Faidah-faidah Filsafat


Dalam pelajaran-pelajaran permulaan, sering mahasiswa bertanya: “Untuk apa kita belajar filsafat?”, “Apa faidah filsafat?”, dan “Apakah filsafat berharga bagi saya dalam hidup saya?” Banyak filosof yang memperhatikan dan memikirkan soal-soal ini. Sidney Hook, dalam suatu makalah tentang hari kemudian filsafat mengatakan bahwa kita akan dapat mengetahui filsafat itu apa dengan menyelidiki faidahnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang memberi jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang mempersoalkan jawaban-jawaban.[1]

Kegagalan untuk memperoleh suatu jawaban yang pasti kadang-kadang menyebabkan rasa frustasi. Walaupun begitu, kita tetap berpendirian bahwa faidah yang besar dari filsafat adalah untuk menjajaki bidang pemecahan yang mungkin terhadap problema filsafat. Sekali pemecahan tersebut sudah diidentifikasikan dan diperiksa, akan lebih mudah untuk menghadapi problema dan akhirnya untuk kita mengadakan pemecahan sendiri. Agar dapat menjadi efektif dalam tugasnya, seorang filosof harus dapat melampaui cara berfikir yang biasa agar dapat menghadapi munculnya problema baru yang tak daat diharapkan sebelumnya. Dengan begitu, pertama, kita dapat menjawab untuk sementara akan pertanyaan: “Mengapa kita mempelajari filsafat?”, dengan menunjukkan perlunya mempersoalkan hal yang tradisional, konvensional dan yang sudah melembaga.

Faidah kedua dari filsafat adalah untuk menunjukkan bahwa ide itu merupakan satu dari hal-hal yang praktis di dunia. Ide-ide falsafi mempunyai relevansi yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini, umpamanya, konsepsi filsafat tentang watak manusia, tentang jiwa manusia (human self) atau personality, tentang kemerdekaan kemauan, semua itu membentuk pengalaman kita sekarang. Kita pernah mendengarkan kata-kata: “Apa yang menjadi kepercayaan seseorang itu tidak penting selama ia melakukan hal-hal yang benar”. Hal ini berarti bahwa sebagian orang mempunyai kecenderungan untuk menilai tindakan-tindakan di atas keyakinan dan kepercayaan. Akan tetapi ide adalah dasar dari tindakan, dan seseorang tidak akan melakukan suatu tindakan dengan pasti, kecuali jika ia percaya sesuatu prinsip. Sebagai yang kita ketahui, bahwa komunisme mungkin tak akan lahir seandainya Marx tidak meletakkan dasar-dasarnya dalam filsafatnya; sekali orang menerima ide-idenya, sudah dapat ditentukan bahwa ide-ide tersebut harus diekspresikan dengan tindakan.

Dengan sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa filsafat itu adalah suatu bagian dari keyakinan kita dan tindakan kita berdasarkan atas keyakinan tersebut. jika kita ingin mengambil sesuatu keputusan secara bijaksana dan suatu tindakan secara konsisten, maka kita perlu menemukan nilai-nilai dan arti benda-benda, kita perlu memecahkan persoalan kebenaran atau kebohongan, keindahan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan. Pencarian ukuran dan tujuan adalah suatu bagian yang penting dari tugas filsafat. Filsafat mementingkan aspek benda-benda secara kualitatif. Ia tidak mau menganggap sepi sesuatu aspek yang otentik dari pengalaman kemanusiaan dan berusaha untuk merumuskan ukuran dan tujuan-tujuan dengan cara yang sangat sesuai dengan akal.

Barangkali faidah filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban dengan cepat dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan harus difikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keherasanan si mahasiswa, rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.

Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu tersebut; ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi. Filsafat akan sangat berguna bagi kita karena ia memberikan kita integrasi dalam membantu kita mengetahui mana yang harus kita setujui dan mana yang harus kita tolak, serta memberi arti dari eksistensi manusia.

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] “Does Philosophy Have a Future?” Saturday Review, 30, November 11, 1967, hal. 21.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: