Subjek dan Masalah Filsafat


Mengingat bahwa cara terbaik untuk mendefinisikan ilmu ialah dengan mencirikan (specify) subjeknya. Dan karena subjek itu mempunyai batasan atau ikatan, kita mesti mencermatinya dengan saksama. Kemudian, masalah-masalah ilmu itu kita perkenalkan sebagai proposisi-proposisi yang berkisar pada subjek tersebut. Pada sisi lain, pencirian dan pembatasan (qualifications) bergantung pada penentuan masalah-masalah yang ditujukan untuk menjabarkan suatu ilmu, sehingga sampai batas tertentu ia bergantung pada konvensi dan kesepakatan. Umpamanya, kalau kita perhatikan topik “maujud”, yang merupakan konsep paling umum untuk sesuatu yang hakiki, kita akan melihat bahwa subjek semua masalah hakiki berpayung di bawahnya. Dan jika kita menjadikannya sebagai subjek suatu ilmu, ia akan meliputi segenap masalah ilmu hakiki. Ilmu dengan subjek “maujud” inilah yang disebut sebagai filsafat dalam pengertian orang-orang kuno.

Pengajuan ilmu yang sedemikian mencakup (inclusive) ini tentunya tidak sejalan dengan tujuan klasifikasi ilmu. Untuk memenuhi tujuan tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali melihat subjek secara lebih terbatas. Para pengajar kuno membagi seluruh masalah teoretis dalam dua kelompok, masing-masingnya berkisar pada sehimpunan isu. Kelompok pertama disebut dengan fisika dan lainnya matematika. Kemudian masing-masing dari kedua kelompok ini dipecah-pecah lagi ke dalam ilmu-ilmu yang lebih partikular. Selain dua kelompok masalah teoretis tersebut, ada kelompok ketiga yang berkisar pada Tuhan, yang disebut dengan teologi (ma’rifat al-rububiyah). Kelompok keempat masalah-masalah intelektual teoretis berada di luar subjek-subjek yang telah disebutkan dan tidak terbatasi atau terikat pada subjek tertentu.

Tampaknya, lantaran nama atau istilah yang tepat untuk menyebut masalah-masalah dalam kelompok keempat yang didiskusikan setelah fisika ini tidak ditemukan, ia disebut saja dengan metafisika (setelah bagian fisika). Posisi persoalan ini terhadap persoalan ilmu-ilmu teoretis lainnya persis seperti posisi fisika elementer terhadap ilmu-ilmu alam lainnya. Dan sebagaimana subjek fisika elementer adalah “benda mutlak”, subjek metafisika adalah “maujud mutlak” atau “maujud qua maujud”. “Maujud mutlak” bukanlah subjek ilmu yang spesifik, dan karena itu ilmu dengan nama metafisika atau belakangan disebut dengan “ilmu universal” (‘ilm-e kulli).

Pada era Islam, masalah-masalah metafisika diasimilasikan dengan masalah-masalah teologi dan kemudian disebut dengan “ketuhanan dalam arti luas” (ilahiyyat bi al-ma’na al-‘am). Sewaktu-waktu, masalah-masalah lain, seperti Hari Kebangkitan dan sarana-sarana mencapai kebahagiaan manusia, bahkan masalah-masalah menyangkut kenabian dan keimanan dilampirkan padanya, sebagaimana dapat kita lihat pada bagian ketuhanan buku Al-Syifa, karya Ibn Sina. Jika semua masalah ini dianggap sebagai masalah-masalah utama suatu ilmu, dan tidak terjadi pemaksaan atau penyimpangan dalam kaitan ini, subjek ilmu ini mestilah diduga sangat luas. Menentukan satu subjek untuk beragam masalah serupa bukan soal mudah. Untuk itu, sejumlah upaya menentukan subjek tersebut dan menjelaskan bahwa semua predikat ini adalah ciri-ciri esensialnya (essential properties/ ‘awaridh dzatiyah) telah dilakukan, walaupun tidak begitu berhasil.

Demikianlah, ada tiga alternatif dalam konteks di atas: pertama, segenap masalah teoretis selain fisika dan matematika dipandang sebagai ilmu tunggal bersubjek tunggal; kedua, atau tolok-ukur dan kriteria kohernsi dan kemanunggalannya adalah kemanunggalan tujuan dan sasarannya; ketiga, setiap kelompok persoalan yang bersubjek tunggal dilihat sebagai satu ilmu, seperti soal-soal universal keberadaan, yang dibicarakan dalam “filsafat pertama atau utama” mengikuti salah satu makna khas “filsafat”.

Agaknya alternatif terakhirlah yang paling pas. Oleh karena itu, aneka masalah yang disodorkan sebagai filsafat dan hikmah dianggap mencakup beberapa ilmu terpisah. Dengan kata lain, kita akan mempunyai serangkaian ilmu kefilsafatan yang sama-sama bermetode rasional, tetapi istilah filsafat mutlak cuma akan kita terapkan pada “filsafat pertama”. Dan tujuan utama buku ini adalah memaparkan masalah-masalah filsafat pertama dalam pengertian di atas. Namun, lantaran pemecahan masalah-masalah ini bergantung pada persoalan pengetahuan manusia, mula-mula kita mesti membeberkan epistemologi, dan selanjutnya barulah kita meninjau masalah-masalah ontologi dan metafisika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: