Evaluasi Metode Rasional


Berkali-kali telah kita sebutkan bahwa masalah filsafat mesti ditahkik dan diselidiki dengan metode rasional, dan bahwa metode empiris tidak berguna pada lapangan ini. Lacurnya, kalangan yang terpengaruh oleh pemikiran positivis malah menyangka bahwa hal itulah yang menjadi alasan ketanpurnaan (imperfection) dan ketakbernilaian pemikiran filosofis. Mereka mengira bahwa metode empiris merupakan satu-satunya metode pasti dan ilmiah, dan bahwa tidak ada simpulan pasti yang dapat diperoleh lewat metode rasional.

Bersandarkan alasan tersebut, kalangan ini menyangka filsafat adalah masa kanak-kanak ilmu pengetahuan. tugas filsafat tak lebih dari melemparkan hipotesis-hipotesis untuk memecahkan persoalan ilmiah.[1] Bahkan, Karl Jespers, filosof eksistensialis asal Jerman, menyatakan, “Filsafat tidak membuahkan pengetahuan pasti…dan begitu suatu pengetahuan diterima oleh semua sebagai pasti dengan dalil-dalil memuaskan, maka ia tidak bisa dianggap sebagai pengetahuan filosofis, tetapi ia langsung beralih bentuk menjadi pengetahuan ilmiah.”[2]

Sementara orang yang tercekam oleh kemajuan industri dan ilmu pengetahuan Barat berdalih bahwa para ilmuwan Barat tidak mencapai kemajuan ilmiah yang mencengangkan dan terus meningkat hari demi harinya kecuali dengan membuang metode rasional-deduktif dan berpaling kepada metode induktif-empiris. Sejak Francis Bacon menekankan metode empiris, kemajuan revolusioner melaju dengan lebih cepat. Dan inilah alasan paling tepat atas keunggulan metode empiris dibanding dengan metode rasional.

Sialnya, beberapa pembaru dan peniru Muslim ada yang percaya pada dalih di atas. Mereka menjunjung tinggi sarjana Muslim yang menentang dan membantai budaya Yunani. Seakan terilhami dari Al-Quran suci, mereka berupaya menggantikan metode deduktif-rasional dengan metode induktif-empiris. Dan di kemudian hari, ketika kebudayaan Islam memengaruhi Eropa dan membangkitkan para ilmuwan Barat, semuanya dianggap berkat metode empiris yang mangkus itu.

Khayalan di atas terus berlanjut, sampai-sampai orang-orang tolol ini mengira bahwa metode penelitian yang ditawarkan Al-Quran untuk memecahkan semua masalah tidak lain dan tidak bukan adalah metode empiris-positivis. Bahkan, menurut persangkaan orang-orang ini, timbunan masalah teologi, fiqih, dan akhlak harus diselidiki dengan metode ini!

Keruan saja tidak mengejutkan jika orang-orang yang matanya terpaku mati pada cerapan indriawi dan tidak pernah sekali-kali melihat sesuatu di luas indra, yang menyangkal kemampuan akal dan pemahaman rasional serta memandang konsep-konsep rasional dan metafisis sebagai kegalatan tak bermakna, juga menentang kehadiran filsafat di pentas ilmu-ilmu manusia! Orang-orang ini memangkas peran filsafat sebagai penjelas istilah-istilah yang beredar umum dan merendahkannya sebagai sekadar ilmu bahasa atau menganggap tugasnya tidak lebih dari sekadar membuat hipotesis untuk memecahkan soal-soal ilmu pengetahuan. sungguh malang jika seorang yang menyebut dirinya sebagai Muslim dan mengenal Al-Quran, harus pula menyandarkan penyimpangan-penyimpangan intelektual tersebut pada Al-Quran dan mengiranya sebagai kebanggaan bagi Islam dan para sarjana Muslim.

Di sini, saya tidak punya cukup waktu untuk menyanggah gagasan-gagasan positivis yang menjadi dasar khayalan-khayalan di atas. Dengan satu dan lain cara, saya sebenarnya telah melakukannya dalam kajian-kajian perbandingan.[3]Bagaimanapun, saya merasa perlu untuk lebih mengulas metode-metode rasional dan empiris agar kelemahan dalil-dalil yang telah diajukan dalam kaitan ini menjadi jelas adanya.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


[1] Falsafe Chist, terjemahan Manuchihr Buzurgmihr, h. 21.

[2] Dar Omade Bar Falsafe, terjemahan Dr. Asadullah Mubasyiri, h. 18.

[3] Lebih jauh, lihat karya penulis, Iydiuluji Tathbiqi (Ideologi Perbandingan), Dar Rah-e Haqq, Qum, 1982.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: