Pendorong, Sarana dan Akibat Moral


Mencari jalan bertindak, memilih alternatif yang benar tidaklah selalu mudah. Jika terdapat konflik kepentingan, pemecahannya mungkin memerlukan kecerdasan yang besar dan kemauan baik, sehingga walaupun kita sudah mempunyainya kita mash ragu-ragu apakah kita telah bertindak betul atau tidak. Untuk memberi pertimbangan tentang tingkah laku kita perlu memikirkan pendorng, sarana dan akibat-akibatnya. Semua itu harus kita perhatikan.

 

Pendorong

Motif seperti telah dikatakan oleh Nabi Isa dan Kant· dan lain-lain adalah ketepatan (determination) yang pokok bagi moralitas. Suatu pendorong yang baik adalah syarat tingkah laku yang kita setujui sepenuhnya tanpa syarat. Jika terdapat niat baik dan sesuat tindakan berakibat jelek karena suatu faktor yang tak dapat diperkirakan, kita condong untuk tidak menyetujuinya tetapi dengan cara yang lebih lunak, serta mengatakan: Bagaimanapun, ia bermaksud baik. Jika orang bertanya: “Apakah yang benar dalam situasi ini?” biasanya niat mereka itu baik dan mereka berusaha untuk mencari jalan yang benar untuk melakukan tindakan itu.

 

Sarana

Mungkin terdapat beberapa motif untuk menginginkan sesuatu, begitu juga mungkin terdapat beberapa sarana untuk mendapatkannya. Kita mengharapkan seseorang untuk memakai cara yang sebaik-baiknya guna mencapai maksud. Kita mencela seorang mahasiswa yang menipu dalam ujiannya. Kadang-kadang kita menyetujui suatu tindakan yang dilakukan dengan sarana-sarana yang dalam kondisi lain harus dicela. Kita mengambil contoh seorang manajer teater yang mengetahui bahwa di belakang panggung terjadi kebakaran. Ia menyelamatkan para penonton dan ingat suatu peristiwa yang sama dan pernah terjadi; pada waktu itu penonton panik kebingungan dan berdesak-desak keluar. Akibatnya banyak yang menderita kecelakaan dan banyak pula yang mati. Manajer tadi mengumumkan di depan penonton bahwa pertunjukan harus dihentikan dengan dalih yang tidak benar. Ia bohong tetapi gedung itu menjadi kosong dan jiwa para penonton selamat. Anggapan bahwa sarana apa saja dapat digunakan dengan syarat bahwa tujuannya baik adalah suatu prinsip yang berbahaya; tetapi terjadi peristiwa-peristiwa di mana kebaikan maksud lebih kuat daripada cara jahat yang tak dapat dihindarkan. Biasanya akibat yang baik hanya dapat dicapai dengan cara yang baik. Sekali dipilih, sarana itu menjadi bagian dari efek umum suatu tindakan.

 

Akibat

Kita mengharap bahwa akibat-akibat tindakan yang baik akan baik juga. Biasanya jika orang-orang bertanya: “Apakah kebenaran itu?” mereka memikirkan akibat-akibat tindakan. Tindakan adalah baik jika ia didasarkan atas niat yang baik. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, kita mencela tindakan tersebut atau menyetujuinya dengan beberapa syarat (reservation). Jarang sekali kita menyetujui suatu tindakan jika hasilnya jahat. Dalam contoh seorang dokter yang melakukan pembedahan yang teliti terhadap seorang pasien, tetapi si pasien tadi meninggal. Walaupun segala usaha telah dilakukan untuk menyelamatkannya, kita menyetujui tindakan tersebut karena motifnya baik dan karena melihat pengetahuan yang ada pada waktu itu, kita mengira bahwa tindakan tersebut seharusnya akan membawa akibat yang baik.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


  • · Hadits Nabi: Innamal a’maa-lu bin-niyaat: “Sesungguhnya pahala baik itu karena niatnya.” (Hadits panjang).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: