Hubungan Prinsip-prinsip, Subjek, dan Masalah Ilmu


Pada setiap ilmu terdapat serangkaian proposisi yang saling berhubungan. Dalam kenyataannya, sasaran pendek dan motivasi belajar serta mengajar ilmu itu ialah menganalisis proposisi-proposisi tersebut dan membuktikan keberlakuan predikat pada subjek ilmu itu. jadi, pada setiap ilmu subjek diasumsikan mewujud dan pelbagai predikatnya bisa dibuktikan sebagai bagian atau contoh individual dari subjek tersebut. karena itu, sebelum berurusan dengan pemaparan dan penguraian masalah-masalah suatu ilmu, kita perlu mengenal sederet hal berikut:

  1. Keapaan (mahiyah) dan konsep subjek;
  2. Keberadaan subjek;
  3. Prinsip-prinsip untuk memecahkan pelbagai persoalan ilmu tersebut.

Hal-hal tersebut adakalanya swanyata (self-evident) dan tidak memerlukan penjabaran dan penghayatan sehingga tidak ada kesulitan sama sekali; dan adakalanya pengetahuan mengenai hal-hal itu perlu dijabarkan dan dibuktikan. Misalnya, bisa saja keberadaan subjek (seperti ruh manusia) masih diperselisihkan, dan diduga bisa merupakan khayalan dan tidak nyata sehingga keberadaan sesungguhnya mesti dibuktikan. Juga, bisa saja terdapat keraguan seputar prinsip-prinsip pemecahan masalah dalam suatu ilmu, sehingga mestilah pertama-tama kita membuktikan prinsip-prinsip itu. kalau tidak demikian, semua simpulan yang diturunkan dari prinsip-prinsip tersebut tidak ada bernilai ilmiah dan melahirkan kepastian.

Soal-soal semacam ini diistilahkan dengan “prinsip-prinsip ilmu” (mabadi’ al-‘ilm), yang terbagi menjadi prinsip-prinsip konseptual (tashawwuri) dan prinsip-prinsip asertif (tashdiq). Prinsip-prinsip konseptual yang berisi pelbagai definisi dan penjelasan keapaan hal-hal dibahas ini biasanya tertera dalam pengantar ilmu bersangkutan. Adapun prinsip-prinsip asertif suatu ilmu kerapkali dibicarakan dalam ilmu-ilmu lain. Seperti telah kita singgung, filsafat setiap ilmu sebetulnya adalah ilmu lain yang menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip ilmu tersebut. Akhirnya, prinsip-prinsip paling umum semua ilmu dibicarakan dan diteliti dalam filsafat utama atau metafisika.

Di antara prinsip-prinsip itu ialah prinsip “kausalitas”, yang diandalkan oleh para pakar semua ilmu empiris. Pada dasarnya, segenap penelitian ilmiah dilakukan dengan penerimaan terlebih dahulu atas prinsip ini, lantaran semua penelitian berkisar pada penemuan hubungan-hubungan sebab akibat antar beragai gejala. Namun, prinsip dan hukum ini sendiri tidak dapat dibuktikan dalam ilmu empiris yang mana pun, dan pembahasannya dilakukan dalam filsafat.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: