Analogi, Induksi, dan Deduksi


Ada tiga pola upaya untuk mengungkapkan apa yang tidak diketahui melalui ada yang diketahui:

1. Penyimpulan (inference) yang berangkat dari satu partikular ke partikular lainnya. Yaitu: ketika kita mengetahui hukum salah satu dari dua hal serupa, kita menetapkan hukum yang sama pada serupanya, dengan pertimbangan keserupaan keduanya. Umpamanya, kalau ada dua orang bermiripan dan salah satunya cerdas, kita katakan bahwa orang yang mirip dengannya juga cerdas. Dalam peristilah logika, pola penyimpulan ini disebut dengan tamtsil (analogi) dan dalam peristilahan fiqih ia disebut dengan qiyas. Jelas, kemiripan dan keserupaan dua hal tidak mengakibatkan hukum yang berlaku pada salah satunya pasti juga akan berlaku pada lainnya. Oleh karena itu, pola ini tidak berguna untuk memperoleh kepastian dan tidak bernilai ilmiah.

2. Penyimpulan yang berangkat dari partikular menuju universal, yaitu dengan menelaah individu-individu dari satu esensi dan menemukan bahwa semua individu berciri tertentu, lalu kita menyimpulkan bahwa ciri itu terdapat pada esensi dan muncul dalam semua individu. Dalam peristilahan logika, pola ini disebut dengan induksi. Ada dua jenis induksi: sempurna dan cacat.

Induksi sempurna mengasumsikan bahwa semua individu diperiksa dan suatu ciri khas teramati pada seluruh individu itu. Dalam praktiknya, biarpun kita bisa memeriksa seluruh contoh individual yang kini hadir, mustahil rasanya kita bisa memeriksa semua contoh individualnya di masa lalu ataupun maa depan. Setidak-tidaknya selalu terbuka kemungkinan adanya sejumlah contoh individual di masa lalu atau masa depan yang tidak teramati dalam suatu proses induksi. Adapun induksi cacat terjadi manakala sekian banyak contoh suatu esensi diamati dan ciri umum disematkan pada seluruh individunya. Pola penyimpulan intelektual ini nyata-nyata tidak membuahkan kepastian, lantaran selalu ada peluang, betapapun lemahnya, salah satu dari individu yang tidak teramati tidak berciri khas sama.

Oleh sebab itu, dalam praktiknya, natijah-natijah pasti dan meyakinkan tidak pernah diperoleh lewat induksi.

3. Penyimpulan yang berangkat dari universal menuju partikular, yaitu pertama-tama dengan membuktikan bahwa A merupakan predikat subjek universal tertentu dan berdasarkannya keputusan mengenai contoh-contoh partikularnya menjadi jelas sekali. Dalam peristilahan logika, pola penyimpulan ini disebut dengan qiyas (deduksi), yang selalu menelurkan kepastian sejauh (materi) premis-premisnya pasti dan bentuk deduksinya tepat. Para ahli logika telah menyediakan porsi besar dalam logika klasik untuk mengupas syarat-syarat material (kandungan) dan formal (bentuk) deduksi pasti, yang disebut dengan demonstrasi (burhan).

Terdapat satu keberatan masyhur yang ditujukan atas deduksi. Jika kita mengetahui hukum umum suatu subjek, ketetapan dan aplikasinya untuk seluruh contoh subjek itu pun pasti diketahui, sehingga penyusunan deduksi atas ketetapan hukum itu secara menyeluruh menjadi sia-sia. Para pakar logika menjawab: hukum dan keputusan hanya tertera secara singkat dalam premis mayor, dan hukum yang sama tertera secara terperinci dalam kesimpulan. Renungan terhadap soal-soal matematika dan cara-cara pemecahannya menunjukkan manfaat besar deduksi, lantaran matematika menggunakan metode deduksi. Dan kalau metode ini memang sia-sia, kita tidak akan dapat memecahkan soal-soal matematika berdasarkan pada prinsip-prinsip matematis.

Satu catatan mesti diketengahkan di sini, yaitu bahwa analogi dan induksi sebenarnya mengandung suatu bentuk deduksi yang tersembunyi. Tetapi, dalam kasus analogi dan induksi cacat, deduksinya tidak bisa dijadikan bukti dan tidak membuahkan kepastian. Seandainya tidak terdapat deduksi dalam analogi dan induksi, maka penyimpulan tidak pernah bisa dibuat, betapapun spekulatifnya proses penyimpulan itu.

Deduksi yang tersembunyi dalam analogi berbentuk sebagai berikut: hukum dan keputusan ini berlaku untuk objek-objek serupa; semua hukum yang berlaku untuk satu objek serupa, berlaku pula untuk seluruh objek serupa lainnya. “Perlu diingat bahwa premis mayor dalam deduksi analogis ini tidaklah pasti!”

Dalam induksi cacat, juga ada deduksi spekulatif yang sama, di dalamnya terdapat premis mayor yang diabaikan, seperti berikut: “Semua hukum yang terbukti berlaku bagi banyak individu suatu esensi, terbukti pula berlaku bagi seluruh individu esensi tersebut.” sekiranya induksi dianggap sahih melalui pola hitungan kementakan (probability calculus), ia tetap saja memerlukan suatu deduksi untuk bisa memberikan natijah. Demikian pula seluruh proposisi empiris memerlukan deduksi untuk dapat berlaku sebagai proposisi universal, seperti telah dijabarkan panjang lebar dalam teks-teks logika klasik.

Demikianlah, semua penalaran atas suatu masalah senantiasa bergerak dari yang universal menuju yang partikular. Terkadang ia dilakukan secara terang-terangan dan gamblang seperti dalam deduksi logis, dan terkadang dilakukan secara tersembunyi seperti dalam analogi dan induksi. Terkadang ia menelurkan keyakinan dan kepastian, seperti dalam deduksi dan induksi sempurna (kalau memang ada), dan terkadang ia tidak menelurkan keyakinan dan kepastian, seperti dalam deduksi retoris dan polemis atau analogi dan induksi yang cacat.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: