Masa Hidup Al-Kindi (2)


Di dalam theologi murni, selang waktu ini menjadi saksi kebangkitan dan kemunduran aliran Mu’tazilah. Dengan dukungan al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Wathiq, aliran Mu’tazilah menjadi kepercayaan resmi, tetapi kemudian mengalami kemunduran dan hambatan yang besar dengan munculnya al-Mutawakkil yang mendukung sikap ortodoks. Al-Kindi lebih condong kepada aliran pikiran kaum Mu’tazilah, karena kecenderungan-kecenderungan rasionalitasnya, pandangan luas mereka dan toleransi mereka kepada ide-ide Yunaninya, menggambarkan bagaimana kesemarakan “ilmu-ilmu orang zaman dahulu”” yang hidup di Baghdad itu, tampil dengan tiba-tiba, lalu berkembang, dan sesudah itu mendadak mengalami kemunduran. Tetapi ilmu-ilmu itu terus tumbuh dengan subur di istana-istana gubernur-gubernur propinsi dan kalangan orang-orang kaya.

Alasan-alasan yang menonjol bagi kaum ortodoks untuk menentang “ilmu-ilmu orang zaman dahulu” itu adalah ketakutan, bahwa ilmu-ilmu ini akan menyebabkan berkurangnya rasa hormat kepada Tuhan. Masih banyak alasan lain yang mempengaruhi sikap kelompok ortodoks ini. Kecurigaan terhadap Manicheanisme Persia, menyebabkan perlawanan terhadap mereka, untuk menahan pengaruh mereka sebagai orang-orang yang beriman. Di samping itu, mayoritas pengaruh dari mereka yang berminat dalam filsafat dan ilmu pengetahuan adalah orang-orang Kristen, para penganut Manichenisme, orang-orang Sabia, Yahudi dan Muslim yang mengibukut mazhab Bathiniah yang esoteris (terbatas untuk kelompok kecil). Mempersamakan ilmu pengetahuan dengan mereka yang menuntutnya, melahirkan kecurigaan terhadap segala macam kegiatan perenungan dan menimbulkan kesalahapahaman terhadap nilai-nilainya. Tidak mengherankan kalau al-Kindi membenarkan kegiatan-kegiatannya dengan mencoba membangun kembali nilai filsafat dan mendesak dengan kuat agar mentolelir gagasan-gagasan dari luar Islam. Ia juga menyerang ketidaktulusan orang-orang yang fanatik agama, yang tidak memahami pentingnya kerja sama dalam tugas besar untuk mencari kebenaran.

Dalam kurun waktu pemerintahan Daulah Abbasiyah inilah al-Kindi berkembang. Pada periode ini penerjemahan karya-karya filsafat Yunani sudah mendekati penyelesaian, dan ciri-ciri utama peradaban Muslim berada dalam proses pengungkapan dirinya kepada suatu kedewasaan spiritual dan intelektual yang lebih tinggi.

Al-Kindi adalah keturunan suku Kindah, Arab Selatan, yang termasyhur, yang diabadikan oleh penyair Imru’ al-Qays yang menyenandungkannya sebagai suatu perjalanan ke Byzantium yang jauh, lama sebelum datangnya Islam. Kakek buyut al-Kindi adalah seorang sahabat Nabi.[1] Ayahnya, di masa khaliah-khalifah al-Mahdi (775-785 M) dan ar-Rasyid (786-809 M) adalah seorang gubernur al-Kufah. Mungkin, ia dilahirkan di sana pada waktu ayahnya menduduki jabatan sebagai gubernur.

“Filosof Bangsa Arab”, demikian julukan al-Kindi, dilahirkan di tengah keluarga yang berderajat tinggi, kaya akan kebudayaan, dan terhormat. Meskipun tanggal lahirnya yang tepat tidak diketahui, kita dapat menduga, bahwa ia dilahirkan menjelang abad kedelapan Masehi. Hampir tidak ada yang mengetahui, tentang tahun-tahun awalnya di al-Kufah. Barangkali di sinilah ia mulai tertarik akan ilmu pengetahuan, ketimbang menjadi seorang prajurit atau politikus, dan dengan demikian ia mengikuti jejak nenek moyangnya. Keserbacakapan dan minatnya yang sangat besar terhadap semua cabang ilmu pengetahuan, menunjukkan kegemarannya untuk belajar lebih dini. Hasrat inilah yang telah menimbulkan keinginan untuk pindah ke al-Basrah untuk mencari pengetahuan yang lebih banyak.[2]

Al-Basrah pada waktu itu adalah pusat ilmu pengetahuan yang besar. Kota ini merupakan tempat persemaian gerakan-gerakan intelektual seperti al-Mu’tazilah dan al-Asy’ariyah, dua aliran besar pemikiran theologi Muslim. Di kota itu pula pertama kali lahir sekolah besar untuk ahli-ahli tata bahasa yang diilhami oleh logika Yunani. Sayang, kita tidak mengetahui hal-hal yang terperinci mengenai hidup dan prestasi-prestasinya di kota yang mendenyutkan gerakan intelektual ini.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di sini ia menyelesaikan pendidikannya, dan diduga dengan pasti, bahwa ia berjumpa dengan berbagai cendekiawan Suriah dan Persia yang waktu itu merupakan tulang punggung ilmu pengetahuan baru di ibukota kekhalifahan Abbasiyah. Mereka itulah yang menuntunnya terus menerus sampai ke dalam rahasia-rahasia filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Ia merupakan salah seorang dari sedikit orang-orang Muslim-Arab sezamannya, yang menguasai bahasa Yunani dan bahasa Suriah atau kedua-duanya sekaligus.[3] Pengetahuannya mengenai kesusastraan Yunani, Persia, dan India telah menganugerahinya kehormatan dan kemasyhuran yang unik selama tinggal di Baghdad.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).


[1] V.G. Flugel, “Al-Kindi gennant des Philosoph der Araber”, Abhandlungen fuer die Kunde des Morgenlandes, I: 2 (Leipzig, 1857). Flugel, dengan mendasarkan karyanya atas ‘Uyun al-Anba fi Thabaqat al-Athibba oleh Ibn Abi Ushaybi’ah, ed. A. Muller, 2 jil., Kairo, 1882, menelusuri silsilah al-Kindi sampai nenek moyang keenam pada garis ayah, yang datang dari garis keturunan prajurit-prajurit kstaria keluarga kerajaan yang memerintah Kindah sebelum datangnya Islam.

[2] Ibn Juljul (meninggal kira-kira 384/994) Thabaqat ath-Athibba’ wa’l Hukuma’ ed. F. Sayyid, Kairo 1955, hal. 73, menyatakan bahwa al-Kindi adalah seorang Basrah dan bahwa ia memiliki sebuah desa di daerah itu. Ia juga menyebutkan bahwa ia meninggalkan al-Basrah menuju Baghdad.

[3] Tidak dapat dinyatakan secara pasti bahwa al-Kindi mengerti bahasa Yunani dan Suriah, atau bahwa ia pernah menerjemahkan sesuatu karya dari bahasa-bahasa ini. Ibn an-Nadim, penulis riwayat hidup al-Kindi yang pertama, berkata (bandingkan al-Fihrist, hal. 375) bahwa karya Ptolemy On Geography (Tentang Geografi) diterjemahkan untuk al-Kindi. Sejarawan dulu lainnya Ibn Juljul (Thabaqat al-Athibba’, hal 73) berkata, “dan ia menerjemahkan banyak karya filosofis dan menjelaskan apa yang sukar dimengerti di dalamnya”. Tetapi Ibn Juljul hidup di Spanyol. Ibn Abi Ushaybi’ah, dengan menggunakan sebagai sumber sebuah karya pengikut al-Kindi yang semasa, Abu Ma’syar, memandangnya sebagai salah seorang dari empat penerjemah terbesar. Al-Qifti (hal. 98) menyatakan bahwa karya Ptolemy, diterjemahkan oleh al-Kindi. Sekalipun demikian, baik karya-karya al-Kindi yang masih ada, maupun judul karya-karya yang sudah tidak ada, tidak menunjukkan bahwa ada di antaranya yang merupakan terjemahan harfiah dari karya-karya Yunani. Mungkin ia memperbaiki dan memberikan terjemahan-terjemahan dari orang lain ketimbang menerjemahkannya sendiri seperti yang diketahui ia lakukan dalam hal Theology of Aristotle (Teologi Aristoteles). Oleh karena kita kekurangan informasi mengenai pendidikan al-Kindi, maka kita tidak dapat menyelesaikan soal ini. Bandingkan FF. Rosenthal, “Al-Kindi and Ptolemy” dalam Studi Orientale in Onore di Giorgio Della Vida, Roma, 1956, II: 445. Juga I. Madkour, L’organon d’Aristote dans le monde arabe, Paris, 1934, hal. 31.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: