Bahan-bahan Kehidupan Moral


Dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan alternatif moral, kita dapat mengambil faidah dari bahan-bahan pokok kehidupan moral.

Pertama, hidup itu adalah sedemikian rupa sehingga setiap orang harus selalu membuat keputusan. Ada keputusan yang remeh, tetapi ada pula yang begitu penting sehingga menentukan kehidupan kita seluruhnya. Pada umumnya keputusan dan tindakan kita mempengaruhi diri kita sendiri dan orang lain. Selain dari itu, kita membuat tuntutan bagi orang lain dan mereka membuat tuntutan terhadap kita. Sebagian dari tuntutan-tuntutan yang diakui orang, kita namakan hak dan kewajiban.

Kedua, untuk melaksanakan hidup kemasyarakatan yang teratur, kita harus memiliki pemahaman (understanding), prinsip-prinsip dan aturan tingkah laku. Tak ada masyarakat manusia yang tidak mempunyai kode yang kukuh dan aturan prosedur. Kita tidak dapat mengadakan pilihan antara memiliki atau tidak memiliki hal tersebut; kita hanya dapat menentukan apakah hal tersebut masuk akal dan sesuai dengan keperluan hidup dalam kondisi yang ada. Di antara persetujuan-persetujuan tersebut ada yang yang tidak kita sadari dan tersembunyi dalam adat kebiasaan dan tradisi kelompok serta kebiasaan perorangan; semuanya diterima tanpa difikirkan lebih dahulu. Sebagian lagi bersifat setengah kita sadari atau sepenuhnya kita sadari atau perlu didiskusikan. Sebagai contoh, jika dua orang setuju untuk mengadakan perjalanan bersama, mereka akan mengadakan persetujuan tentang soal-soal pokok seperti bila mereka akan berangkat dan bagaimana mereka akan bepergian. Bahwa salah satu dari mereka tidak akan mengajak keluarga isterinya, atau membawa anjingnya atau mengubah jam keberangkatannya tanpa persetujuan temannya adalah suatu persetujuan yang implisit dan tanpa disadari. Dalam perkawinan, dalam memanggil seorang dokter jika seseorang jatuh sakit, dalam membuat titipan dalam bank, di samping mungkin ada persetujuan formal, kebanyakan peraturan prosedurnya dianggap sudah diterima dan tidak ditonjolkan sampai sesuatu kejadian memaksakan untuk menjelaskannya. Jika kondisi dan keperluan hidup mengalami perubahan, persetujuan dan kode-kode dapat diubah atau diganti.

Ketiga, terjadi perkembangan atau evolusi moral sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan dan kelembagaan pada umumnya. Selama sejarah masyarakat manusia, ukuran moral telah berbeda dari adat-adat yang primitif yang dianut secara tidak sadar oleh orang-orang dahulu sampai kepada teori kehidupan orang modern yang sudah disusun secara rapi. Praktek moral dan ukuran-ukurannya bergantung kepada tingkat perkembangan sosial, tahap kecerdasan umum dan pengetahuan yang terdapat pada suatu waktu. Sekarang juga kita dapatkan kelompok manusia yang hidup dalam segala derajat perkembangan moral; terdapat kode primitif di samping ukuran moral yang lebih maju. Moralitas timbul dari hidup itu sendiri dan merupakan suatu usaha untuk menemukan dan menghayati kehidupan yang baik; yaitu kehidupan yang sehat, bahagia, berfaidah untuk masyarakat dan berkembang sepenuhnya.

Keempat, moralitas adalah bersatu dengan kehidupan itu sendiri; ia bukannya bidang atau tingkat hidup yang terpisah. Problema moral bukan sekadar problema moral, akan tetapi juga merupakan problema pribadi, sosial, ekonomi, politik dan internasional.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: