Pengingkaran Akan Wujudnya “Aku”


Jika konsep aku itu sangat penting, mengapa ada filosof yang mengingkari wujudnya? Kita dapat menjawab pertanyaan ini sebaik-baiknya dengan berusaha untuk memahami sejarah pengingkaran tersebut.

 

Budhisme

Di Timur, kira-kira lima ratus tahun sebelum Nabi Isa lahir, Sidharta Gautama, atau Budha, mendirikan tradisi Budha. Ia dinamakan “yang mendapat cahaya” (the Enlightened One) ketika ia pindah dari menjalankan hidup zuhud (ascetism) yang tak memberi faidah kepada meditasi yang memberikan kepadanya pandangan keagamaan dan filsafat yang khusus. Ia mengajar pengikut-pengikutnya doktrin tentang “jalan tengah” (Middle Way) dan mengatakan bahwa jika mengikuti jalan itu mereka akan mendapat cahaya juga. Sebagai yang sudah kita lihat dalam pembicaraan tentang watak manusia, Budhisme berpendirian bahwa dalam hidup sekarang tak ada yang tetap (permanent). Sebagai ganti jiwa manusia atau aku, seorang pengikut Budha mempercayai suatu an-atta (tak ada aku), di mana lima aliran yang bersifat sementara (skandhas) berkumpul dan menjadi wujud (being). Lima aliran tersebut adalah “rasa badaniah, perasaan (feeling), persepsi, konsepsi mental dan kesadaran (consciousness)”. Pengaruh negatif dari pandangan tersebut dapat dijelaskan dengan contoh kereta (chariot). Kereta tak lain adalah kumpulan dari roda, poros, tempat duduk, kendali dan hal-hal yang serupa. Apa yang kita anggap sebagai esensi kereta, tak lain adalah benda-benda yang dibuat orang menjadi kereta. Mengenai jiwa kita hanya dapat menunjuk kepada aliran yang terdiri atas rasa badaniah, perasaan dan kesadaran.[1]

Karena pemikiran tersebut kita menemukan cendekiawan Budhisme mengatakan bahwa “tujuan usaha seorang pengikut Budha adalah untuk memusnahkan aku”.[2] Dalam Budhisme, tugas yang tertinggi dari seorang Bodhisattwa (seorang yang menginginkan mendapat cahaya, menjadi Budha) adalah untuk menghilangkan identitas pribadi. Yang memisahkan manusia pada umumnya dari martabat Budha adalah kepercayaan bahwa kita ini pribadi-pribadi yang terpisah yang hanya memikirkan aku. Manusia harus dapat mencapai pengertian tentang tidak adanya aku sebelum sampai kepada martabat cahaya.

Pengertian an-atta (tidak ada aku) nampaknya mempunyai persamaan dengan sikap David Hume yang mengingkari aku. Marilah kita pelajari apa yang ditolak David Hume, dan membandingkan penolakan Hume dengan sikap pengikut-pengikut Budha.

 

David Hume

Semenjak abad ke-17 di Barat, ketika para filosof membicarakan soal pengetahuan (knowledge), telah terdapat pengingkaran-pengingkaran secara terang-terangan tentang adanya aku. Umpamanya, John Locke (1632-1704) menggambarkan bahwa jiwa atau akal adalah papan yang kosong, dan tindakannya terjadi karena pengaruh dunia luar melalui rasa. David Hume mendorong pengingkaran John Locke lebih lanjut. Ia tak dapat menemukan substansi yang tetap tak berubah, dan karena itu lebih suka berbicara tentang rentetan keadaan dan kejadian-kejadian yang tidak tetap. Hume menulis “tentang diriku, jika aku masuk ke dalam apa yang aku namakan ‘diriku’, aku selalu terbentur kepada sesuatu persepsi atau hal lain tentang panas atau dingin, cahaya atau tempat yang teduh, cinta atau benci, sakit atau sehat. Aku tak pernah dapat menangkap ‘diriku’ tanpa sesuatu persepsi dan tak pernah dapat menyimpan sesuatu kecuali persepsi”.[3] Tentu saja persepsi-persepsi tersebut berlalu dan bersifat sementara. Introspeksi hanya dapat menunjukkan “aku empiris”. Isi akal adalah kesan-kesan dan ide-ide yang kedua-duanya merupakan bentuk-bentuk dari persepsi. Hume menekankan bahwa aku kita tak lain hanya suatu kumpulan dari bermacam-macam persepsi, yang dipersatukan oleh hubungan-hubungan tertentu. Hume kemudian mengatakan bahwa yang ada hanyalah rentetan ide, tak ada aku yang permanen dalam diri kita dan kita tidak memerlukan subyek untuk menggabungkan ide kita. Akal hanya merupakan satu tempat berkumpul bagi isinya.

Walaupun terada ada hal-hal yang mirip antara pandangan Hume dan doktrin Budhisme, namun terdapat suatu perbedaan yang esensial. Hume memperkecil aku sampai menjadi sederajat dengan sub-personal, tetapi doktrin Budha tentang an-atta mengajak kita untuk mencapai super personal. Pokok dari doktrin Budhis adalah “oleh karena segala sesuatu dalam aku empiris itu tidak kekal, tidak memuaskan dan lain-lain, hal itu berarti merupakan aku yang palsu, yang tak dapat menjadi akunya aku. Aku harus melihat lebih jauh daripada skandhas untuk mendapatkan aku-ku yang transendental, benar dan tetap”.[4] Walaupun seorang Budhis sering didakwa menghilangkan aku-nya, sesungguhnya David Hume adalah nihilis tentang aku.

 

Behaviorisme

Beberapa ahli ilmu sosial kontemporer mengikuti jejak Hume dalam mengingkari adanya aku, umpamanya B. F. Skinner, seorang ahli pasikologi aliran perilaku (behaviorisme), berpendapat bahwa konsep aku tidak perlu untuk menganalisa perilaku, bahwa kejadian-kejadian mental atau psikologis tidak memiliki dimensi ilmu, dan bahwa manusia di alam bebas yang dianggap bertanggung jawab tentang tingkah laku organisme biologi luar hanya merupakan pengganti pra ilmiah (prescientific) untuk bermacam-macam sebab yang ditemukan dalam analisa ilmiah. Semua alternatif ini berada di luar individual. Skinner mengusulkan pengganti bagi konsep aku. “Aku hanya merupakan sarana untuk menunjukkan sistem respons yang dipersatukan fungsinya”.[5] Respons itu dapat dilihat. Pembahasan yang sempurna tentang “inti aku” (inner self) biasanya tidak terbatas pada tingkah laku yang dapat dilihat. Prof. Skinner berpendapat bahwa oleh karena motif (pendorong), ide dan perasaan tidak merupakan kejadian yang dapat diamati secara obyektif, maka semuanya itu tak dapat ikut dalam menentukan atau menerangkan tingkah laku. Sains tak dapat ikut serta dalam hal tersebut.

Prof. Brand Blanshard menentang Skinner dan pendapatnya bahwa tingkah laku mental itu sama dengan tingkah laku fisik. Blanshard mempertahankan fakta bahwa kesadaran itu berbeda dari tingkah laku yang dapat diamati. Dengan memberikan suatu contoh sederhana Blanshard menjelaskan mengapa ia menganggap bahwa pengingkaran Skinner terhadap adanya kesadaran adalah tidak masuk akal.

“Gambarkanlah seorang behavioris yang merasa kepalanya pusing dan minum aspirin. Menurut alirannya, pusing berarti kepala itu kerinyut atau terkait dan hal tersebut dapat dilihat orang lain. Dan karena pusing kepala adalah hal tersebut, maka ia ingin menghilangkan juga hal tersebut. tetapi tidak masuk akal kalau sesuatu perubahan badan tidak disukai, kecuali jika perubahan badan tersebut disertai dengan rasa sakit. Mungkin ia menyamakan rasa sakit kepalanya dengan kerinyut dan gerakan luar, jika begitu, yang harus ia kerjakan untuk menghilangkan rasa sakit itu adalah menghentikan gerakan tersebut dan bertindak seperti biasa. Tetapi ia tahu bahwa cara begitu tidak cukup; oleh karena itulah ia minum aspirin. Dengan ringkas perilakunya menunjukkan bahwa ia tidak percaya kepada teorinya sendiri”.[6]

Beberapa psikolog mengatakan bahwa mereka tidak suka menggunakan konsep dan istilah seperti aku (self), akal (mind) dan kesadaran aku (self consciousness), karena mereka tidak suka terhela oleh hantu. Karena mereka ingin bersikap obyektif dan empiris, para psikolog tersebut, begitu juga para filosof yang setuju dengan pandangan mereka, menghilangkan segala isyarat kepada aku, atau mengatakan bahwa mereka dapat menghadapi aku tersebut hanya jika aku itu menunjukkan diri secara obyektif dalam perilaku. Mereka itu, sebagai gantinya, membicarakan tentang stimulus (dorongan), respons (jawaban) dan behavioral biografi. Dengan begitu maka metoda yang dipakai untuk mempelajari benda-benda inorganik, binatang dan mesin dipakai untuk mempelajari manusia.

“Kita menghadapkan seekor burung dara kepada suatu tanda yang hitam atau putih atau merah, dan dari tanda yang putih ia dapat mematuk makanan. Kita perhatikan berapa kali ia melakukan kesalahan sebelum ia mengerti bila ia harus mematuk tanda yang putih. Di sini kita mempelajari hubungan antara dorongan yang dapat dilihat serta jawaban yang dapat dilihat. Itulah caranya kita mempelajari perilaku manusia.”[7]

Walaupun begitu banyak filosof modern yang berpendapat bahwa metoda penyelidikan tentang binatang tak dapat diterapkan kepada manusia. Seandainya engkau menyediakan tanda-tanda tersebut kepada seorang manusia, ia mungkin melakukan sesuatu di antara seratus gerakan karena ia memiliki kekuatan berfikir, sedang burung dara tak memilikinya. Manusia dapat melihat, berfikir dan merencanakan sesuatu dengan cara yang tidak dilihat orang. Metoda ilmiah dan postulat telah menunjukkan faidahnya dalam bidang fenomena yang obyektif. Dengan mencapai sukses dalam bidangnya sehingga seperti ilmu alam (natural science), ilmu perilaku (behavioral) menghilangkan persoalan arti, nilai dan aku. Padahal persoalan-persoalan itulah yang semenjak ribuan tahun dianggap esensial dalam pemikiran filsafat. Pengingkaran terhadap aku dan akal yang berpendirian bahwa konsep-konsep tersebut hanya merupakan alamat-alamat untuk menunjukkan proses fisik dan psikologis, nampaknya disebabkan oleh keinginan beberapa ahli sains untuk menggunakan metoda obyektif dalam ilmu agar mencakup segala wujud. Kalau keinginan itu dapat terlaksana, semua persoalan akan dapat dijawab dengan baik; dunia dan manusia akan diperkecil menjadi suatu rentetan usaha-usaha yang logis dan mudah dimanipulasikan. Apakah pengingkaran aku itu antara lain disebabkan oleh interpretasi yang mengatakan bahwa manusia itu adalah hasil lingkungannya? Kita setuju bahwa kita tidak membicarakan “hantu” (spook), akan tetapi terdapat unsur-unsur pengalaman manusia yang kita tak dapat menganggap sepi hanya oleh karena satu metda yang berhasil untuk suatu macam penyelidikan. Apa yang tak dapat diterangkan dalam bahasa aliran psikologi perilaku mungkin merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan manusia. Kita tidak akan menentang metoda-metoda ilmiah apa pun jika metoda tersebut diakui dan difaham sebagaimana adanya, dan jika hasilnya tidak dianggap, baik secara sadar atau tidak sadar, sebagai penafsiran yang sempurna dan final. Akan tetapi jika hasil dari metoda perilaku dianggap sebagai tafsiran yang total, segala aspek kehidupan manusia menjadi nampak dalam bidang-bidang yang tidak sesuai sama sekali.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] H. D. Lewis dan Robert Lawson Slater, World Religions (London: C. A. Watts, 1966), hal. 62.

[2] Edward Conze, Thirty Years of Buddhist Studies (Oxford: Bruno Cassirer, 1967), hal. 75.

[3] David Hume, A Treatise on Human Nature, T. H. Green (ed.) (London: Longmans, Green, 1874), vol. I, hal. 534.

[4] Conze, Thirty Years of Buddhist Studies, hal. 241.

[5] B. F. Skinner, Science and Human Behavior (New York: Free Press, 1965), hal. 30-31, 285, 447-448.

[6] “The Limits of Naturalism”, John E. Smith (ed.), Contemporary American Philosophy (London: Allen dan Unwin, 1970), hal. 34.

[7] Ibid, hal. 30. Profesor Blanshard menyajikan suatu percobaan dengan memakai metoda Skinner untuk mempelajari hubungan antara stimulus dan tanggapan (response).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: