Masa Hidup Al-Kindi (3)


Karena al-Kindi telah memperoleh reputasi sebagai seorang sastrawan terkemuka,[1] dan mungkin karena alasan-alasan lainnya, misalnya menyetujui theologi yang ada pada masa itu mendapatkan dukungan resmi, maka al-Ma’mun (813-833 M) mengajaknya untuk bergabung ke dalam kalangan cendekiawan yang tengah sibuk mengumpulkan karya-karya ilmiah dan filsafat Yunani serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Al-Ma’mun membantu untuk melancarkan suatu gerakan yang berskala luas untuk mengedepankan hal-hal pokok dari pikiran Mu’tazilah, menyebabkannya untuk membenarkan kecenderungan-kecenderungan rasionalitasnya dalam karya para filosof Yunani. Dikatakan bahwa Aristoteles nampak dihadapannya dalam mimpi, dan meyakinkannya, bahwa tidak ada alasan baginya untuk menangguhkan minatnya terhadap filsafat, karena filsafat dan syari’ah adalah jalan menuju kepada kebenaran yang sama.[2]

Al-Kindi memperoleh perlindungan yang baik dari al-Ma’mun dan saudara laki-lakinya al-Mu’tashim. Dalam masa kekhalifahan mereka ini, al-Kindi memangku kedudukan penting sebagai guru kerajaan[3] dan mungkin sebagai seorang tabib. Al-Mu’tashim mempercayakan pendidikan anaknya Ahmad kepada al-Kindi. Beberapa karya al-Kindi dipersembahkan kepada Ahmad dan ayahnya. Karya-karya ini ditulis dalam bentuk surat dan hampir selalu dihiasi dengan salam-salam[4] Arab.

Dalam masa pemerintahan al-Mutawakkil, al-Kindi bereaksi terhadap ketidakortodokan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, maka ia mengalami nasib yang buruk. Al-Mutawakkil tidak dapat menyetujui kecenderungan-kecenderungan Mu’tazilahnya. Di samping itu juga dikatakan, bahwa putra-putra Musa, ilmuwan-ilmuwan bersaudara yang terkenal dan bekerja untuk al-Mutawakkil, berkomplot menentangnya, dan berhasil, sehingga al-Kindi dipecat dari jabatannya. Putra-putra Musa itu terkenal dengan reputasinya dalam melakukan intrik terhadap orang yang melampaui mereka dalam pengetahuan, dan orang yang dipercaya oleh khalifah. Mereka iri terhadap perpustakaan al-Kindi yang disebut al-Kindiyah karena memiliki banyak buku yang baik, mereka berhasil membujuk khalifah untuk menyitanya dan memberikannya kepada mereka, seperti yang telah dilakukan terhadap perpustakaan Hunain Ibn Ishaq. Tetapi tidak lama kemudian al-Kindiyah diberikan kembali kepada pemiliknya[5] yang asli. Namun al-Kindi tidak dapat memperoleh kembali hak-hak istimewanya di istana yang telah hilang. Ia meninggap pada tahun 252 H/ 866M, atau mungkin tidak lama setelah itu.[6] Kematiannya merupakan suatu kematian yang sunyi, hanya diperhatikan oleh mereka yang terdekat kepadanya. Ini adalah kematian seorang besar yang tidak disukai lagi, tetapi juga merupakan kematian seorang filosof yang mencintai kesunyian.

Al-Kindi tidak seluruhnya terlepas dari gunjingan jahil, atau setidaknya dari kesalahpahaman di tangan para penulis riwayat hidupnya. Al-Bayhaqi (449 H/ 1057M – 565 H/1169 M) mengatakan bahwa para penulis riwayat hidupnya tidak sepakat mengenai asal-usul al-Kindi; menurut beberapa orang dari mereka, ia adalah seorang Yahudi, dan yang lain mengatakan ia seorang Kristen. Jika informasi ini tidak dimaksudkan untuk mencemarkan reputasi seorang Muslim di zaman itu, maka hal itu harus dianggap sebagai akibat dari pencampuradukan al-Kindi dengan Ya’qub al-Kindi (abad kesembilan) pengarang Apology of Christianity, atau dengan seorang al-Kindi lainnya. Al-Bayhaqi menempatkan Abu Yusuf al-Kindi sesudah al-Farabi, padahal sebenarnya mendahuluinya. Al-Farabi dilahirkan beberapa tahun setelah kematian al-Kindi. Kesalahan dalam urutan penampilan dua filosof itu membawa kita ke suatu dugaan, bahwa al-Bayhaqi benar-benar bingung mengenai identitas filosof itu.[7]

Beberapa orang penulis menganggap, bahwa kekikiran merupakan sifat al-Kindi.[8] Ia dikutip sebagai mengatakan, “Apa yang terhormat mengenai kekikiran adalah, bahwa engkau menjawab kepada seorang pengemis dengan mengatakan ‘tidak’ serta menegakkan kepalamu, sedangkan apa yang tidak terhormat mengenai keterbukaan tangan adalah, bahwa engkau menjawab dengan ‘ya’ serta menundukkan kepala”.[9] Juga dikatakan bahwa ia menasehati anak lelakinya dengan mengatakan, “Uang adalah ibarat seekor burung di tangan, burung itu kepunyaanmu selama engkau menggenggamnya erat”. Tetapi sebaliknya kita mempunyai bukti tertentu dala bentuk semboyan-semboyan yang diucapkan sendiri oleh al-Kindi mengenai tercelanya kepelitan,[10] seperti: “Kepelitan adalah sesuatu yang memalukan bagi seorang yang cerdas”, atau “orang pelit selalu bersifat seperti budak”, atau “orang kikir tidak terhormat”, atau “ia yang kekikirannya bertambah, makannya berkurang”. Bahkan jika ini benar, maka hal itu tidak mencerminkannya sebagai seorang filosof dan ilmuwan; juga tidak mencerminkannya sebagai manusia.

Adalah mudah untuk menyalahpahamkan kehematan sebagai kekikiran. Pengarang-pengarang yang sama, yang mencerca al-Kindi karena kekikirannya, tidak dapat lain kecuali memuji rasa humor dan prestasi-prestasinya. Al-Jahidz menuturkan, bahwa orang menyukai kecerdasan, meskipun ia kikir.[11] Ibn Nubatah (meninggal 768 H/ 1366 M) berkata tentangnya, ia adalah “seorang yang mengejar kesusastraan sebelum mengambil filsafat dengan semua cabang-cabangnya. Ia menguasai filsafat dan memecahkan banyak masalah ilmu pengetahuan zaman dahulu. Ia mengikuti jalan Aristoteles dan menulis banyak buku yang menarik perhatian. Sebagai seorang yang cakap dalam berbagai hal, maka ia dan buku-bukunya merupakan hiasan dan kebanggaan pemerintahan al-Mu’tashim”.[12]

Al-Kindi mempunyai watak yang mulia, tidak seperti kebanyakan rekan-rekan semasanya, ia berperilaku laksana seorang yang bermartabat, berpengabdian, dan tulus ikhlas. Beberapa anekdot di dalam al-Muntakhab menerangkan sisi kepribadiannya ini. Pada suatu kali, seorang cucu gubernur al-Kufah bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau ini, tidak pernah terlihat meminta di depan pintu Sultan atau di pertemuan-pertemuan para pedagang?” Ia menjawab, “Di sini adalah tempat, di mana mereka yang seperti engkau ini mencari penghidupan, aku mencari penghidupanku di sana, di tempat yang tiada seorang pun pernah bermimpi untuk mengambilnya daripadaku”. Ketika pada suatu kali ia dihina oleh seseorang dengan siapa ia sedang mengadakan perbincangan, al-Kindi tetap dalam kesabarannya, sambil tersenyum ia berkata, “Tidak ada yang mencengangkan untuk menemukan kebenaran, yang memusingkan seorang yang sakit mental, dan membuatnya menghina tabib yang menyayangi dan merawatnya. Tetapi seorang tabib yang baik tidak pernah melalaikan pasiennya, atau berhenti memberikan obat yang pahit kepadanya”. Orang itu pun terpaksa minta maaf.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] Salah satu referensi-referensi tertua mengenai al-Kindi adalah himpunan anekdot, analek (aneka tulisan pilihan) dan paragraf-paragraf pilihan di dalam buku Abu Sulayman as-Sijistani al-Muntakhab Shiwan al-Hikmah (Br. Mus. Or. Ms. No. 9033, vol. 60-65) di mana dituturkan bahwa buku-buku dan tulisan al-Kindi adalah sedemikian termasyhur dan demikian luas digunakan sehingga ia memandang tidak perlu untuk menghimpun gagasan-gagasan yang banyak dari al-Kindi (Lihat juga Appendiks III) (Br. Mus. Or. Ms., = Manuskrip Oriental Musium Inggris).

[2] Al-Fihrist, hal. 339.

[3] Al-Kindi melayani raja-raja, dan menjadi lebih dekat dengan mereka melalui kegiatan-kegiatan tulisannya; lihat ‘Uyun, I: 207. Nampaknya ia telah dikenal pada masa awal karir intelektualnya sebagai seorang penulis profesional.

[4] Surat filosofis adalah suatu bentuk penulisan yang umum dipakai oleh kebanyakan filosof dan ilmuwan Hellenistik dan kemudian diwarisi oleh orang-orang Arab. Al-Muntakhab (vol. 60) menganggap penemuan bentuk ini sebagai berasal dari al-Kindi: “… dan ia adalah tutor (guru pribadi) Ahmad Ibn Muhammad al-Mu’tashim, untuknya ia menulis kebanyakan dari buku-bukunya dan kepadanya ia mengalamatkan surat-surat (karangan-karangan)-nya semua, serta memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Ia adalah yang pertama kali menemukan metode ini yang diikuti oleh penulis-penulis Muslim yang kemudian”.

[5] ‘Uyun, I: 208.

[6] Mengenai tahun kematian al-Kindi terdapat perbedaan pendapat. L. Massignon, atas dasar bukti yang sangat sedikit mengatakan tahun 246 H/860 M.; lihat bukunya Recueil des textes inedits concernant l’histoire de la mystique, Paris, 1929, hal. 175. Sebaliknya C.N. Nallino memberikan tahun 260 H/ 873 M., lihat bukunya ‘Ilm al-Falah, Tarikhulu’ inda’l-‘Arab fi’l-Qur’an al-Wusta (Sejarah Astrologi Arab Pada Abad Pertengahan), Roma, 1911, hal. 117. Tanggal yang saya gunakan adalah tanggal yang dihitung oleh M. ‘Abd al-Raziq dalam karyanya Faylasuf ‘l-‘Arab wa’l-Mu’allim ath-Thani (Filosof Bangsa Arab dan Guru yang Kedua), Kairo, 1945, hal. 51. Tesisnya didasarkan atas bukti internal dalam karya al-Kindi Tentang Lamanya Pemerintahan Bangsa Arab dan suatu referensi dalam salah satu buku al-Jahidz Kitab al-Bukhala di mana al-Jahidz menunjuk al-Kindi dalam bentuk lampau. Al-Jahidz menulis bukunya sekitar tahun 254H/ 868 M.

[7] Zahir ad-Din al-Bayhaqi, Tarikh Hukama’ al-Islam, ed. M. Kurd ‘Ali, Damaskus, 1946, hal. 47.

[8] Referensi tertua yang kita punyai mengenai kekikiran al-Kindi adalah dalam al-Fihrist, hal. 357. Bandingkan juga ‘Uyun, I: 200. Tentang subyek yang sama ada sebuah bab menyeluruh dalam bukunya al-Jahidz, Kitab al-Bukhala’, ed. Thaha al-Hajiri, Kairo, 1948, hal. 70-81. Bandingkan juga Pengantar pada edisi Van Vloten, Leiden, 1900. Al-Hajiri meragukan bahwa al-Kindi yang disebutkan dalam al-Bukhala adalah orang yang sama dengan filsuf kita.

[9] Ibn Nubatah al-Mishri, Sharh al-‘yun Sharh Risalat ibn Zaydun, Kairo, 1278 H/ 1861 M., hal. 143.

[10] Al-Muntakhab, vol. 61.

[11] Al-Bukhala’, hal. 71.

[12] Ibn Nubatah, op. cit., hal. 144.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: