Kemunculan Sofisme dan Skeptisisme


Pada abas ke-5 sebelum Masehi, dilaporkan adanya sekelompok sarjana yang dalam bahasa Yunani disebut dengan “Sofis”: orang bijak atau berilmu. Akan tetapi, biarpun berinformasi luas mengenai ilmu pengetahuan pada masanya, mereka tidak meyakini adanya kebenaran-kebenaran pasti. Juga, menafikan adanya sesuatu yang benar-benar diketahui secara pasti. Menurut laporan para sejarahwan filsafat, mereka ini adalah pengajar-pengajar profesional dalam (seni) retorika dan debat. Melatih para pengacara untuk terampil di pengadilan yang sangat dibutuhkan waktu itu adalah pekerjaan mereka. Profesi ini menuntut para pengacara untuk sanggup mengukuhkan sebarang klaim dan menolak segala klaim tandingan. Bergumul dengan pengajaran yang acap tercemar dengan penggalatan dan kerancuan berpikir (fallacy) pelan-pelan menyebabkan mereka berpola-pikir menolak mentah-mentah kebenaran di luar pikiran manusia!

Barangkali Anda pernah mendengar cerita seseorang yang bercanda mengatakan bahwa di rumah fulan bin fulan ada gula-gula yang dibagikan secara gratis. Dengan segala kepolosan, orang-orang bergegas menuju rumah si fulan dan berkerumun di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, dalam hati pembawa cerita ini muncul kecurigaan mengenai urusan ini, dan supaya tidak kehilangan kesempatan mendapat gula-gula gratis, dia pun berbaris bersama kerumusan orang-orang polos itu.

Naga-naganya, para sofis juga bernasih serupa dengan orang di atas. Dengan mengajarkan metode-metode yang sarat dengan kegalatan dan kerancuan demi meneguhkan atau menyangkal suatu klaim, perlahan-lahan kecenderungan-kecenderungan itu menulari pemikiran mereka sendiri, yakni pada dasarnya kebenaran dan kegalatan bergantung pada pikiran dan tidak ada kebenaran di luar kepala manusia!

Ungkapan “sofisme”, yang semula berarti orang bijak dan sarjana, lantaran disematkan pada orang-orang seperti di atas, keruan saja kehilangan makna dasarnya dan lambat-laun dipakai sebagai simbol dan isyarat bagi pola-pikir yang mengikuti penalaran menyesatkan. Dari ungkapan inilah, kata Arab sufisthi dan juga safsathah diturunkan.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: