Renaisans dan Perubahan Menyeluruh dalam Pola-Pikir


Sejak abad ke-14, landasan sebuah perubahan menyeluruh telah terbentuk lewat beragam faktor. Pertama, merebaknya nominalisme (kesejatian penamaan) dan pengingkaran atas keberadaan konseo-konsep universal di Inggris dan Perancis, yang berperan efektif menjatuhkan dasar-dasar filsafat. Kedua, percekcokan seputar filsafat alam Aristoteles di Universitas Paris. Ketiga, gemerutu ketakselarasan filsafat dan dogma-dogma Kristen, atau nalar dan agama. Keempat, mencoloknya perseteruan antara penguasa-penguasa masa itu dan otoritas-otoritas Gereja, dan antar-otoritas Gereja sendiri terjadi perselisihan yang berbuntut pada kemunculan Protestantisme. Kelima, menggilanya humanisme dan tendensi untuk berurusan dengan masalah-masalah kehidupan manusia, sembari mencampakkan masalah-masalah metafisika. Dan akhirnya, keenam, pada pertengahan abad ke-15, Kekaisaran Bizantium runtuh, perubahan utuh (secara politik, filosofis, kesusastraan, dan keagamaan) mencuat di seluruh penjuru Eropa, dan lembaga-lembaga kepausan diserang dari segala jurusan. Dalam keadaan ini, filsafat skolastik yang lemah itu pun menemui nasih akhirnya.

Pada abad ke-16, minat pada ilmu-ilmu alam dan empiris meningkat pesat, dan temuan-temuan Copernicus, Kepler, dan Galileo telah mengguncang dasar-dasar astronomi Ptolemius dan filsafat alam Aristoteles. Singkatnya, semua aspek perikemanusiaan di Eropa terganggu dan terguncang.

Lembaga-lembaga kepausan berhasil menahan gelombang-gelombang besar ini, dan para ilmuwan dihadapkan pada Inkuisisi karena penolakan mereka pada dogma-dogma agama, pandangan-pandangan tentang filsafat alam, dan kosmologi seperti yang diakui oleh Gereja berdasarkan tafsiran Injil dan ajaran-ajaran agama. Banyak ilmuwan yang kemudian dibakar hidup-hidup dengan alasan fanatisme buta dan kepentingan otoritas-otoritas Gereja. Bagaimanapun, pada gilirannya Gereja dan lembaga-lembaga kepausan dimundurkan dengan hina.

Perilaku fanatik dan beringas Gereja Katolik berekor pada sikap negatif masyarakat terhadap otoritas-otoritas Gereja, dan agama secara umum, serta kejatuhan filsafat skolastik, yaitu satu-satunya filsafat yang mengalir pada masa itu. Semua ini selanjutnya melahirkan kehampaan intelektual dan filosofis, dan akhirnya memunculkan skeptisisme modern. Selama proses ini, satu-satunya yang mengalami kemajuan adalah humanisme dan hasrat pada ilmu alam dan empiris di medan budaya, serta kegandrungan pada liberalisme dan demokrasi di medan politik.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: