Situasi Moral


Moralitas adalah suatu masalah bagi pelaku-pelaku moral, makhluk-makhluk yang bertindak, yang melakukan pilihan dan yang melakukan sesuatu secara sadar. Kehidupan kita sebagai pelaku-pelaku moral meminta sesuatu dari kita dan dengan begitu memberi kewajiban kepada kita, sehingga kita mempunyai kewajiban dan hak. Di dalam setiap makhluk yang normal terdapat pendorong yang berasal dari proses kehidupan itu sendiri dan mengarah kepada perkembangan serta pemenuhan hidup—moralitas muncul dari kehidupan dan hajat-hajatnya; ia muncul dari watak kita sendiri sebagai manusia dan dari watak dunia di mana kita hidup. Tuntutan-tuntutan kehidupan itu sendiri menghadapkan kita kepada alternatif-alternatif moral dan kita dapat mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut secara lebih baik jika kita mengetahui seluk beluk kehidupan moral.

 

Kehidupan Memajukan Tuntutan-tuntutan Kepada Kita

Marilah kita bicarakan tuntutan-tuntutan yang dihadapi pribadi-pribadi, yaitu tuntutan-tuntutan yang menyebabkan kota memilih alternatif-alternatif moral.

1. Tuntutan-tuntutan fisik. Terdapat kebutuhan-kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dengan jalan keputusan dan tindakan yang tepat. Jika seseorang hidup dengan cara tertentu ia akan tetap hidup dan sehat. Jika ia mengubah cara hidupnya, kehidupannya akan menjadi susah, ia mungkin mati. Seseorang memerlukan hawa yang segar, sinar matahari, temperatur tertentu, makan dan minum, gerak badan dan tidur jika ia ingin agar badannya berfungsi baik. Cara memenuhi hajat ini ditetapkan oleh watak anatomi dan fisiologi manusia serta kondisi lingkungan di mana seseorang hidup. Biasanya kita tidak memikirkan tentang soal-soal tersebut, sehingga terjadi sesuatu kesalahan dan kehidupan menderita karenanya; pada waktu itulah kita mengumumkan tuntutan-tuntutan kita: susu murni, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, ventilasi yang lebih baik dan lain-lain. Kita tak mempunyai kewajiban untuk merusak kesehatan kita atau hidup dengan cara yang merusak kesehatan kita. Kita mencela tindakan-tindakan yang menyebabkan penderitaan kepada diri kita atau orang lain. Kita menyetujui tindakan-tindakan yang memelihara atau memperbaiki kondisi bagi manusia.

2. Tuntutan-tuntutan psikologi dan sosial. Terdapat dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan pokok yang muncul dari keadaan psikologis dan kebutuhan-kebutuhan sosial. Dorongan-dorongan ini menampakkan diri dengan cara-cara yang sama di mana saja manusia hidup. Dalam tempat-tempat tersebut, kehidupan memajukan tuntutan-tuntutan kepada kita. Kemarahan, ketakutan, dengki, keresahan, menyebabkan penderitaan kepada tubuh dan condong untuk merusak kehidupan sosial. Hal-hal tersebut harus dijauhkan kecuali dalam keadaan-keadaan khusus di mana mereka mengingatkan atau membantu melawan kejahatan besar. Cinta dan niat baik akan berakibat baik bagi badan dan menambah kesejahteraan sosial. Beberapa sifat seperti mengalahkan kepentingan diri sendiri, persahabatan, kejujuran, keberanian, menguasai diri (self-control) merupakan sifat-sifat yang di mana-mana dipuji. Sifat-sifat lain seperti cinta diri, khianat, pembunuhan, pencurian dan penipuan selalu tercela. Yang pertama dinamakan keutamaan (virtue), yang kedua dinamakan kejahatan (vices). Pertimbangan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat kedua adalah orang jahat, bukannya pertimbangan buatan atau sewenang-wenang. Pembedaan tersebut didasarkan atas watak manusia dan tuntutan masyarakat.

Perorangan harus bergaul dengan teman-temannya dengan cara bermacam-macam. Hanya dengan usaha gotong royong mereka dapat memperoleh makanan, tempat berteduh serta perlindungan, begitu juga membentuk lembaga-lembaga seperti keluarga, sekolah, gereja dan negara. Dari interaksi sosial dan kerja sama timbullah adat kebiasaan, moralitas dan praktek kelembagaan. Aturan-aturan menjelma ke luar sebagai adat kebiasaan dan hukum, dan menjelma ke dalam sebagai rasa wajib, ekspresi persetujuan-persetujuan kita, untuk mengikuti adat kebiasaan dan tunduk kepada hukum. Kita mempunyai kewajiban moral untuk memenuhi kesanggupan kita kecuali jika hal-hal di luar dugaan menjadikan hal tersebut mustahil, untuk mengikuti adat kebiasaan kecuali jika kita yakin bahwa adat tersebut merusak kesejahteraan umum, untuk tunduk kepada hukum dan berusaha memperbaikinya. Tuntutan-tuntutan tersebut timbul dari watak manusia dan mengekspresikan diri dalam hubungan masyarakat.

3. Tuntutan spiritual dan intelektual. Ada tuntutan-tuntutan spiritual dan intelektual juga. Ada kewajiban moral untuk mendapatkan informasi tentang soal-soal penting dan untuk bertindak secara pandai sedapat mungkin. Kecerdasan-kecerdasan condong untuk menghemat waktu, tenaga bahkan menyelamatkan jiwa. Menjadi orang bijaksana (reasonable) berarti menjadi orang yang konsisten dan moderat. Orang-orang Yunani dahulu berpendapat bahwa akal harus dapat menguasai keinginan-keinginan; hanya dengan cara itu manusia dapat hidup secara memuaskan. Keyakinan tersebut telah diterima oleh pemikir-pemikir Kristen walaupun tidak ditekankan seperti cinta dan mengalahkan kepentingan diri sendiri; ia menjadi dasar dari peradaban Barat. Terdapat keyakinan yang universal yang mendapat ekspresi dalam sistem moral, dan keagamaan, bahwa kepuasan akal dan jiwa lebih diperlukan dan lebih langgeng daripada kepuasan badan.

Jika pengetahuan dan kecerdasan itu perlu bagi moralitas yang matang, hal tersebut tidak cukup. Kecerdasan sendiri tidak cukup karena orang yang cerdas kadang-kadang jahat; pengetahuan mungkin dipakai untuk maksud-maksud destruktif. Semua sistem etika dan kode moral yang besar yang dapat langsung hidup lama telah menekankan bermacam-macam interpretasi tentang cinta dan ksaih sebagai pokok moralutas. Cinta dapat mendorong kepada pengorbanan diri dalam keadaan tertentu. Kata-kata Nabi Isa yang sering dinamakan Aturan Keemasan, “Apa yang kau inginkan orang lain bertindak kepadamu, lakukanlah untuk mereka”, adalah sama dengan prinsip yang diajurkan oleh Confucius bagi orang Cina, dan hal yang sama telah diekspresikan dalam ajaran etika agama-agama besar.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: