Hubungan Akal dan Badan (1)


Watak akal dan hubungannya kepada otak barangkali merupakan problema yang sangat sulit; tetapi sangat menarik dan penting di antara problema yang dihadapi manusia.[1] Soal hubungan akal dan badan adalah soal yang tetap hangat yang ditanggulangi manusia semenjak berabad-abad. Dari zaman Descartes pada abad ke-17, problem tersebut sudah merupakan problem yang sangat penting. Pentingnya problema tersebut disebabkan karena pengaruh sains yang selalu bertambah, dengan keinginannya untuk melukiskan dunia dalam istilah-istilah kuantitatif atau matematika. Hal tersebut juga karena pengaruh aliran yang dimulai oleh Descartes yang telah membedakan secara tegas antara akal dan badan. Dualisme Descartes mendorong kita kepada kesulitan-kesulitan. Dalam pandangan bahwa akal dan badan itu merupakan substansi yang terpisah, bagaimana akal dapat menimbulkan perubahan dalam badan atau sebaliknya? Umpamanya saja tindakan menggerakkan tangan, atau menulis atau berjalan? Bagaimana sesuatu yang dinamakan akal dapat menimbulkan gerakan-gerakan fisik yang terdapat dalam perbuatan-perbuatan tersebut? Dan bagaimana sesuatu yang terjadi terhadap badan, umpamanya terlempar ke arah meja, dapat menimbulkan sesuatu yang bersifat mental, seperti rasa kesakitan?

Terdapat banyak interpretasi dan pemecahan soal-soal hubungan badan dan akal yang bermacam-macam, dari pemecahan-pemecahan yang merupakan pengingkaran akal atau pandangan materialisme yang menyeluruh, sampai kepada pendirian bahwa akal adalah realitas yang kukuh, sedang yang kita namakan materi adalah ilusi, produk sampingan dari akal atau kesadaran; namun kebanyakan penafsiran menjauhi sikap yang ekstrim. Ada anggapan yang merata bahwa akal dan badan itu merupakan kesatuan yang kompleks, akal manusia juga merupakan kesatuan yang kompleks, walaupun dibuat dari bahan lain yang mempunyai struktur yang berlainan pula”.[2]

Para paragraf-paragraf yang akan datang, beberapa jawaban tentang hubungan badan dan akal, dalam masa lalu sampai sekarang, akan kami sajikan.[3] Kami tidak berusaha untuk menyajikan segala macam pendapat atau menyebutkan mereka yang menyokong teori-teori tersebut.

 

Interaksionisme

Kita mulai dengan apa yang dapat dinamakan pandangan orang awam (common sense view) yang diterima secara luas, pandangan tersebut telah masyhur dalam diskusi-diskusi filsafat semenjak zaman Descartes. Dalam membicarakan tentang pandangan bahwa akal itu merupakan substansi, kita telah melihat bahwa Descartes mengadakan pemisahan yang jelas antara akal dan materi. Akal adalah suatu substansi yang sifat pokoknya adalah keluasan (extension). Penyajian Descartes ini adalah ekspresi dari pandangan orang awam. Kita tidak perlu menerima filsafat Descartes atau formulasinya tentang hubungan akal-badan, sekadar untuk menerima interaksionisme.

Menurut interaksionisme, di samping hubungan sebab musabab fisik, dan hubungan sebab musabah jiwa, akal dapat menyebabkan perubahan-perubahan dalam badan, dan perubahan badan dapat menimbulkan efek mental.

Diagram di bawah ini menggambarkan hubungan tersebut.[4]

 

Banyak orang yang merasa terkesan oleh yang mereka anggap sebagai hubungan sebab musabab atau hubungan timbal balik antara proses mental dan badan. Kondisi fisik kita mempengaruhi keadaan mental kita; perubahan-perubahan badan mempengaruhi pandangan mental kita. Penyakit dalam otak mempengaruhi kehidupan mental dan fikiran kita. Suatu pukulan kepada kepala kita atau uap chloroform mungkin menyebabkan kita akan kehilangan kesadaran. Pengaruh mental dari obat bius, alkohol dan kopi telah diakui hampir oleh seluruh dunia. Jika pencernaan atau pembuangan kotoran badan terganggu orangnya menjadi sedih. Biasanya kita tidak dapat berfikir secara jernih atau berkonsentasi kecuali jika proses badan kita berjalan lancar. Lebih dari itu, jika otak dan sistem syaraf kita berkembang baik, kekuatan akal kita juga bertambah.

Pengalaman mental juga mempengaruhi proses badan kita. Sesuatu ide menarik kita, kita menjadi bersemangat dan melakukan aktivitas yang berat. Keresahan jiwa dapat mengganggu kesehatan. Ketakutan menyebabkan jantung dan anggota badan lainnya bereaksi. Marah atau tenaga mental yang biasa dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Telah terdapat keyakinan yang makin bertambah, khususnya dalam dunia kedokteran, bahwa kondisi mental dapat menyebabkan penyakit organik atau fungsional, dan bahwa daya tahan terhadap penyakit dapat dipengaruhi oleh keadaan mental. Untuk mengatakan bahwa gigi akan menjadi rusak lebih cepat jika seseorang selalu mengalami emosi. Dahulu hipnotisme dipakai untuk bius (anesthesia), untuk menyembuhkan alkoholisme dan mengontrol proses dan gerak-gerik. Kulit seorang pasien yang sudah dihipnotis melepuh pada waktu yang melakukan hipnotisme memberitahu kepadanya bahwa ia sedang terbakas; padahal logam yang menyentuh kulitnya itu dingin, tidak panas.[5]

Meskipun sudah banyak buktinya serta sudah mendapat dukungan yang luas, teori interaksionisme mendapat kritik yang tajam. Terdapat pertanyaan-pertanyaan di sekitar: bagaimana dua substansi yang berlainan wataknya dapat mengadakan interaksi (pengaruh timbal balik), suatu hubungan sebab musabab antara perubahan dalam otak atau sistem syaraf dan gerak otot dapat dimengerti. Tetapi hubungan sebab musabab antara suatu ide dan gerak fisik sukar dimengerti. Dua bidang ini nampak masing-masing berdiri sendiri dan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self-sufficient).

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] J. R. Smythies, “Brain and Mind”, The Twentieth Century 159 (1963): 462.

[2] Gilbert Ryle, The Concept of Mind, hal. 18.

[3] Dua kumpulan makalah dalam soal ini adalah penting: Mind/Brain Identity Theory, C. V. Borst (ed.) (London: Macmillan, 1970), dan Materialism and the Mind/Body Problem, David M. Rosenthal (ed.) (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1971).

[4] Dalam tiap-tiap diagram, bundaran putih menunjukkan mental atau akal; bundaran hitam menunjukkan fisik atau badan; X menunjukkan hal yang tidak dimengerti; dan garis-garis menunjukkan hubungan sebab musabab.

[5] Aldous Huxley, Ends and Means (New York: Harper, 1937), hal. 299.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: