Teori-teori Tentang Akal (2)


Akal adalah Kumpulan dari Pengalaman: David Hume

Pada abad ke-18, David Hume merupakan kritikus yang tajam terhadap pandangan tradisional tentang akal sebagai substansi yang terpisah. Sebelum zamannya Kant, Hume sudah menyerang dualisme Plato dan Descartes. Tetapi Hume tidak berpendapat bahwa terdapat kesatuan pribadi atau aku. Hume membawakan empirisme kepada akibat-akibat logikanya dan menyerang ide tentang substansi dan rasionalisme pada zamannya. Semua pengetahuan datang melalui pengalaman dan satu-satunya isi dari akal manusia adalah kesan-kesan dan ide-ide. Kesan adalah pengalaman yang sederhana dan elementer. Kesan-kesan itu jelas dan terang. Ide hanya merupakan copy-copy kesan. Jika kita melakukan introspeksi, kita hanya menemukan pengalaman yang lewat dan ide-ide yang selalu berubah. Tak ada bukti tentang substansi atau aku yang permanen.[1]

Apakah akal itu menurut Hume? Bagi Hume, akal dan kekuatan atau daya-dayanya serta sifat-sifat kehidupan mental tidak lain adalah asosiasi ide-ide dan pengalaman. Akal (mind) adalah istilah untuk sejumlah pengalaman, ide dan keinginan yang menempati perhatian dan kehidupan seseorang. Ia merupakan suatu kemasan pengalaman atau kumpulan rasa indrawi. Sikap umum Hume adalah skeptikisme; ia adalah seorang empirisis yang sepenuhnya. Ia segan menerima apa saja selain pengalaman sehari-hari. Para penyanggah Hume menunjukkan bahwa ia selalu memakai istilah “I” dan “myself” yang mengandung ari suatu pusat kesatuan pribadi yang selalu ada. Walaupun aku sukar untuk menjadi subyek dan obyek pada waktu yang sama, para penyanggah berpendirian bahwa melakukan pengingkaran berarti menegaskan adanya aku yang terus-menerus. Para pengikut Hume, sebaliknya, mengatakan bahwa dalam pernyataan seperti “Aku mengingkari adanya aku, subyek dan predikat mempunyai arti yang berbeda”. Hume mengatakan bahwa “kumpulan pengalaman” yang ia namakan I atau me, mengingkari adanya substansi yang immaterial atau suatu pusat identitas pribadi yang permanen. Dengan begitu maka Hume memungkiri konsep-konsep tradisional tentang “Aku”.

 

Akal sebagai Bentuk Tingkah Laku: Psikologikal Behaviorisme

Bagi sekelompok psikolog, akal adalah suatu bentuk tingkah laku.[2] Bagi mereka, beberapa macam tertentu tentang tingkah laku, mendorong kita untuk mempercayai adanya akal; mereka bertanya “Mengapa kita tidak hanya mempelajari tingkah laku saja dan tidak usah merepotkan diri dengan kesatuan-kesatuan yang abstrak dan tak dapat diamati seperti akal?” Bahkan ada psikolog yang mengingkari bahwa istilah seperti: “mind” dan “consciousness” mempunyai isi atau nilai; mereka lebih suka membicarakan tentang kejadian-kejadian mental atau aktivitas neuromuscular (otot dan syaraf) dari sesuatu organisme.

Dalam suatu diskusi yang menarik tentang “Behaviorism at Fifty[3] (Perilaku manusia pada usia 50 tahun), B. F. Skinner menyajikan apa yang ia namakan: pernyataan ulangan tentang radical behaviorism. Sebagian dari pernyataan ulangan tersebut mengandung sejarah bagaimana aliran behaviorisme itu timbul sebagai suatu reaksi terhadap para psikolog yang menyelidiki akal. Ada juga orang-orang yang karena pertimbangan-pertimbangan praktis, lebih suka membicarakan perilaku daripada aktivitas mental yang bersifat kurang dapat dilayani walaupun mereka mengakui adanya. Penyelidikan mereka adalah rintisan dari behaviorisme. Menurut Skinner, yang mula-mula menjauhkan diri dari akal sebagai penafsiran perilaku adalah Darwin dan kesibukannya dengan kontinuitas jenis. Untuk menunjang teori evolusi, adalah penting bagi Darwin untuk menunjukkan bahwa manusia secara esensial tidak berbeda dari binatang yang lebih rendah, dan bahwa setiap sifat manusia, termasuk di dalamnya kesadaran dan kekuatan berpikir, dapat ditemukan dalam jenis-jenis lain. Langkah berikutnya tak dapat dihindari yaitu jika bukti-bukti kesadaran dan berpikir dapat dijelaskan dalam binatang-binatang lain.[4] Mengapa tak dapat dijelaskan dalam manusia? Dan jika keadaannya memang begitu, apakah yang akan terjadi pada prikologi sebagai sains kehidupan mental? Jawabnya: psikologi tersebut tak ada lagi. “Behaviorisme bukannya penyelidikan ilmiah tentang perilaku akan tetapi adalah filsafat ilmu yang mempelajari subyek dan metoda psikologi. Jika psikologi sebagai sains dari kehidupan mental, dari akal, dari pengalaman yang sadar, ia harus mengembangkan dan mempertahankan suatu metodologi yang khusus yang sampai sekarang belum dimiliki secara memuaskan. Tetapi jika behaviorisme itu merupakan sains dari perilaku organisme, baik mengenai manusia atau lainnya, maka ia menjadi bagian dari biologi, suatu sains tentang alam yang banyak diselidiki oleh metoda-metoda yang sudah dicoba dan sangat berhasil.[5] Itulah kedudukan psikologikal behaviorisme.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Diskusi mengenai David Hume dapat dibaca pada fasal 7, hal. 55-57/.

[2] Prikologi Perilaku (Psychological Behaviorism) sudah dibahas dalam fasal 2 dan fasal 3. Pembahasan ini akan disinggung kembali dalam fasal 6.

[3] B. F. Skinner, “Behaviorism at Fifty”, dalam bukunya T. W. Wann, Behaviorism and Phenomenology (Chicago: U. of Chicago Press, 1964), hal. 79-108.

[4] Bukti ini diberikan oleh psikolog Edward L. Thorndike pada akhir abad ke-19. Sebagai contoh ia menunjukkan bahwa seekor kucing berusaha melepaskan diri dari “puxxle-hox”, yang semua itu mungkin menunjukkan pemikiran, dapat dijelaskan sebagai hasil dari proses yang sederhana. Dengan begitu kita akan dapat bertanya: “Apakah tidak terdapat cara-cara lain untuk menafsirkan hal-hal yang nampak sebagai kesadaran atau kekuatan fikiran”.

[5] B. F. Skinner, Behaviorism at Fifty, hal 79. Mahasiswa diharap membaca kembali buku tentang psikologi. Hampir semua buku psikologi memberi definisi psikologi sebagai ilmu tentang perilaku, tanpa menyebutkan akal atau kehidupan berfikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: