Tentang Jiwa


Dalam buku ath-Thibb ar-Ruhani, ar-Razi menyebutkan pendapat Plato tentang jiwa.[1] Menurut ar-Razi, manusia memiliki tiga jiwa, yaitu an-Nafs an-Nathiqah al-Ilahiyah (Jiwa yang bersifat rasional dan Ilahiah), an-Nafs al-Ghadhabiyah wa al-Hayawaniyah (Jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan), dan an-Nafs an-Nabatiyah wa an-Namiyah wa asy-Syahwaniyah (Jiwa yang bersifat vegetatif, tumbuhan dan syahwat).

Jiwa hewani dan vegetatif merupakan bagian dari jiwa rasional. Jiwa vegetatif berfungsi untuk memberi makan pada badan yang berkedudukan sebagai alat dan perangkat jiwa rasional. Karena badan terdiri dari substansi yang bersifat cair dan mengalami kerusakan, maka agar dapat bertahan ia membutuhkan makanan untuk mengganti yang rusak.

Sedangkan fungsi jiwa emosi adalah membantu jiwa rasional untuk melawan syahwat dan mencegahnya agar tidak menyibukkan jiwa rasional dengan berbagai syahwat sehinggai mengabaikan fungsi dasarnya, yaitu rasio yang bila digunakan dengan cara yang efektif dan sempurna, maka akan memungkinkannya untuk membebaskan diri dari badan.

Jiwa emosi adalah sejumlah kelenjar jantung yang menjadi sumber panas dan detak jantung. Sementara jiwa syahwat adalah sejumlah kelenjar hati yang menjadi sumber makanan, pertumbuhan, dan perkembangan manusia. Kumpulan kelenjar otak adalah alat atau perangkat yang digunakan oleh jiwa rasional, karena sesungguhnya indera, gerak keinginan, imajinasi, berpikir dan mengingat bersumber dari otak.

Ar-Razi menyebutkan ide Plato yang menyatakan bahwa manusia harus berusaha mempelajari kedokteran fisik, yaitu kedokteran yang telah dikenal banyak orang; serta kedokteran ruhani, yaitu kemampuan berargumentasi dan berdalil dalam memperbaiki jiwa-jiwa tersebut agar keinginan terhadapnya tercapai dan tidak ada pelanggaran.[2]

Jiwa vegetatif dianggap kurang jika ia tidak memberi makan tubuh dan tidak menumbuhkannya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sebagaimana yang dibutuhkan tubuh. Sebaliknya, ia dianggap berlebihan jika melanggar dan melampaui kebutuhan tubuh sehingga tubuh tenggelam dalam kenikmatan dan syahwat. Sedangkan jiwa emosi dianggap kurang jika ia tidak memiliki kekuatan pelindung, perisai, dan senjata yang memungkinkannya untuk melawan nafsu syahwat. Sebaliknya, ia dianggap berlebihan jika mengandung unsur kesombongan, cinta kemenangan, penguasaan, dan pemaksaan terhadap manusia dan hewan.

Selanjutnya, jiwa rasional dianggap kurang jika tidak tergerak untuk meneliti, memikirkan, mengamati dan mengerahkan rasa ingin tahu terhadap alam beserta isi yang terkandung di dalamnya, terutama pengetahuan tentang tubuh dan keadaan tubuh sekarang ini dan setelah kematian. Jika jiwa rasional tidak memiliki rasa ingin tahu akan berbagai hal, maka itu akan membuat manusia seperti hewan, yang sama sekali, tidak berpikir dan mengingat.

Sebaliknya, jiwa rasional dianggap berlebihan jika manusia dikuasai oleh pikiran tentang hal-hal di atas dan sejenisnya, sehingga tubuh tidak mendapatkan makanan, tidur, dan kebutuhan lain untuk mengembangkan kelenjar otak dalam keadaan sehat, lantaran kecapaian mencapai pengetahuan yang diinginkan dalam waktu sesingkat mungkin. Padahal hal itu dapat menimbulkan kerusakan kelenjar tubuh sehingga ia mengalami was-was dan melankolia.

Sesungguhnya manusia, ketika hidup di dunia, semenjak lahir sampai usia tua, amat cukup menggunakan pikirannya untuk meneliti makna-makna yang kami sebutkan tadi. Hanya saja, kebanyakan dari mereka malah menistakan dan membenci tubuhnya serta tahu bahwa jiwa yang sensitif selalu dalam keadaan tersiksa dan nestapa selama bergantung pada tubuh. Itu sebabnya, mereka memilih meninggalkan fisik dan membebaskan diri darinya. Nah, jika jiwa berpisah dengan tubuh dan ia mendapatkan dan meyakini makna-makna tersebut, maka di dalam dunianya ia tidak ingin bergantung kepada tubuh dan tetap hidup, menggunakan rasio, tidak mati dan menderita, serta bertahan di tempat dan kedudukannya.

Ar-Razi memandang bahwa kehidupan setelah kematian, baik dalam keadaan terpuji maupun tercela, sangat bergantung pada perilaku manusia saat jiwanya berada di dalam tubuh ketika masih hidup di dunia. Dia juga menyatakan bahwa manusia tidak pernah diciptakan untuk mendapatkan kenikmatan fisik, melainkan untuk mencari ilmu dan memanfaatkan keadilan yang menjadi syarat kebebasan dari dunia menuju alam yang tidak mengenal kematian dan penderitaan. Sesungguhnya tabiat dan hawa nafsu mengajak manusia untuk mengedepankan kenikmatan yang ada, sedangkan akal sering mengajak manusia untuk meninggalkan kenikmatan lantaran beberapa hal yang ia utamakan atas kenikmatan.[3]

Oleh karena itu, orang yang berakal tidak boleh tunduk pada kenikmatan dunia yang sewaktu-waktu terputus karena kematian, tetapi ia harus berusaha mencapai kenikmatan abadi yang tidak pernah putus dan tidak berujung d dalam setelah kenikmatan lantaran di sana tidak ada kematian.[4]

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Ath-Thibb ar-Ruhani, op.cit., h. 27-30.

[2] Ibid., h. 29.

[3] Abu Bakar ar-Razi, Kitab as-Sirah al-Fadhilah, dimuat dalam buku Rasa’il Falsafiyah, op.cit., h. 101-102.

[4] Ibid., h. 101-103.

2 Tanggapan to “Tentang Jiwa”

  1. it appears that you have placed a lot of effort into your article and i require more of these on the net these days. i only wanted to comment to reply wonderful work. lista de email lista de email lista de email lista de email lista de email

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: