Masa Al-Ghazali


Perkembangan situasi ilmu dan politik di zaman al-Ghazali tidak berbeda dengan zaman Ibnu Sina. Secara de facto, para khalifah Abbasiyah telah kehilangan kekuasaan terhadap negara sejak abad ke-5 Hijriah. Bani Saljuk menguasai kendali pemerintahan negara, bintang Bani Fathimiyah di Mesir sedang naik, dan wibawa para wakil khalifah di Damaskus dan Halaba merebak hingga menyamai wibawa para khalifah di Baghdad.

Melemahnya kekuasaan para khalifah di Baghdad mengakibatkan kekuasaan wilayah para gubernur semakin berkurang; persaingan dan perseteruan di antara mereka semakin meningkat; kekacauan di dalam negeri semakin merebak; perampokan dan tindak kejahatan semakin mewabah.

Faktor terpenting yang menimbulkan kekacauan pada abad ke-5 Hijriah adalah merebaknya gerakan kaum bathiniah yang menimbulkan perang saudara di dalam negeri. Mereka mulai menguasai benteng dan markas pertahanan, merampok di jalan-jalan, membunuh, merusak, dan menyebarkan ketakutan di semua tempat.

Bersamaan dengan itu, pasukan Salib memasuki Syam dan menguasai Kudus pada tahun 492. Pasukan Salib melakukan pembunuhan besar-besaran di Kudus dengan membunuh para lelaki, menawan wanita dan anak-anak, dan merampas harta.

Krisis psikologis yang menimpa al-Ghazali, sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya, terjadi pada masa-masa itu. Ada dua gerakan yang meluas pada masa itu, yaitu gerakan ilmu kalam dan tasawuf. Ilmu kalam berubah menjadi arena pertarungan pemikiran dan politik antara kaum Asy’ariyah dan kaum Mu’tazilah, dan antara mazhab Hanbali dan mazhab-mazhab fiqih lainnya. Akibatnya, perseteruan di antara mereka semakin meningkat, perang saudara semakin sengit, dan kekacauan mereka di seluruh penjuru negeri. Sangat mungkin kacaunya situasi sosial politik di dalam negeri pada abad ke-5 Hijriah turut mendukung perkembangan gerakan tasawuf dan menciptakan kedudukan dan kehormatan bagi kaum sufi.[1]

Al-Ghazali yang berorientasi tasawuf dan memandang tasawuf sebagai metode yang benar untuk memperoleh pengetahuan sejati berpengaruh besar dalam memperkokoh sendi-sendi tasawuf dan membesarkan namanya.

(Sumber: M. Utsman Najati. (2002). Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim).


[1] Umar Farwakh, Tarikh al-Fikr al-‘Arabi, op.cit., h. 463-467; Albaron Karadifo, al-Ghazali, loc.cit., h. 35-44.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: