistemologi menjabarkan bahwa kebenaran filosofis bisa diketahui secara rasional. Pertanyaan seputar keberadaan dan kemampuan akal pun terpecahkan. Pada hakikatnya, filsafat pertama hanya “membutuhkan” prinsip-prinsip swabukti yang terkandung dalam logika dan epistemologi. Prinsip-prinsip swabukti ini sesunggunya tidak bisa dipandang sebagai “masalah-masalah” yang perlu dipecahkan dan dibuktikan. Bahkan, penjelasan prinsip-prinsip itu dalam logika dan epistemologi lebih tepat disebut sebagai penjelasan untuk mengingatkan dan membangunkan kesadaran (isyrah li al-tanbih), bukan untuk membaktikan dan memastikan.[1]

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Pada Pelajaran 11 (Buku Kedua), persoalan ini akan kita terangkan lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: