Pertimbangan Moral


Persoalan moralitas—apa yang benar dan apa yang salah—dalam hubungan antar manusia adalah persoalan pokok untuk zaman kita ini. Beberapa persoalan yang biasanya dikira lebih penting daripada soal tersebut di atas, umpamanya: Bagaimana manusia harus bersikap menghadapi teknologi, bagaimana bangsa-bangsa harus bertindak untuk memelihara perdamaian, dan persoalan hari kemudian dunia yang beradab, semua itu juga merupakan soal moralitas. Isu-isu moral dengan cepat telah menjadi perhatian kehidupan kemanusiaan. Pelajaran etika sekarang diberikan tidak hanya dalam kurikulum sekolah menengah tetapi juga dalam sekolah-sekolah profesional. Tabib, ahli hukum, para pendidik dan pamong praja berduyun-duyun mendatangi seminar tentang soal-soal moralitas. Adalah suatu kenyataan bahwa teknik dan kemampuan kita telah berkembang lebih cepat daripada pemahaman kita tentang apa yang kita anggap sebagai tujuan kita dan nilai-nilai. Barangkali perhatian yang telah diperbarui terhadap tujuan-tujuan tersebut akan membantu kita dengan jawaban-jawaban yang sangat kita perlukan untuk menjawab krisis dan keresahan yang merupakan bagian dari dunia modern.

Pribadi-pribadi selalu mengadakan pertimbangan terhadap tingkah laku mereka sendiri dan tingkah laku orang-orang lain. Ada tindakan-tindakan yang disetujui dan dinamakan benar atau baik. Tindakan-tindakan lain dicela dan dinamakan salah atau jahat. Pertimbangan moral selalu berhadapan dengan tindakan manusia, khususnya tindakan-tindakan mereka yang bebas, dari segi benar atau salah. Tindakan-tindakan yang tidak bebas, yang pelakunya tidak dapat mengontrol, jarang dihubungkan dengan pertimbangan moral, karena seseorang tidak dapat dianggap bertanggung jawab tentang tindakan yang tidak ia kehendaki.

Istilah moral atau etik mempunyai hubungan erat dengan arti asalnya. Istilah moral berasal dari kata Latin: moralis, dan istilah ethics berasal dari bahasa Yunani: ethos. Keduanya berarti: “kebiasaan atau cara hidup”. Istilah-istilah tersebut kadang-kadang dipakai sebagai sinonim. Sekarang, biasanya orang condong untuk memakai “morality” untuk menunjukkan tingkah laku itu sendiri, sedang ethics menunjuk kepada penyelidikan tentang tingkah laku. Kita berkata: “moral act” dan “ethical code”.

Istilah benar (right) dan baik (good) sering dipakai dalam etika dan perlu dijelaskan. Kata right berasal dari bahasa Latin rectus, yang berarti lurus. Dalam pemakaian biasa kata tersebut mengandung arti sesuai dengan suatu ukuran. Istilah “good” menunjuk kepada sesuatu yang mempunyai kualitas yang diinginkan, memuaskan suatu hajat dan bernilai untuk manusia. Banyak filosof yang mengatakan bahwa dalam bidang etika, benar atau salah itu tidak dapat diperas menjadi sesuatu yang lain dan hal tersebut dapat dimengerti secara langsung. Teori seperti tersebut di atas bertentangan dengan etika yang didasarkan atas nilai dan yang menjadikan kebaikan (goodness) sebagai konsep etika pusat. Teori-teori teleologi menopang pandangan bahwa tindakan yang benar harus memberi sumbangan kepada kebaikan manusia dan dunia.

Dalam moralitas dan etika terdapat beberapa permasalahan. Pertama, terdapat penyelidikan yang dinamakan etika deskriptif (descriptive ethics). Di situ kita mempelajari tingkah laku pribadi-pribadi atau personal morality; tingkah laku kelompok atau social morality; kita menganalisis bermacam-macam aspek dari tingkah laku manusia seperti motif, niat dan tindakan-tindakan terbuka. Pemeriksaan di sini hanya bersifat deskriptif tentang apa yang terjadi; ini harus dibedakan dengan etika normatif (normative ethics) yang mendasarkan penyelidikannya atas prinsip-prinsip yang harus kita pakai dalam kehidupan kita. Semenjak orang-orang Yunani kuno, prinsip-prinsip penjelasan sudah dibentuk dan teori etika sudah disusun. Plato menjelaskan pentingnya prinsip-prinsip tersebut semenjak lebih dari 2000 tahun yang lalu. “Karena engkau lihat, hai Callicles, bahwa diskusi kita adalah mengenai suatu subyek yang mendapat perhatian dari orang yang hanya mempunyai sedikit kecerdasan yaitu, cara hidup bagaimanakah yang terbaik”.[1]

Terdapat juga bidang etika kritik atau metaethics. Di sini perhatian dipusatkan kepada analisa dan arti dari istilah dan bahasa yang dipakai dalam diskusi, serta corak fikiran yang dipakai untuk membenarkan suatu pernyataan etika. Bidang ini mendapat perhatian yang besar pada akhir-akhir ini, akan tetapi melibatkan soal-soal teknik yang sulit. Kita akan lebih memperhatikan etika deskriptif—bahan-bahan dari situasi moral—dan etika normatif karena kita ingin membentuk ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk mempertimbangkan apakah suatu tindakan itu benar atau salah. Sudah bertahun-tahun orang mencoba membentuk ukuran bagi pertimbangan moral seperti kecondongan alamiah (natural inclination), pendapat umum, hukum, kekuasaan keagamaan, akal dan hati sanubari. Seringkali ukuran-ukuran itu bertentangan dalam hal semacam itu orang memerlukan tingkatan-tingkatan nilai yang dapat memimpinnya kepada keputusan moral yang memuaskan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Socrates dalam Gorgiasnya Plato, 500 SM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: