Hubungan Akal dan Badan (2)


Untuk menghadapi penolakan-penolakan terhadap interaksionisme timbullah aliran paralelisme. Menurut aliran tersebut, tak ada interaksi atau hubungan sebab musabab antara dua bidang. Proses mental dan proses fisik, keduanya adalah nyata tetapi tak ada hubungan sebab musabab di antara mereka; yang ada adalah yang satu mendampingi yang lain dalam waktu.

Hubungan sebab musabab itu dapat diterima dalam bidang mental, karena suatu kejadian mental dapat menyebabkan kejadian mental lain. Hubungan sebab musabab juga dapat diterima dalam bidang fisik. Untuk menjelaskan hal tersebut, digambarkan dua kereta api yang masing-masing berjalan di samping lainnya di atas dua rel yang sejajar. Walaupun kedua kereta api itu paralel dan nampak bergerak bersama, pada hakikatnya mereka itu berjalan masing-masing menurut sistemnya sendiri dan tak terdapat hubungan sebab musabab di antara mereka.

Contoh yang klasik tentang pandangan ini adalah sikap filosof Leibniz (1646-1716). Baginya terdapat “preestablished harmony” (keserasian yang sudah diciptakan sebelumnya) dalam akal Tuhan dan penciptaan. Dua jam mungkin berjalan bersama-sama, dan menunjukkan waktu yang tepat, oleh karena telah diciptakan begitu rupa, sehingga mereka dapat berjalan dalam keserasian. Leibniz percaya bahwa dunia telah diciptakan dan diatur agar akal dan materi selalu dapat bekerja dalam harmoni. Jalannya alam ditentukan oleh kekuatan yang terdapat dalam masing-masing unsur.

Paralelisme tidak pernah mendapat dukungan luas seperti yang didapatkan oleh interaksi dan beberapa teori lain. Paralelisme nampak seakan-akan ia telah membelah dunia menjadi dua bagian, mengingkari adanya problem, dan bukan mencari penjelasan. Banyak pengalaman yang mendadak atau interupsi yang sukar diberi penjelasan atas dasar paralelisme; mengapa, jika bel pintu berbunyi, kita dengan spontan mengerti bahwa ada seorang di muka pintu? Jika kita sedang asyik di tengah-tengah rentetan fikiran-fikiran, kita merasa jengkel jika terjadi selaan yang tidak kita sukai. Selain dari itu, interupsi “paralelisme menjadikan akal itu tidak ada gunanya dalam evolusi dan perjuangan manusia secara fisik”. Kebanyakan kita percaya bahwa penilaian yang sungguh telah menghemat tenaga dan waktu, dan pemikiran telah menyebabkan kelainan yang besar dalam urusan-urusan dunia. Karena hal-hal tersebut maka dalam mencari penjelasan tentang hubungan antara akal dan badan, banyak yang terpaksa percaya kepada doktrin identitas akal dan badan.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: