Filsafat Ilmiah


Istilah ini dipakai dalam beberapa pola:

  1. Positivisme. Setelah mengutuk pemikiran filsafat dan metafisika serta menyangkal prinsip-prinsip rasional universal, Auguste Compte membagi ilmu-ilmu positif dasar dalam enam cabang utama, yang masing-masingnya mempunyai hukum-hukum khasnya, sebagai berikut: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan sosiologi. Dia menulis sebuah buku berjudul Course of Positive Philosophy dalam enam jilid, dan mengupas keseluruhan ilmu lipat-enamnya sejalan dengan apa yang disebut-sebut dengan metode positif. Tiga jilid buku itu ia khususkan untuk sosiologi. Walaupun demikian, filsafat positif ini bersandar pada klaim-klaim dogmatis nonpositif! Walhasil, kandungan buku berisi program penyelidikan pelbagai ilmu ini, khususnya ilmu-ilmu sosial, disebut dengan filsafat positif atau filsafat ilmiah.
  2. Materialisme Dialektik. Bertolak-belakang dengan para positivis, kalangan Marxis menitikberatkan kemestian filsafat dan keberadaan hukum-hukum universal. Namun, mereka mengira bahwa hukum-hukum ini diperoleh lewat perampatan hukum-hukum dari ilmu-ilmu empiris, bukan dari pemikiran rasional dan metafisika. Maka dari itu, mereka menyebut filsafat materialisme dialektik dengan “filsafat ilmiah”, lantaran, menurut klaim mereka, ia didapat dari capaian-capaian ilmu-ilmu empiris, kendati ia tidak lebih ilmiah ketimbang filsafat positivisme. Pada dasarnya, filsafat ilmiah (jika “ilmiah” dimaknai “empiris”) adalah suatu oxymoron,b seperti “pria lajang yang beristri”. Klaim-klaim mereka ini telah dikritik habis-habisan.
  3. Arti lain filsafat ilmiah ialah sinonim “metodologi”. Jelas bahwa setiap ilmu, bergantung pada jenis masalahnya, memerlukan metode penelitian dan verifikasinya sendiri. Misalnya, masalah-masalah sejarah tidak bisa dipecahkan di laboratorium melalui penguraian dan pencampuran berbagai unsur. Demikian pula, tidak ada filosof yang bisa menetapkan tahun ketika Napoleon menyerang Rusia dan apakah ia kalah atau menang dalam serangan itu melalui analisis dan penyimpulan filosofis. Soal-soal macam ini mesti diselesaikan melalui tinjauan dokumen-dokumen yang relevan dan evaluasi keabsahannya.

Secara umum, mengikuti metode penyelidikan dan penelitian untuk memecahkan pokok-pokok masalahnya, ilmu dapat dibagi menjadi tiga tipe ilmu-ilmu intelektual, ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu tuturan (narrative) dan sejarah.

Nah, metodologi adalah ilmu untuk menilik pelbagai corak dan tingkat ilmu, dan menentukan metode-metode khusus dan umum untuk ketiga tipe ilmu tersebut. terkadang ia disebut dengan filsafat ilmiah atau juga logika praktis.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


b oxymoron adalah gaya bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan bertentangan dalam satu susunan kalimat—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: