Cabang-cabang Tradisional Filsafat


Menurut sejarah, persoalan-persoalan filsafat telah telah dibahas dalam kategori-kategori berikut: logika, metafisika, epistemologi dan etika. Kami telah menyusun buku ini di sekitar persoalan-persoalan pokok dari filsafat; karena itu kami hanya akan menyoroti secara sepintas lalu tentang definisi cabang-cabang tradisional, dengan harapan bahwa fasal-fasal yang akan datang akan menyempurnakan definisi-definisi tersebut.

Di samping kategori-kategori besar tersebut di atas, filsafat juga membicarakan sekelompok yang teratur dari prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi yang mengenai bidang-bidang pengalaman tertentu. Sebagai contoh, ada filsafat sains, pendidikan, seni, musik, sejarah, hukum, matematika dan agama. Tiap-tiap ilmu yang dikaji secara mendalam akan memperlihatkan bahwa di dalamnya terdapat problema filsafat.

 

Logika

Filsafat berusaha untuk memahami watak dari pemikiran yang benar dan mengungkapkan cara berfikir yang sehat. Satu hal yang kita jumpai dalam seluruh sejarah filsafat adalah ajakannya kepada akal, argumentasi dan logika.

Kita semua memakai argumentasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menopang pendapat kita atau menolak pendapat orang lain yang tidak cocok bagi kita. Tetapi bagaimana kita membedakan antara argumentasi yang benar dan yang tidak? Pada dasarnya, suatu argumentasi merupakan sebab-sebab (istilah Inggris: premise, istilah Arab: muqaddimah), untuk menguatkan atau menolak suatu posisi (istilah Inggris: conclusion, istilah Arab: natijah). Logika (mantik) adalah pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab yang mengenai konklusi; aturan-aturan itu dapat kita pakai untuk membedakan argumen yang baik dari argumen yang tidak baik.

Argumentasi dan dialektik merupakan alat (instrument) yang sangat perlu bagi ahli filsafat. Argumentasi harus mempunyai dasar yang sehat dan masuk akal. Tugas untuk menciptakan ukuran untuk menetapkan manakah argumen yang benar (valid) dan yang tidak benar adalah termasuk dalam cabang filsafat yang dinamakan logika. Kebanyakan filosof semenjak Aristoteles sampai sekarang merasa yakin bahwa logika itu diperlukan oleh semua cabang filsafat. Kemampuan untuk memeriksa sesuatu argumen dari segi konsistensi logika, untuk mengetahui akibat-akibat logis dari asumsi-asumsi dan untuk menentukan kebenaran sesuatu bukti yang dipakai oleh seorang filosof adalah sangat penting untuk “berfilsafat”.[1]

 

Metafisika

Beberapa pandangan falsafi yang akan kita bicarakan pada bagian keempat, akan membawa kita kepada suatu bagian yang biasanya disebut metafisik. Bagi Aristoteles, istilah metafisik berarti filsafat pertama (“first philosophy”), yakni pembicaraan tentang prinsip-prinsip yang paling universal; kemudian istilah tersebut mempunyai arti: sesuatu yang di luar kebiasaan—“beyond nature”—(meta-physikon). Metafisik membicarakan watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda, atau realitas yang berada di belakang pengalaman yang langsung (immediate experience).

Tak dapat diragukan lagi bahwa metafisik adalah cabang filsafat yang sangat sukar difahami oleh mahasiswa sekarang. Metafisik berusaha untuk menyajikan pandangan yang komprehensif tentang segala yang ada; ia membicarakan problema seperti hubungan antara akal dan benda, hakikat perubahan, arti kemerdekaan kemauan, wujud Tuhan dan percaya kepada kehidupan sesudah mati bagi tiap orang.

Pada waktu ini para filosof saling berselisih tentang apakah pandangan alam atau metafisik itu mungkin. Filsafat kontemporer dengan tekanannya kepada persepsi rasa dan pengetahuan ilmiah yang obyektif bersikap skeptis terhadap kemungkinan pengetahuan metafisik serta terhadap berartinya soal “metafisik”. Walaupun begitu, terdapat banyak filosof, baik yang purba atau yang modern, dari Timur atau dari Barat, yang percaya bahwa problema nilai dan agama, atau problema metafisik, adalah erat hubungannya dengan konsepsi seseorang tentang watak yang fundamental dari alam. Banyak para filosof-filosof tersebut percaya bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih tinggi dari alam empiris.

 

Epistemologi

Secara umum epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji sumber-sumber, watak dan kebenaran pengetahuan. Apakah yang dapat diketahui oleh akal manusia? Dari manakah kita memperoleh pengetahuan kita; apakah kita memiliki pengetahuan yang dapat kita andalkan, atau kita hanya harus puas dengan pendapat-pendapay dan sangkaan-sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita ini dapat mengetahui yang lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?

Istilah untuk nama teori pengetahuan adalah epistemologi, yang berasal dari kata Yunani: episteme (pengetahuan). Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini:

  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari mana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problema: “asal” (origins).
  2. Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang riil di luar akal, dan kalau ada, dapatkah kita mengetahui? Ini semua adalah problema: penampilan (appearance) terhadap realitas.
  3. Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema: mencoba kebenaran (verification).[2]

Dalam tradisi filsafat, kebanyakan dari mereka yang telah mengemukakan jawaban terhadap persoalan-persoalan tersebut dapat dikelompokkan dalam salah satu dari dua aliran: rasionalisme atau empirisisme. Kelompok rasionalis berpendapat bahwa akal manusia sendiain tanpa bantuan lain, dapat mengungkapkan prinsip-prinsip pokok dari alam. Kelompok empiris berpendirian bahwa semua pengetahuan itu pada dasarnya datang dari pengalaman indra, dan oleh karena itu maka pengetahuan kita terbatas pada hal-hal yang hanya dapat dialami. Memang jelas terdapat hubungan yang lazim antara metafisik dan epistemologi. Konsepsi kita tentang realitas tergantung pada faham kita tentang apa yang dapat diketahui. Sebaliknya, teori pengetahuan kita bergantung kepada pemahaman kita terhadap diri kita dalam hubungannya dengan keseluruhan realitas.

 

Etika

Dalam artinya yang luas, etika adalah pengkajian soal moralitas. Apakah yang benar, dan apakah yang salah dalam hubungan antar manusia? Dalam moralitas dan etika ada tiga bidang yang besar: etika deskriptif (descriptive ethics), etika normatif (normative ethics) dan metaetika (metaethics). Etika deskriptif berusaha untuk menjelaskan pengalaman moral dengan cara deskriptif. Kita berusaha untuk mengetahui motivasi, kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam kelakuan manusia. Kita menyelidiki kelakuan perorangan atau personal morality, kelakuan kelompok atau social morality, serta contoh-contoh kebudayaan dari kelompok nasional atau racial. Etika deskriptif merupakan suatu usaha untuk membedakan apa yang ada dan apa yang harus ada.

Tingkatan kedua dari penyelidikan etika adalah etika normatif (apa yang harus ada). Di sini para filosof berusaha untuk merumuskan pertimbangan (judgment) yang dapat diterima tentang apa yang harus ada dalam pilihan dan penilaian. “Kamu harus memenuhi janjimu” dan “Kamu harus menjadi orang terhormat” adalah contoh dari penilaian (judgment) yang normatif (keharusan). Keharusan moral (moral ought) merupakan subject maker, bahan pokok dalam etika. Semenjak zaman Yunani purba, para filosof telah merumuskan prinsip-prinsip penjelasan untuk menyelidiki mengapa manusia bertindak seperti yang mereka lakukan, dan apakah prinsip-prinsip kehidupan mereka; pernyataan prinsip-prinsip tersebut dinamakan teori-teori etika.[3]

Tingkatan ketiga adalah metaetik atau critical ethic. Di sini perhatian orang dipusatkan kepada analisa, arti istilah dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk membenarkan pernyataan-pernyataan etika. Metaetik tidak menganjurkan sesuatu prinsip atau tujuan moral, kecuali dengan cara implikasi; metaetika seluruhnya terdiri atas analisa falsafi. “Apakah arti ‘baik’ (good)?”, dan, “Apakah penilaian moral dapat dibenarkan?”, “Adakah problema-problema khas dalam metaetika?”

Philip Wheelwright telah menulis definisi yang jelas dan tepat tentang etika: “Etika dapat dibatasi sebagai cabang filsafat yang merupakan pengkajian sistematis tentang pilihan reflektif, ukuran kebenaran dan kesalahan yang membimbingnya, atau hal-hal yang bagus yang pilihan reflektif harus diarahkan kepadanya.”[4]

(Sumber: Harold H. Titus. (1984). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Pembahasan lebih lanjut mengenai logika dapat dibaca dalam fasal 11: Sahnya Pengetahuan.

[2] Persoalan-persoalan ini dibahas dalam fasal 9, 10 dan 11. Perhatikan secara khusus pembicaraan tentang faham orang awam (common sense).

[3] Teori-teori etika akan dibicarakan dalam fasal 7.

[4] A Critical Introduction to Ethics, 3rd ed. (New York: Odyssey Press, 1959), hal. 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: