Kesulitan-kesulitan dalam Mempelajari Akal


Terdapat kekaburan dan keterlambatan dalam penyelidikan tentang akal karena beberapa sebab:

Pertama, penyelidikan tentang akal dan tentang manusia pada umumnya telah mendapat perhatian yang sangat sedikit pada masa yang lalu, khususnya dari segi bantuan keuangan, dibandingkan dengan penyelidikan tentang alam di sekitar manusia. Pada zaman kita sekarang, kita pada pokoknya mementingkan eksploitasi alam fisik, membentuk mesin dan menjelajah angkasa. Kita telah mempelajari lebih banyak tentang benda-benda dan binatang-binatang dari pada tentang manusia. Perhatian kita diarahkan terhadap aspek kehidupan manusia yang juga ada hubungannya dengan benda dan binatang. Penyelidikan sosial adalah baru, dilakukan orang semenjak akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Metoda ilmiah dipakai pertama dalam matematika dan astronomi kemudian dalam fisika dan kimia, kemudian lagi dalam fisiologi dan biologi dan hanya baru-baru ini diterapkan untuk sosiologi dan psikologi.

Dalam interpretasi-interpretasi yang terdahulu, sebelum konsep evolusi diterima dalam dunia pemikiran, akal dianggap sebagai terpisah dari alam. akal mencoba berhubungan dengan dan memahami “ultimate reality” (realitas yang tertinggi). Pandangan “seorang pengamat” tentang pengetahuan dianggap sudah yakin. Tetapi problemanya adalah untuk menjembatani jurang pemisah antara akal dan alam. Pada waktu sekarang, akal dipandang sebagai suatu alat atau suatu fungsi, dan tidak sekadar sebagai seorang pengamat di luar proses. Tidak ditekankan perlunya riset dan percobaan-percobaan, sikap sementara (tentative) dan derajat kemungkinan (degree of probability).

Kedua, psikologi telah menimbulkan aliran-aliran pemikiran yang bertentangan. Psikologi adalah sains yang khusus yang memberikan bahan-bahan deskriptif, dan bahan-bahan tersebut menjadi dasar untuk menyusun interpretasi kita tentang akal. Akan tetapi psikologi itu bermacam-macam, tidak hanya satu. Tak ada kata sepakat tentang metoda yang diperlukan untuk psikologi, bahkan tak ada kesepakatan tentang apakah subyek psikologi itu. Dalam mempelajari akal, beberapa metoda dapat dipergunaka; penyelidikan tentang perilaku yang obyektif, pendekatan genetik, yang mencakup perkembangan anak-anak atau perkembangan rasa, penyelidikan tentang perilaku binatang, perilaku yang abnormal, mekanisme dan proses fisiologis, introspeksi, persepsi ekstrasensori masing-masing metoda tersebut dipakai oleh sebagian dari para psikolog.

Bermacam-macam psikologi menekankan bermacam-macam aspek akal dan perilaku manusia. Perkembangan yang semula dari psikoanalisa (dilakukan oleh Sigmund Freud, Alfred Adler, C. G. Jung dan lain-lain), telah terjadi di dalam profesi kedokteran. Menurut Freud, enerji kehidupan manusia atau struktur kepribadian terdiri atas tiga bagian. Pertama id, yaitu yang merupakan lapangan di bawah sadar yang mendalam dari naluri (instinct); dorongan hati (impulse) dan passi (passion). Kedua, ego, yaitu unsur kepribadian yang dapat berpikir dan kadang-kadang dapat mengontrol kegiatan id. Ketiga, superego, yaitu internalisasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, yang telah dinamakan conscience. Berhadapan dengan tiga kekuatan, yakni id, superego dan dunia luar yang kasar, ego terpaksa mengakui kelemahannya dan dengan mudah terkena perasaan salah (guilty) dan gelisah (anxiety). Psikoanalisa menekankan adanya konflik dan kemenangan di dalam atau di antara bidang-bidang kepribadian dan bermacam-macam mekanisme untuk mengatasi problema-problema tersebut seperti: lari (escape), pertahanan (defence) dan sebagainya.

Behaviorisme (dikembangkan oleh John B. Watson, K. S. Lashley, Clark L. Hull dan E. C. Tolman) muncul sebagai hasil penyelidikan-penyelidikan dalam bidang psikologi binatang. Metoda dan cara bekerjanya kemudian diterapkan untuk menyelidiki perilaku manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam fasal 2 dan 3, psikologi perilaku mengarahkan perhatiannya kepada tingkah laku yang dapat dilihat dan kepada respons.

Psikologi Gestalt (yang dikembangkan oleh Marx Wertheimer, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler) merupakan reaksi terhadap metoda analitik dan atomistik dari psikologi sebelumnya, menekankan pandangan bahwa keseluruhan itu lebih besar dari sekadar jumlah bagian-bagiannya; sering keseluruhan itu memiliki kualitas yang tak terdapat dalam bagian-bagiannya. Pengikut aliran Gestalt, yang penyelidikan-penyelidikannya kebanyakan dalam bidang psikologi persepsi, berpendirian bahwa ide tentang organisasi dan contoh adalah sangat pokok untuk memahami pengamatan dalam bidang persepsi mereka bahkan memperluas pandangan mereka sehingga mencakup beberapa aspek kepribadian. Bagi penganut behaviorisme tingkah laku itu tidak ditetapkan oleh kejadian-kejadian stimulus tanggapan (stimulus response) yang terpisah-pisah dan terputus-putus, akan tetapi ditetapkan oleh pribadi yang terpadu (Integrated personality) yang melihat situasi menyeluruh.

Terdapat aliran-aliran lain dalam psikologi yang sekarang tidak lagi ternama, dan terdapat pula psikolog-psikolog yang tidak mau digolongkan pada suatu aliran.

Ketiga, dalam mempelajari akal adalah bahwa sukar untuk bersikap obyektif dalam bidang ini; terdapat pula bahaya bahwa ketika kita memperoleh obyektifitas, kita kehilangan hal yang kita ingin menyelidikinya. Sains cenderung untuk menganggap sepi hal-hal yang istimewa dan tidak terulang serta lebih suka mempelajari alam yang sudah dibersihkan dari sifat-sifat kemanusiaan yang istimewa. Ketika kita berusaha untuk mengisolir akal, akal itu sudah hilang dan kita menghadapi benda lain. Dalam kasus ini, akal mungkin seperti elektron, yang merasa diganggu jika diamati, ahli fisika tak dapat menemukan tempatnya dan kecepatannya.

Memang terdapat suatu problema yang riil yaitu apakah akal itu dapat dipelajari sebagai suatu kesatuan yang dapat dipandang sebagai obyektif? Apakah sesuatu akal dapat menjadi subyke dan obyek secara berbarengan. Jika ada suatu bidang dari kehidupan manusia yang khusus dan tidak dapat diamati secara umum, dan jika sains itu suatu pengetahuan yang dapat diperiksa benar tidaknya secara obyektif, maka sains akan menghadapi problema besar jika “berusaha untuk menyelidiki akal dan aku”, seorang yang ahli memberi tafsiran tentang alam, ia akan menemui kesulitan jika ia ingin memberi interpretasi tentang aku-nya sendiri dan aku orang lain, akalnya sendiri dan akalnya orang lain. Dia tak akan dapat yakin tentang apa yang ia selidiki, bagaimana ia harus menafsirkan hasilnya, ketepatan dan relevansi pengamatannya dan apakah pengaruh hasil-hasil tersebut terhadap teori akal.

Akhirnya, sampai sekarang tak ada kata sepakat tentang kapan dan bagaimana akal itu muncul dalam proses evolusi yang panjang. Jawabannya bergantung kepada definisi kita tentang akal dan pandangan kita tentang dunia atau interpretasi kita tentang alam. jika kita memberi definisi akal sebagai “perilaku adaptasi” (adapting behavior), proses adanya akal mungkin dimulai dengan amuba atau bentuk hidup yang lain. Terdapat perkembangan sedikit demi sedikit dari kehalusan dan kerumitan reaksi jika kita menghadapi organisme yang lebih kompleks tetapi tak terdapat evolusi yang jelas atau loncatan-loncatan yang dapat diklasifikasikan yang dapat kita katakan sebagai “permulaan akal”. Dari segi lain, jika kita memilih interpretasi bahwa akal itu adalah fikiran yang abstrak, maka akal itu hanya terdapat pada manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: