Ukuran-ukuran Etika


Kesadaran tentang situasi moral (menghadapi alternatif, tuntutan-tuntutan hidup, bahan-bahan kehidupan moral, pertimbangan tentang pendorong, sarana dan akibat) membawa kita kepada soal ukuran-ukuran etika.

Semenjak zaman Yunani Kuno dan orang Yahudi, manusia telah memikirkan prinsip-prinsipnya dan problem tentang mana yang benar dan mana yang salah. Pemikiran-pemikiran etika telah muncul dalam bermacam-macam bentuk dan penjelasan. Suatu penjelasan yang berpengaruh dan masih ada sampai sekarang di antaranya adalah: ukuran kenikmatan, kesenangan (pleasure), penjelasan Imanuel Kant, wakil formalisme yang sangat cakap, John Stuart Mill, penganjur utilitarianisme (mazhab manfaat) yang termasyhur, dan Plato, seorang humanis yang besar. Ukuran-ukuran etika yang lain menekankan hukum realisasi diri (self-realization) dan ideal keagamaan.

 

Kenikmatan sebagai Pedoman Etika

Teori-teori etika yang dinamakan teleological, yakni yang berdasar kepada maksud adalah teori yang menganggap suatu tindakan benar atau salah dalam hubungannya dengan maksud atau tujuan yang dianggap baik. Doktrin yang mengatakan bahwa kenikmatan atau kebahagiaan (happiness) adalah “baik” yang terbesar dalam kehidupan, ada tiga yaitu: Hedonism, Epicureanism dan Utilitarianisme.

Hedonism berasal dari kata Yunani “Hedona” yang berarti kelezatan. Epicureanism, nama yang dinisbahkan kepada Epicurus, seorang Yunani yang menyiarkan aliran kelezatan. Semenjak zaman Jeremy Bentham dan John Mill pada abad ke-19, yang terpakai adalah kata “utilitarianism”.

Menurut John Stuart Mill (1806-1873) utilitarianism menggunakan utility (manfaat) atau the greatest happiness (kebahagiaan yang terbesar) sebagai dasar moralitas. Karangan John Stuart Mill yang singkat tetapi sangat menarik, yaitu Utilitarianism yang membahas tentang filsafat moral, harus dibaca oleh setiap mahasiswa. Mill menerima pandangan Jeremy Bentham (1748-1832) yang menggunakan kata-kata “the greatest happiness of the greatest number” (kebahagiaan terbesar bagi jumlah yang terbesar). Bentham mengatakan bahwa alam telah menempatkan manusia di bawah tuntutan dua guru, yaitu kelezatan (pleasure) dan kesakitan (pain). Manusia adalah makhluk yang mencari kelezatan (pleasure seeking) dan menghindari rasa sakit (pain avoiding). Bentham menjelaskan teorinya dalam istilah: kuantitatif dan mengharap untuk membina etika kemanfaatan atas dasar ilmiah. Dalam menjawab kritik yang dilontarkan orang kepada sikap Bentham, Mill mengubah sikap tersebut dengan menambah unsur-unsur baru.

Perubahan terpenting yang dilakukan oleh Mill dalam aliran Utilitarianisme adalah dengan menambah ukuran kualitatif. Manusia dengan fikirannya yang tinggi tidak merasa puas dengan kelezatan jasmani. Manusia mencari kenikmatan yang lebih besar, yaitu kesenangan ruhani. Sekali seseorang hidup di tingkat yang tinggi, ia tidak akan mau turun lagi ke tingkat hidup yang lebih rendah. Hal ini adalah karena manusia mempunyai rasa dignity (harga diri). “Adalah lebih baik menjadi manusia yang tidak puas daripada menjadi seekor babi yang puas. Lebih baik menjadi Socrates yang tidak puas daripada menjadi orang bodoh yang puas”.

Mill mempertahankan Utilitarianisme dengan gigih terhadap dakwaan bahwa alirannya membantu tersiarnya sifat mementingkan diri sendiri (selfishness). Ia mengatakan bahwa kebaikan untuk semua dan kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi jumlah yang terbesar harus menjadi ukuran tentang tindakan yang baik. Karena kita hidup dalam masyarakat yang tidak adil. Pengorbanan itu bukannya tujuan; ia adalah sarana kepada kebahagiaan yang lebih besar untuk jumlah yang lebih besar. Walaupun tidak semua orang mencari kebahagiaan, namun mereka harus mencarinya. Untuk menambah jumlah kebahagiaan yang terbesar dan bukan kebahagiaan pribadi adalah sari dari pendapat Mill.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: