“Aku” sebagai Subyek, Martin Buber


Dalam karangannya I and Thou, Martin Buber (1878-1965), seorang cendekiawan Yahudi, membentangkan pendapatnya tentang aku dan hubungan antara orang dan orang serta antara orang dan barang. Ia menamakan pandangannya itu sebagai: pendekatan dialogis (dialogic approach).[1] Menurut Buber, pengetahuan itu ada dua macam yang sangat berbeda. Sebagai akibatnya terdapatlah dua sikap yang berbeda terhadap pengalaman, dua pendekatan terhadap aku dan dua macam hubungan terhadap lingkungan; dua hubungan tersebut tidak dapat ditukar, satu dengan lainnya. Pertama, aku mungkin mengetahui aku lain dengan cara saling mengenal. Di sini hubungan pokok adalah antara subyek kepada subyek, atau aku dan aku. Contoh pertama tentang ini adalah hubungan antara bayi dan ibunya. Dari kesadaran yang belum terang ini, timbullah perbedaan antara aku dan engkau, antara aku dan aku lainnya. Aku mengenal seorang lain sebagai Thou. Ini adalah hubungan I dan Thou. Aku mengenal seorang lain (aku lain) dalam kedudukannya dan aku menghendaki suatu tanggapan. Ini adalah hubungan timbal balik di mana persatuan itu mungkin. Hubungan IThou, atau hubungan orang dengan orang mengandung pertemuan yang murni, yang berarti bahwa tiap fihak mencurahkan isi wujudnya kepada fihal lain. Buber berkata “semua kehidupan yang nyata adalah pertemuan”.

Kedua, aku mengetahui sesuatu sebagai it (itu) sebagai suatu obyek di luar. Obyek tersebut adalah satu dari beberapa obyek yang berada di ruang atau waktu, dapat diukur dan tunduk kepada peraturan sebab musabab (causal laws). Hubungan I-It adalah hubungan antara seseorang dengan benda atau subyek dengan obyek. Maksud dari pengetahuan atau hubungan I-It biasanya adalah untuk dapat mengontrol hal yang diketahui. Yang mengetahui terpisah dari yang diketahui dan hubungan itu pokoknya adalah hubungan manipulasi. Hubungan semacam itu dapat diberikan contoh oleh sains. Dalam sains aku melakukan kontrol terpisah dari eksperimen. Karena terpisahnya subyek dan karena konsentrasi terhadap obyek, maka dalam sains terdapat kecenderungan untuk mengingkari aku.

Sikap I-Thou dan I-It keduanya penting bagi watak manusia. Kata I-Thou hanya dapat dipakai dengan segala wujud orang yang mengatakan. Kata I-It adalah sebaliknya. Jika aku menghadapi seseorang sebagai Thou, dan mengadakan dialog I-Thou dengannya, orang itu bukannya benda dan tidak terdiri dari benda-benda. Saya juga dapat bertemu dengan seseorang dan menganggapnya sebagai aku dan menjadikan aku tersebut sebagai obyek atau It untuk keperluan saya. Manusia dapat diperlakukan sebagai benda, dikondisikan, dimanipulasikan dan dicuci-otakkan (brainswash). Manusia tak dapat hidup tanpa It. Akan tetapi orang yang hanya hidup dengan It saja, ia bukan manusia. Jika seseorang tunduk kepada It, maka dunia It yang selalu membesar akan mengalahkannya, dan mencabut realitas I-nya darinya.[2]

Kita dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berlainan satu dengan lainnya. Kita menjadi aku yang benar-benar jika kita mempunyai hubungan yang erat dengan orang-orang lain. Melewati Thou seseorang menjadi I. Aku itu bersifat sosial dan interpersonal, dan seseorang yang real adalah orang yang hidup antara orang dan orang. Hubungan I-Thou mempunyai ciri-ciri timbal balik, langsung dan kesungguhan (intensity). Dalam hubungan yang semacam itulah suatu dialog atau pengetahuan dapat terlaksana. Dialog tersebut mungkin dengan perkataan atau secara diam-diam. Bahkan dialog tersebut terjadi dengan sekadar pandangan yang spontan dan tanpa gaya akan tetapi mengandung pemahaman dan perhatian yang timbal balik.

Buber protes terhadap “pembendaan” serta kecenderungan depersonalisasi, karena kedua hal tersebut akan berakibat mengingkari aku dan menghalangi ekspresinya. Suatu jemaat yang sejati akan timbul dari I-Thou. Beberapa orang hanya dapat hidup dalam hubungan yang timbal balik jika mereka dapat berkata Thou seorang kepada yang lain yang baik itu adalah persatuan jiwa dengan kehidupan, sedang yang jahat adalah pemisahan jiwa dari kehidupan. Suatu jemaat yang organik itu didasarkan atas kerjasama dan pengakuan pribadi sebagai pribadi (person) serta pengakuan akusebagai subyek.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Bacalah The Writing of Martin Buber, dipilih dan diedit serta diperkenalkan oleh Will Herberg (New York: Meridian Books, 1956), hal. 11.

[2] Martin Buber, I and Thou, diterjemahkan oleh Ronald Gregor Smith (Edinburg T. and T. Clarck, 1937), hal. 3, 8, 34, 46.

2 Tanggapan to ““Aku” sebagai Subyek, Martin Buber”

  1. You got a really useful blog. I have been here reading for about an hour. I am a newbie and your success is very much an inspiration for me.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: