Hubungan antara Subjek dan Masalah


Sejauh ini kita telah mengenal sejumlah istilah filsafat, dan kini saatnya menjelaskan pokok pembahasan buku ini: apa yang kita maksud dengan filsafat dan masalah-masalah apa yang akan kita perbincangkan dalam buku ini? Tetapi, sebelum menjelaskan filsafat, ada baiknya kita menguraikan lebih jauh tentang “subjek”, “masalah”, dan “prinsip” ilmu serta pertautan ketiganya.

Pada pelajaran-pelajaran lalu telah kita sebutkan bahwa istilah “ilmu”—menurut empat dari lima yang tercantum—berlaku pada kumpulan proposisi yang diduga saling bertautan. Lebih jauh, jelas sudah bahwa hubungan-hubungan yang berbeda memisahkan satu ilmu dari lainnya. Dan bahwa hubungan terdekat antara berbagai masalah sebagai standar pemilahan ilmu adalah relevansi subjek-subjek mereka. Dengan kata lain, pelbagai masalah yang bersubjek terdiri atas bagian-bagian keseluruhan atau partikular-partikular universal bisa membentuk satu ilmu. Oleh sebab itu, masalah-masalah ilmu terdiri atas proposisi-proposisi yang subjek-subjeknya berada di bawah payung topik induk (sebagai keseluruhan atau universal). Dan subjek ilmu adalah topik induk yang mencakup pelbagai masalah.

Di sini sebaiknya kita sebutkan bahwa mungkin saja satu topik menjadi subjek dua atau lebih ilmu, dan perbedaan ilmu satu dan lainnya terkait dengan perbeaan tujuan dan metode penelitiannya. Namun, butir ini tidak boleh diabaikan: adakalanya suatu topik diletakkan sebagai subjek mutlak suatu ilmu, padahal ia menjadi subjek ilmu itu secara terikat. Perbedaan ikatan ini kemudian mengakibatkan munculnya beberapa ilmu dan perbedaan di antara mereka. Misalnya, “materi”, ditinjau dari segi komposisi internal dan perpaduan serta penguraian unsur-unsurnya menjadi subjek ilmu kimia. Tetapi, ditinjau dari segi perubahan-perubahan lahiriah dan ciri-ciri khasnya, ia menjadi subjek ilmu fisika. Misal lainnya adalah “kata”: ditinjau dari segi perubahan konstruksinya ia menjadi subjek morfologi, dan ditinjau dari segi perubahan infleksina ia menjadi subjek sintaksis.

Oleh sebab itu, orang mesti berhati-hati apakah topik induk itu merupakan subjek suatu ilmu secara mutlak atau dengan ikatan dan batasan tertentu. Betapa sering suatu topik induk menjadi subjek ilmu secara mutlak, lantas dengan tambahan ikatan tertentu ia menjadi subjek ilmu-ilmu lain. Misalnya, dalam klasifikasi masyhur filsafat kuno, benda adalah subjek seluruh ilmu alam. lalu, ditambah beberapa ikatan, ia menjadi subjek minerologi, botani, zoologi, dan sebagainya. Mengenai pola pencabangan ilmu, telah kita singgung bahwa adakalanya mereka berasal dari pengetatan lingkup dan pembatasan subjek utama ilmu yang lebih umum.

Salah satu cara membatasi topik induk ialah dengan “menyempitkan kemutlakannya” (qaid al-ithlaq). Penjelasannya, dalam ilmu (yang lebih umum) pembicaraan berkisar pada prinsip-prinsip tetap dalam esensi subjek secara umum, atau secara mutlak, tanpa mempertimbangkan ciri-ciri khasnya. Pembicaraan mengena pada seluruh contoh individual subjek yang bersangkutan. Umpamanya, prinsip-prinsip dan ciri-ciri khas benda ditetapkan secara umum atau mutlak, apakah bersifat mineral atau organik, tumbuhan atau binatang (manusia). Subjek ilmu tersebut dapat kita tetapkan sebagai “benda mutlak”, yang nantinya bisa kita buat lebih sempit dan lebih ketat dalam ilmu-ilmu tertentu. Ahli-ahli hikmah (hukama) mengkhususkan bagian pertama fisika untuk mengulas prinsip-prinsip umum itu dengan nama al-sama al-thabi’i (fisika umum elementer) dan sama al-kiyan (astronomi umum elementer), baru setelah itu mereka mengkhususkan sekelompok benda untuk ilmu tertentu, seperti kosmologi, minerologi, botani dan zoologi.

Pola yang sama ini juga bisa berlaku pada sub-subbagian ilmu yang lebih partikular. Misalnya, masalah-masalah yang terkait dengan semua binatang dapat kita jadikan sebagai ilmu khusus yang subjek “binatang mutlak” atau “binatang sebagai binatang”. Lantas, hukum-hukum khusus untuk tiap-tiap binatang bisa dibahas dalam ilmu-ilmu yang lebih khusus pula.

Dengan cara seperti itu, benda secara umum menjadi pokok masalah (subject matter) dalam bagian filsafat kuno yang disebut sebagai “ilmu alam”, dan benda mutlak menjadi subjek bagian pertama fisika yang disebut dengan “fisika umum elementer”. Tiap-tiap (jenis) benda, seperti benda-benda kosmik, benda-benda tambang, dan benda-benda hidup, menjadi subjek kosmologi, minerologi, dan biologi. Lalu, benda hidup secara umum menjadi subjek ilmu biologi umum, dan benda hidup mutlak subjek ilmu yang membahas prinsip-prinsip segenap maujud hidup. Masing-masing jenis maujud hidup membentuk subjek cabang-cabang tertentu biologi.

Di sini, satu persoalan muncul: bilamana suatu prinsip terdapat pada beberapa jenis subjek universal dan tidak mencakup semuanya, dalam ilmu apa prinsip-prinsip semacam itu ditelaah? Misalnya, bila ada satu hal yang terdapat pada beberapa maujud hidup, ia tidak dapat dianggap sebagai sifat aksidental maujud hidup mutlak, karena ia tidak mencakup seluruh maujud hidup; pada sisi lain, membahasnya pada tiap-tiap ilmu bersangkutan akan menjadi pengulangan sia-sia. Jadi, di manakah seharusnya prinsip semacam itu diletakkan?

Jawabnya: biasanya masalah semacam ini ditelaah dalam ilmu yang bersubjek mutlak. Prinsip-prinsip subjek mutlak (al-‘awaridh al-dzatiyah, aksiden-aksiden esensial) didefinisikan sebagai berikut: suatu prinsip menyangkut esensi subjek sebelum ia terkena pembatasan dan pengetatan ilmu-ilmu partikular. Sebetulnya, kelonggaran definisi ini lebih baik daripada pengulang-ulangan masalah. Ihwal filsafat pertama atau metafisika, sebagian filosof menyatakan bahwa itu adalah ilmu yang membahas hukum dan aksiden yang ditetapkan pada maujud mutlak (atau maujud qua maujud), sebelum maujud itu dibatasi oleh pembatasan “alami” atau “matematis”.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: