Definisi Filsafat


Mengingat filsafat setara dengan filsafat pertama atau metafisika, dengan subjek “maujud mutlak” (bukan maujud secara mutlak),a kita dapat mendefinisikannya sebagai berikut: ilmu yang membahas keadaan-keadaan maujud mutlak; atau ilmu yang memaparkan hukum-hukum umum kemaujudan; atau sehimpunan proposisi dan masalah menyangkut maujud sejauh ia adalah maujud. Beberapa ciri filsafat telah banyak diutarakan, terpenting dari mereka adalah sebagai berikut:

  1. Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris dan naratif, pemecahan masalah filsafat menggunakan metode rasional. Metode yang sama juga digunakan dalam logika, teologi, psikologi filosofis, dan sejumlah ilmu lain, seperti etika dan matematika. Oleh karena itu,  metode ini tidak khusus untuk filsafat pertama;
  2. Filsafat menangani penegasan (assertion) prinsip-prinsip pelbagai ilmu lain. Itulah sebabnya ilmu-ilmu lain membutuhkan filsafat sehingga ia disebut induk semua ilmu.
  3. Filsafat merupakan patokan manusia untuk memisahkan hal-ihwal yang benar-benar nyata dan hakiki dari hal-ihwal waham dan rekaan. Maka dari itu, tujuan utama filsafat terkadang dianggap untuk mengetahui hal-ihwal yang benar-benar nyata dan hakiki serta pemilahannya dari ilusi. Tetapi, sebaiknya hal itu diletakkan sebagai tujuan epistemologi.
  4. Konsep-konsep filsafat sama sekali tidak diperoleh lewat pancaindra atau pengalaman (indriawi), seperti konsep sebab dan akibat, niscaya dan mungkin, material dan mujarad. Konsep-konsep ini secara teknis disebut objek-objek sekunder yang terpahami secara filosofis (philosophical secondary intelligibles). Pada Bagian Epistemologi, istilah ini akan kita jelaskan lebih jauh.

Setelah mengamati ciri-ciri khas tersebut, mudah dimengerti mengapa soal-soal kefilsafatan hanya bisa dibuktikan dengan metode rasional, dan mengapa pula hukum-hukum filsafat tidak diperoleh dengan merampatkan (generalizing) hukum-hukum berbagai ilmu empiris.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a Pembaca harus teliti membedakan dua ungkapan ini: “maujud mutlak” dan “maujud secara mutlak” (al-maujud al-muthlaq wa laisa muthlaq al-maujud). “Maujud mutlak” adalah konsep maujud tanpa penyifatan, pembatasan, dan embel-embel apa pun. Itulah maujud abstrak yang universal. Sebaliknya, “maujud secara mutlak” adalah keseluruhan ragam dan pola maujud secara partikular, seperti Tuhan, batu, langit, dan akal—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: