Transisi dari Theologi (Kalam) ke Filsafat


Al-Kindi dipandang sebagai filosof bangsa Arab yang pertama, tidak hanya karena ia sebagai pencinta kearifan yang pertama, di antara rekan sebangsanya, tetapi juga karena metode, sikap dan penjajagannya pada bidang-bidang penyelidikan yang baru. Ia menjembatani kesenjangan antara pendekatan-pendekatan intelektual setengah hati dngan disiplin filsafat yang keras dari rekan-rekan Muslim sezamannya. Sesungguhnya pendekatan dan sikapnya inilah yang memberinya gelar faylasuf, karena apa yang ia perkenalkan dalam bidang filsafat murni, sebenarnya hanya sedikit mengundang ide-ide asli daripadanya, sekalipun ia memiliki pemikiran yang bebas.

Menurut pendapat saya, sumbangannya yang terbesar adalah terbukanya pintu-pintu filsafat bagi para ilmuwan Muslim. Bagaimana kemudian ia beralih dari theologi ke filsafat? Untuk menjawab pertanyaan ini orang harus mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang harus diatasi oleh al-Kindi. Kesukaran-kesukaran ini berupa tantangan umum terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani pada tingkat populer dan pada tingkat theologis, danjuga berupa ketidakmampuan al-Kindi untuk menyatakan pikirannya dalam suatu bahasa yang pada waktu itu kekurangan peristilah teknis yang diperlukan untuk menyatakan ide-ide abstrak.

Dalam ihwal kesukaran jenis pertama, ia berusaha untuk menanamkan kekuasaan pandangan pada pada pembacanya, bahwa kebenaran adalah kebenaran, tidak memandang dari mana datangnya, dan hal ini yang paling berharga di dunia. Kalau orang Yunani, yang bukan orang-orang Muslim, menemukan kebenaran, maka tidak ada alasan mengapa orang tidak menerimanya dari mereka. Lagi pula, penemuan kebenaran adalah suatu usaha kolektif dari semua bangsa. Tetapi kadang-kadang ia harus menghimbau naluri kesukuan para pendengarnya, dengan menceritakan kepada mereka bahwa Yunan (nama negeri Yunani yang dipersonifikasikan) adalah saudara dari Qathan, yang dikatakan sebagai nenek moyang orang-orang Arab. Orang-orang Yunani dan Arab adalah saudara sepupu; mengapa mereka tidak dapat mencari kebenaran bersama, meskipun masing-masing mengikuti jalannya sendiri-sendiri.[1]

Tatkala ia dihadapkan dengan tantangan orang-orang yang bodoh dan fanatik, ia berlindung untuk mengelakkannya. Kisa mengenai al-Kindi dan muridnya Abu Ma’syar cukup dikenal dengan baik. Abu Ma’syar, yang dikatakan menjadi tetangganya, meniup-niup fanatisme rakyat jelata untuk memusuhi dan merugikan filsafat. Secara rahasia al-Kindi mengirimkan seorang teman, untuk memperagakan nilai dan keberlakuan filsafat kepada Abu Ma’syar, sedemikian rupa sehingga memenangkannya. Dikatakan, bahwa Abu Ma’syar teryakinkan dan menghentikan kegiatan-kegiatan permusuhannya terhadap al-Kindi. Di kemudian hari, ia menjadi seorang murid al-Kindi dan tidak menduga, bahwa orang yang menang berdebat dengannya dalam perkara filsafat itu tak lain dari seorang suruhan rahasia dari “Sang Filosof Bangsa Arab”.[2]

Pada tingkat theologis,[3] metode al-Kindi dengan jelas menunkjukkan pendekatannya yang hati-hati. Kadang-kadang ia melakukan pendekatan terhadap subyeknya seperti ahli matematika Hellenistik, dan kadangkala pula seperti seorang ahli dialektika yang menggunakan metode-metode dan argumentasi Mu’tazilah, serta berlindung kepada al-Quran untuk membuktikan sesuatu hal, seperti yang dilakukannya terhadap penjelasan ayat-ayat 72-81 dari surah 36.[4] Kecenderungannya untuk membuktikan, disesuaikan dengan nalar dan wahyu, kepercayaannya yang kokoh terhadap ajaran ortodoks mengenai penciptaan dunia dalam waktu, dan dipandangnya sebagai akibat dari kehendak Tuhan, semuanya itu menunjukkan dengan jelas, bahwa ia menduduki suatu tempat istimewa dalam filsafat Muslim di mana tidak ada pemutusan yang tiba-tiba dengan agama yang telah terjadi.

Mengenai kesulitan yang kedua, al-Kindi berusaha sebaik-baiknya untuk menyesuaikan bahasa Arab dengan kebutuhan-kebutuhan ungkapan filosofis. Tulisan-tulisannya menunjukkan suatu tekanan linguistik yang hanya dapat dianggap sebagai akibat dari perjuangan yang ia lakukan terhadap idiosinkrasi bahasa Arab. Penerjemah-penerjemah sebelum al-Kindi telah merintis jalan, tetapi belum cukup mulus untuk menampung terpaan konsep-konsep baru. Meskipun tidak dapat menentukan dengan tepat sampai sejauhmana ia bertanggung jawab dalam memperkenalkan istilah baru itu, namun dapat diduga, bahwa ia telah memberikan sumbangan yang tidak kecil, karena ia sendiri mengerjakan terjemahan-terjemahan dari orang lain, jika tidak menulisnya sendiri. Lebih jauh, fakta bahwa ia meninggalkan bagi kita himpunan kata-kata filosofis dan penjelasannya dalam bahasa Arab, menunjukkan bahwa ia secara mendalam berminat dalam peristilahan untuk mengungkapkan konsepsi-konsepsi filosofis yang abstrak.

Bahasa Arab sendiri lebih bersifat puitis, ketimbang bahasa yang bisa membantu memberikan ungkapan-ungkapan ilmiah dan filosofis. Dan meskipun luar biasa kaya akan sinonim-sinonim, bahasa itu tidak mampu untuk menangkap corak yang selang-seling dari istilah-istilah filsafat Yunani. Tidak dapat disangkal bahwa apa yang telah dilaksanakan oleh al-Kindi dan para penerjemah dalam hal ini adalah besar. Mereka berhasil mengembangkan bahasa filsafat yang dibangun dengan kata-kata yang sering harus mereka berikan arti-arti yang baru, supaya dapat menyampaikan bentuk Yunaninya.

Proses penyesuaian ini mengambil beberapa keseragaman bentuk. Pertama, kata-kata yang sama dengan istilah-istilah Yunani secara gramatika, atau dengan cara lainnya, diterjemahkan langsung tanpa banyak kesulitan. Umpamanya perkataan Yunani hyle, pertama-tama diterjemahkan sebagai tin (tanah liat) dan kemudian secara maddah (materi). Perkataan symbebekos diterjemahkan sebagai ‘arad (kejadian). Yang kedua, mereka mengambil alih banyak istilah bahasa Tunani dan kemudian menjelaskannya dengan menggunakan kata-kata bahasa Arab yang murni, seperti halnya philosophos (filosof) dan philosophia (filsafat) yang menjadi faylasuf dan falsafah. Mereka memperoleh kata-kata Arab hakim (bijaksana) dan hikmah (kebijaksanaan), terjemahan yang benar dan tepat dalam halnya dengan fanthasiyah, suatu terjemahan dari istilah Yunani phantasia (fantasi), salah satu dari indera-indera internal yang mereka jelaskan dengan perkataan al-mushawwirah atau al-khayal. Yang ketiga, untuk maksud membuat abstraksi-abstraks, yang sulit untuk menambahkan kata sandang kepada kata ganti, kata depan dan istilah-istilah interogatif serta memberikan akhiran iyah. Misalnya kata-kata Yunani to ti esti, atau intisari, menjadi al-mahiyah, didasarkan atas ma huwa, apakah itu? Perkataan Yunani to on substansi primer, menjadi al-huwiyah yang berasal dari kata ganti huwa, dia. Akhirnya, para penerjemah memberikan arti-arti yang baru kepada istilah-istilah Arab yang lama. Sebuah contoh yang baik adalah perkataan al-a’yis untuk umumnya. Semua ini merupakan suatu inovasi bahwa orang-orang Arab yang membanggakan dirinya akan “kemurnian” bahasa Arab, dipandang dengan muka masam.

Dalam analisa terakhir, peristilahan al-Kindi berasal dari Aristoteles dan Plato, meskipun sumber-sumber itu berasal lebih langsung dari Neoplatonis. Himpunan kata-kata istilah teknisnya, Tentang Definisi Benda-benda dan Uraiannya, mengingkari suatu ketergantungan atas konsep-konsep yang dineoplatoniskan dari kedua filosof besar itu. meskipun himpunan kata-kata dan penjelasannya itu menunjukkan suatu keprimitipan pernyataan tertentu, namun tetap merupakan dokumen pengetahuan filsafat yang tak tersamai, yang dimiliki oleh masa dan lingkungan intelektual al-Kindi. Juga menunjukkan bahwa istilah-istilah yang digunakannya lebih mendekati arti aslinya, ketimbang istilah-istilah yang digunakan oleh para filosof yang kemudian.

Orang dapat sepenuhnya menghargai karya Sang Filosof Bangsa Arab itu, kalau memberikan pertimbangan yang layak kepada dua kesulitan tersebut di atas.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] Al-Kindi, On First Philosophy, dalam Rasa’il al-Kindi al-Falsafyah, ed. M.A. Abu Ridah, Kairo, 1950-1953, I: 101-104, kemudian Rasa’il. Al-Mas’udi mengutip sebuah syair oleh seorang penyair yang sedikit diketahui, ‘Abd Allah ibn Muhammad al-Nashi’, yang mengecam al-Kindi karena mencampurkan Qahtan dengan Yunan. Bandingkan Muruj al-Dzahab d’or, ed. dan terjemahan ke dalam bahasa Prancis oleh C. Barbier de Meynard dan P. de. Courteille, Paris, 1923, II: 244.

[2] ‘Uyun, I: 207. Bandingkan juga Ta’rikh al-Hukama’, hal. 153.

[3] Lihat di bawah, Bab III.

[4] Rasa’il, I: 373-374.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: