Makna Teknis “Ilmu”


Termasuk dalam ungkapan yang mempunyai penggunaan beragam dan campur-aduk adalah ‘ilm (ilmu atau sains). Makna harfiah ungkapan ini dan pelbagai sinonimnya, seperti danesy dan danestan, kiranys sudah sangat jelas, tidak lagi perlu dijelaskan. Akan tetapi, ilmu atau sains (‘ilm) juga mempunyai pelbagai makna teknis, dan di antara yang paling penting adalah sebagai berikut:

  1. Keyakinan tertentu yang sesuai (correspond to) dengan kenyataan, lawan dari kebodohan sederhana atau murakab (compound)a meskipun ia digunakan dalam satu proposisi.
  2. Himpunan proposisi yang dianggap berhubungan satu sama lain, meskipun sifat proposisi-proposisi itu personal dan spesifik. Dalam pengertian inilah, ilmu diterapkan pada ilmu sejarah (baca: pengetahuan tentang sejumlah peristiwa sejarah), geografi (baca: pengetahuan tentang kondisi-kondisi tertentu sejumlah kawasan di bumi), ilmu rijal (baca: pengetahuan tentang para perawi hadis) dan biografi.
  3. Himpunan proposisi universal yang berporos tertentu, tiap-tiap proposisi ini bisa diterapkan untuk sekian banyak contoh, meskipun himpunan proposisi itu bersifat konvensional. Dalam pengertian inilah, ilmu diterapkan pada hal konvensional sebagai lawan dari ilmu-ilmu “sejati” atau “hakiki”, seperti ilmu kosakata dan tata bahasa. Bagaimanapun, proposisi-proposisi personal dan khusus seperti di atas tidak terbilang sebagai ilmu dalam istilah ini.
  4. Himpunan proposisi-proposisi universal hakiki (bukan konvensional) berporos tertentu. Pengertian ini mencakup seluruh ilmu teoritis dan praktis, termasuk teologi dan metafisika, tapi tidak bisa diterapkan pada proposisi-proposisi personal dan konvensional.
  5. Himpunan proposisi-proposisi hakiki yang bisa dibuktikan dengan pengalaman inderawi. Dalam pengertian inilah para positivis menggunakan istilah ilmu, karenanya ilmu-ilmu dan pembelajaran non-empiris tidak dianggap sebagai ilmu atau sains.

Pembatasan istilah ilmu atau sains pada ilmu-ilmu empiris bukan soal yang perlu diperselisihkan, sebab hal itu semata-mata terkait dengan pembuatan istilah dan penentuan terminologi. Akan tetapi, dasar penentuan istilah ini oleh para positivis adalah pendapat yang membatasi lingkup pengetahuan hakiki dan pasti manusia pada hal-ihwal yang terindera (sensible) dan empiris. Tindak berpikir yang melampaui batasan itu mereka anggap sebagai tidak bermakna dan tidak berguna. Sialnya, makna inilah yang menyebar luas di seluruh penjuru dunia, yang menjadikan ilmu berhadap-hadapan dengan filsafat.

Bahasan seputar lingkup pengetahuan pasti manusia, sanggahan atas para positivis, dan bukti akan adanya pengetahuan hakiki di luar medan indra dan pengalaman, akan kita tunda pada Bagian Epistemologi. Selanjutnya, kita akan menjelaskan konsep filsafat dan metafisika.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).


a Kebodohan sederhana adalah ketidaktahuan subjek akan objek, sedangkan kebodohan murakab adalah persangkaan subjek bahwa ia mengetahui objek walaupun sebenarnya ia tidak mengetahuinya—M.K.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: