Cabang-cabang Ilmu


Dari penjelasan sebelumnya kita mengetahui bahwa klasifikasi ilmu bertujuan untuk sejauh mungkin memudahkan pengajaran dan menggapai cita-cita pendidikan. Pada saat ketika pengetahuan manusia masih terbatas, mudah saja membagi semua ilmu dalam beberapa kelompok. Umpamanya, pada zaman dahulu masih mungkin kita memandang zoologi sebagai ilmu tunggal dan bahkan mencakup masalah-masalah yang terpaut dengan manusia. Lambat laun, seiring dengan melebarnya lingkaran masalah, terutama sejak beragam perangkat ilmiah digunakan untuk penyelidikan soal-soal empiris, lebih dari lain-lainnya, ilmu-ilmu empiris terbagi-bagi ke dalam sekian banyak cabang, dan setiap ilmu dibelah menjadi ilmu yang lebih partikular. Dan laju proses ini kian hari kian meningkat.

Secara umum, subdivisi ilmu terjadi dalam beberapa pola berikut:

  1. Pola pertama berasal dari bagian-bagian kecil pokok masalah suatu ilmu sebagai keseluruhan, dan setiap bagian kecil pokok masalah itu menjadi cabang baru, seperti endokrinologi atau genetika. Jelas bahwa pencabangan semacam ini dikhususkan pada ilmu yang subjek ilmu dan pokok masalahnya mempunyai hubungan keseluruhan dan bagian-bagiannya.
  2. Pola lainnya terjadi ketika tipe-tipe yang lebih partikular dan kelas-kelas yang lebih terbatas diambil dari topik universal, seperti entomologi dan bakteriologi. Subdivisi semacam ini timbul dalam ilmu-ilmu yang hubungan antara pokok ilmu dan pokok masalahnya mempunyai hubungan universal dan partikular, bukan hubungan keseluruhan dan bagian-bagiannya.
  3. Pola lain terjadi manakala berbagai metode penelitian yang dijadikan ukuran sekunder menimbulkan cabang-cabang baru dari suatu ilmu induk, meskipun pokok masalah ilmu tersebut tetap terjaga. Hal ini terjadi pada masalah-masalah yang bisa diteliti dan dipecahkan melalui berbagai cara, seperti dalam teologi filosofis, teologi mistis, dan teologi religius.
  4. Pola lainnya terjadi bila berbagai tujuan dijadikan sebagai subkriteria, dan soal-soal yang sejalan dengan masing-masing tujuan diperkenalkan sebagai cabang tertentu dari ilmu induk, seperti telah disebutkan dalam kasus matematika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: