Homonimitas


Dalam semua bahasa (sejauh yang saya ketahui), terdapat kosakata yang mempunyai makna harfiah yang umum diterima masyarakat dan makna teknis. Hal inilah yang disebut dengan homonimitas (kesekataan), al-isytirak al-lafzhi. Sebagai misal, dalam bahasa Persia, kata dusy mempunyai arti “tadi malam”, “pundak”, dan “mandi”, dan kata syir dipakai untuk “singa”, “susu”, dan “kran”.

Keberadaan homonimitas berperan penting dalam sastra dan sajak. Tetapi, dalam ilmu pengetahuan, utamanya dalam filsafat, ia melahirkan berbagai kesulitan. Khususnya apabila makna-makna yang berbeda itu sangat dekat satu sama lain hingga membedakannya menjadi pelik. Banyak kegalatan (kesalahan) timbul akibat homonimitas seperti ini, dan ada kalanya para pakar pun terjebak dalam perangkapnya.

Atas dasar itu, beberapa filosof besar, seperti Ibnu Sina, harus menjernihkan makna pelbagai istilah dan nuansa-nuansa perbedaan antara satu makna teknis dan makna teknis lainnya sebelum memulai perbincangan filsafat yang tepat, supaya kebingungan dan kegalatan dapat terelakkan. Untuk mengilustrasikannya, saya akan menyebutkan satu contoh homonimitas yang memiliki berbagai penggunaan yang kerap melahirkan seabrek kesalahpahaman, yaitu istilah jabr.

Makna harfiah jabr adalah menutupi atau membuang kekurangan. Selanjutnya, kata ini dipakai dalam artian “membalut tulang patah”. Mungkin ia mengambil makna kedua itu karena membalut luka adalah cara menutupi kekurangan. Boleh jadi, kata ini mula-mula dipakai untuk membalut luka kemudian dirampatkan (generalized) untuk semua tindakan menutupi semua jenis kekurangan atau kecacatan.

Makna ketiga kata ini adalah memaksa atau menekan seseorang. Mungkin ia mengambil makna ini akibat perampatan (generalization) atas kemestian tindak membalut tulang patah. Yakni, karena membalut tulang patah biasanya mengharuskan bagian yang patah untuk ditekan agar bisa benar-benar rapat, perampatan ini lantas mencakup semua tindakan orang untuk menekan pihak lain secara paksa. Mungkin saja mula-mula kata ini dipakai cuma untuk tekanan fisik lalu tekanan mental, dan akhirnya konsep ini direnggangkan hingga mencakup semua jenis perasaan tertekan, biarpun tidak diakibatkan oleh pihak lain.

Sampai di sini kita telah meninjau konsep jabr dari perspektif makna-makna harfiah dan yang umumnya diterima. Sekarang, kita akan memperkenalkan makna teknis ungkapan ini dalam ilmu dan filsafat.

Salah satu makna ilmiah jabr dipakai dalam matematika dalam arti kalkulasi yang menggunakan tanda-tanda atau huruf-huruf untuk menggambarkan atau mewakili angka-angka (aljabar). Boleh jadi makna ini dipakai karena dalam kalkulasi-kalkulasi aljabar kuantitas positif dan negatif saling menutupi (mengkompensasi) atau karena kuantitas yang tidak diketahui pada satu sisi persamaan menjadi diketahui dengan melihat pada sisi lain atau dengan mengalihkannya ke sisi lain, dan kesemuanya itu membawa makna harfiah jabr.

Makna teknis lainnya terkait dengan psikologi, dan dipakai sebagai lawan dari kehendak bebas. Serupa dengan makna itu adalah masalah “kehendak bebas dan determinisme” yang dikaji dalam teologi. Istilah ini juga dipakai dalam etika, hukum, dan fiqh. Penjelasan masing-masingnya akan terlalu panjang.

Sejak masa lampau konsep jabr (sebagai lawan kehendak bebas) dikacaukan dengan kepastian, keniscayaan, dan keniscayaan filosofis (al-wujub al-falsafi). Dalam kenyataannya, istilah jabr telah dirancukan dengan kepastian dan keniscayaan, dan “determinisme” sering dianggap sebagai padanannya dalam bahasa-bahasa asing (non-Arab dan Persia). Juntrungnya, terciptalah waham bahwa setiap kali ada keniscayaan (hubungan) sebab akibat, kehendak bebas tiada. Sebaliknya juga demikian: pengingkaran kepastian dan keniscayaan berarti peneguhan kehendak bebas.

Dampak waham ini kentara sekali dalam beberapa masalah filsafat. Umpamanya, para teolog terdahulu menyangkal keniscayaan kausal dalam kaitan dengan pelaku-pelaku berswakarsa (mukhtar). Buntutnya, mereka menuduh para filosof tidak meyakini Tuhan yang Mahasuci bersifat swakarsa. Pada sisi lain, par determinis (jabriyyun) meyakini adanya nasib tertentu sebagai dalil pendapat mereka. Di seberangannya, kaum Mu’tazilah yang meyakini kehendak bebas mengingkari adanya nasib atau takdir pasti. Padahal, jabr sama sekali tidak tersambit dengan soal kepastian takdir atau nasib. Semua gegap-gempita yang bersejarah panjang ini sebenarnya diakibatkan oleh tumpang-tindih antara konse jabr dan keniscayaan.

Contoh lainnya terjadi pada sejumlah fisikawan yang meragukan atau menyangkal keniscayaan kausal pada sejumlah fenomena mikrofisika. Nah, sementara ilmuwan Barat yang bertuhan mencoba membuktikan keberadaan kehendak Ilahi dengan menggunakan keraguan atau penyangkalan atas keniscayaan kausal pada sejumlah fenomena mikrofisis itu. Para ilmuwan ini berkhayal bahwa penafian keniscayaan dan penolakan atas determinisme dalam gejala-gejala di atas akan membuktikan keberadaan. Kekuasaan yang bebas berkehendak dalam mengatur mereka.

Walhasil, munculnya homonimitas, khususnya bilamana makna-maknanya saling berdekatan atau bermiripan, telah membawa pelbagai masalah dalam pembahasan-pembahasan filsafat. Kepelikan-kepelikan ini berlipat ganda manakala dalam satu ilmu terdapat satu istilah yang mempunyai banyak makna teknis, seperti istilah “intelek” (‘aql) dalam filsafat dan istilah “esensial” (dzat) dan “aksidental” (‘ardhi) dalam logika. Oleh sebab itu, jelas sekali kita mesti menjabarkan aneka rupa makna dan menentukan makna yang dituju dalam masing-masing pembahasan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: