Idealisme Objektif


Seperti telah saya isyaratkan, setelah era Renaisans, tidak muncul satu pun sistem filsafat yang tangguh, namun beragam aliran dan pandangan filsafat terus-menerus lahir dan mati. Jumlah serta ragam aliran dan “isme” meningkat tajam sejak permulaan abad ke-19. Dalam tinjauan singkat ini, tidak terluang kesempatan untuk menyebutkan mereka satu per satu, karenanya kita hanya akan sesingkat mungkin menyebutkan sebagian mereka.

Setelah Kant (dari akhir abad ke-18 sampai medio abad ke-19) sejumlah filosof Jerman menjadi terkenal, dan gagasan-gagasan mereka kurang-lebih bermuara pada pemikiran Kant. Kalangan ini berupaya menutupi titik-titik lemah dalam filsafat Kant dengan menggunakan sumber-sumber mistik. Kendati pandangan mereka berbeda-beda, mereka umumnya beranjak dari sudut-pandang pribadi untuk menjelaskan wujud dan kemunculan keberagaman (multiplicity) dari kemanunggalan secara puitis, dan mereka disebut dengan “Para Filosof Romantis”.

Di antara mereka adalah Johann Gottlieb Fichte, yang secara pribadi adalah murid Kant dan sangat tertatik pada ide kehendak bebas. Dari berbagai pandangan Kant, dia sangat menitikberatkan kesejatian moral dan nalar praktis. Katanya, “Nalar teoritis melihat sistem alam sebagai keniscayaan, tapi di dalam diri kita ada kebebasan dan kehendak untuk bertindak swakarsa, dan ada kesadaran yang merancang sistem yang harus kita realisasikan”.

Kecenderungan terhadap kebebasan inilah yang mendorong Fichte dan para romantis lain, semisal Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling, untuk menerima sejenis idealisme dan kesejatian ruh (yang salah satu karakteristiknya adalah kebebasan). Paham pemikiran ini lantas dikembangkan lebih jauh oleh G.W.F. Hegel, dan relatif menjadi sistem filsafat yang koheren, dan disebut dengan idealisme objektif.

Hegel, yang hidup semasa dengan Schelling, mengkhayalkan dunia sebagai tumpukan pikiran dan ide sang ruh mutlak. Antara ruh dan pelbagai pikiran atau ide itu terjalin hubungan logis, bukan hubungan kausal seperti diyakini oleh para filosof lain.

Menurut Hegel, ide-ide mengalir dari kemanunggalan menuju keberagaman, dari keumuman menuju kekhususan. Pada tingkat awal, ide paling umum, ide “wujud”, mengemuka, dan dari dalamnya, kebalikannya, yaitu ide ketiadaan, muncul. Lalu, keduanya membaur dan membentuk ide “menjadi” (becoming). Menjadi, yang merupakan sintesis wujud (tesis) dan tiada (antitesis), pada gilirannya menempati posisi sebagai tesis, dan lawannya muncul dari dalamnya, dan dari pembauran keduanya muncul sintesis. Proses ini terus berlangsung hingga mencapai konsep paling khusus.

Hegel menyebut proses lipat tiga (triadik) ini sebagai “dialektika”, dan dia mengkhayalkan sebagai hukum universal bagi kemunculan semua gejala mental dan objektif.

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: