Kenikmatan dan Penderitaan


Ar-Razi memiliki satu buku atau makalah tentang kenikmatan. Dia telah menyebutkannya sendiri di dalam buku ath-Thib ar-Ruhani dan menamakannya dengan makalah Fi Mahiyah al-Ladzdzah.[1] Dari sini makin jelas bahwa ide ar-Razi tentang kenikmatan dan penderitaan telah dipengaruhi oleh pendapat Plato dalambuku Themes, baik melalui kajian langsung terhadap buku tersebut maupun melalui ringkasan Galenos terhadap buku tersebut.[2]

Kami belum mendapatkan buku atau makalah ar-Razi tentang kenikmatan, tetapi kami mendapatkan beberapa makalah pilihan darinya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Dan itu terdapat di buku Zad al-Musafir karangan Abu Muin Nashir bin Khasru bin Harits al-Qadiyani al-Balkhi al-Badkhasyani (wafat sekitar tahun 481 H), dan beliau terkenal dengan julukan Nashir Khasru. Paul Cruss telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab dan ia muat dalam buku Rasa’il Falsafiyah karangan Abu Bakar ar-Razi.[3]

Dalam pandangan ar-Razi, kenikmatan adalah rehat dari sebuah penderitaan, sehingga tidak ada kenikmatan kecuali setelah penderitaan. Menurutnya, kenikmatan adalah perasaan yang menyenangkan, sedangkan penderitaan adalah perasaan yang menyiksa. Perasaan adalah pengaruh inderawi pada orang yang melakukan penginderaan. Sedangkan pengaruh adalah tindakan si pemberi pengaruh terhadap orang yang terpengaruh; lalu keterpengaruhan adalah perubahan kondisi orang yang mendapatkan pengaruh.

Keadaan itu bisa bersifat alami, tetapi bisa juga bersifat supraalami. Menurut ar-Razi, jika orang yang mempengaruhi memindahkan orang yang terpengaruh dari keadaan alamiahnya, maka terjadilah penderitaan dan nestapa. Sebaliknya, jika si pemberi pengaruh mengembalikan lagi orang yang terpengaruh tadi ke keadaan alamiahnya, maka terjadilah kenikmatan.[4]

Oleh karena itu, penderitaan dan nestapa kerap terjadi pada orang yang terpengaruh ketika ia keluar dari keadaan alamiahnya. Sedangkan kenikmatan terjadi ketika ia kembali lagi ke keadaan semula atau kembali ke keadaan alamiah. Pasalnya, kenikmatan tidak akan terjadi kecuali setelah keluar dari keadaan alami yang di dalamnya terdapat penderitaan. Dengan demikian, kenikmatan adalah rehat dari penderitaan.[5]

Keadaan alamian tidak bersifat inderawi, karena penginderaan terjadi akibat pengaruh dari yang memberi pengaruh terhadap yang dipengaruhi dan memindahkannya dari keadaan semula. Pendeknya, keadaan alamiah adalah keadaan yang tidak berkaitan dengan keadaan yang lain, atau bukan karena perubahan dan bukan pula karena pengaruh. Oleh karenanya, ia menjadi tidak bersifat inderawi. Sementara, sesuatu yang tidak dicapai perasaan tidak akan menjadi kenikmatan atau penderitaan. Jadi, keadaan alamiah bukanlah kenikmatan atau penderitaan.[6]

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Ath-Thibb ar-Ruhani, h. 38.

[2] Rasa’il Falsafiyah, Abu Bakar ar-Razi, op.cit., h. 139-140.

[3] Ibid., h. 147-155.

[4] Ibid., h. 148-149.

[5] Ibid., h. 149-150.

[6] Ibid., h. 150-153.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: