Filsafat Skolastik


Setelah tersebarnya agama Kristen dan bergabungnya kekuasaan Gereja dengan Kekaisaran Romawi, pusat-pusat pembelajaran berada di bawah pengaruh aparat pemerintahan sedemikian sehingga pada abad ke-6 M (seperti telah disebutkan) universitas-universitas dan sekolah-sekolah di Athena dan Aleksandria ditutup. Periode yang berlangsung seribu tahun ini disebut dengan Abad Pertengahan dan dicirikan dengan dominasi Gereja atas pusat-pusat pembelajaran dan program-program sekolah dan universitas.

Di antara tokoh terpandang pada era ini adalah Santo Agustinus. Dialah orang yang mencoba menggunakan prinsip-prinsip filsafat, utamanya pandangan-pandangan Plato dan Neo-Platonis, untuk menjabarkan dogma-dogma Kekristenan. Sesudahnya, beberapa wacana filsafat dimasukkan dalam program sekolah. Akan tetapi, sikap terhadap pemikiran Aristoteles tidak bagus, lantaran dikira menentang ajaran-ajaran agama dan pengajarannya dilarang. Seiring dengan berkuasanya kaum Muslim atas Al-Andalus (Spanyol) dan merembesnya pemikiran Islam ke Eropa Barat, ide-ide para filosof Muslim seperti Ibn Sina (Avicenna) dan Ibn Rusyd (Averroes) kurang-lebih menjadi bahan perbincangan. Para sarjana Kristen berkenalan dengan pandangan-pandangan Aristoteles melalui buku-buku para filosof Muslim tersebut.

Lambat-laun, anggota-anggota Gereja tidak lagi sanggup menangkal gelombang pemikiran filsafat ini, dan akhirnya Santo Thomas Aquinas menerima sebagian besar pandangan filsafat Aristoteles seperti terpapar dalam buku-bukunya. Berangsur-angsur perlawanan terhadap Aristoteles memudar, bahkan kemudian mendominasi beberapa pusat pembelajaran.

Alhasil, di Abad Pertengahan, filsafat tidak senantiasa berkembang di negeri-negeri Barat, adakalanya ia juga mengalami masa kemunduran. Berbeda dengan di Dunia Islam, tempat tumbuh dan makin kayanya ilmu dan pembelajaran secara berkelanjutan, wacana-wacana yang diajarkan di sekolah-sekolah Eropa yang berafiliasi ke Gereja, yang kemudian disebut dengan filsafat skolastik, adalah yang bisa dipakai membenarkan dogma-dogma agama Kristen—dogma-dogma yang sebetulnya tidak bebas dari penyimpangan. Tidak syak lagi, filsafat semacam ini tidak punya nasib kecuali kematian dan kemusnahan.

Dalam filsafat skolastik, selain logika, teologi, etika, politik, dan sebagian bahasan filsafat alam dan astronomi yang diterima Gereja, perbincangan tentang tata bahasa dan retorika juga terserap dalam kurikulum. Dan dengan begitu, filsafat pada periode ini punya cakupan cukup luas (dibandingkan sekarang).

(Sumber: M. Taqi Mishbah Yazdi. (2003).  Buku Daras Filsafat Islam. Bandung: Mizan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: