Skeptisisme Tahap Kedua


Selama berabad-abad, Gereja menebarkan pelbagai pandangan dan gagasan sejumlah filosof sebagai ajaran-ajaran agama, sehingga orang-orang Kristen menerima semua itu sebagai hal yang pasti dan suci, di antaranya adalah pandangan-pandangan kosmologis Ptolemius dan Aristoteles, yang lantas dijungkirkan oleh Copernicus, dan sarjana-sarjana tidak memihak lain juga menyadari kekeliruan pandangan-pandangan tersebut. Seperti telah kita sebutkan, perlawanan dogmatis dan perilaku keji otoritas-otoritas Gereja terhadap para ilmuwan justru memunculkan reaksi bermusuhan.

Perubahan dalam bermacam pemikiran dan keyakinan serta rontoknya tonggak-tonggak akal dan filsafat (pada Abad Pertengahan) melahirkan guncangan-guncangan jiwa pada banyak sarjana dan membersitkan keragu-raguan dalam benak mereka: Bagaimana kita bisa memastikan bahwa keyakinan-keyakinan kita lainnya tidak galat dan kegalatan itu suatu saat menjadi jelas (seperti dalam kasus ajaran-ajaran Kristen)? Bagaimana kita bisa tahu bahwa teori-teori ilmiah yang baru ditemukan tidak akan dikelirukan suatu hari nanti? Akhirnya, seorang sarjana terpandang bernama Michael Eyquem de Montaigne menuliskan: Bagaimana kita bisa yakin bahwa teori Copernicus tidak akan digugurkan di masa mendatang? Montaigne sekali lagi mengungkapkan keragu-raguan kalangan skeptik dan sofis dengan gaya baru, skeptisisme dibela, dan dengan demikian tahap baru skeptisisme mengemuka.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: