Pemeriksaan Diri dan Dzikir kepada Allah SWT (2)


Abdullah bin Dinar meriwayatkan, bahwa suatu kali ia berjalan bersama Khalifah Umar di dekat Makkah ketika bertemu seorang anak laki-laki penggembala sedang menggembalakan sekawanan domba. Umar berkata kepadanya, “Juallah seekor domba padaku.” Anak laki-laki itu menjawab, “Domba-domba ini bukan milikku, tapi milik tuanku.” Kemudian untuk mengujinya, Umar berkata, “Engkau kan bisa berkata kepadanya bahwa seekor serigala telah menyambar salah satu di antaranya, dan dia tidak akan tahu apa-apa mengenal hal itu?” “Tidak, memang dia tak akan tahu,” kata anak itu, “tapi Allah akan mengetahuinya.” Umar pun menangis dan mendatangi majikan anak laki-laki itu untuk membelinya dan kemudian membebaskannya sambil berkata, “Ucapanmu itu telah membuatmu bebas di dunia ini akan membuat bebas pula di akhirat.”

Ada dua tingkatan dzikrullah ini.

Tingkatan pertama adalah tingkatan para wali yang pikiran-pikirannya seluruhnya terserap dalam perenungan dan keagungan Allah, dan sama sekali tidak menyisakan lagi ruang di hati mereka untuk hal-hal lain. Inilah tingkatan zikir, yang lebih rendah, karena ketika hati manusia sudah tetap dan anggota tubuhnya sedemikian terkendalikan oleh hatinya sehingga mereka menjauhkan diri dari tindakan-tindakan yang sebenarnya halal, maka ia sama sekali tak lagi butuh akan alat atupun penjaga terhadap dosa-dosanya. Terhadap zikir seperti inilah Nabi saw berkata, “Orang yang bangun di pagi hari hanya dengan Allah di dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia ini maupun di akhirat.”

Beberapa di antara penzikir ini sampai sedemikian larut dalam ingatan akan Dia, sehingga, mereka tidak mendengarkan orang yang bercakap dengan mereka, tidak melihat orang berjalan di depan mereka, tetapi terhuyung-huyung seakan-akan melanggar dinding. Seorang wali meriwayatkan bahwa suatu hari ia melewati tempat para pemanah sedang mengadakan perlombaan memanah. Agak jauh dari situ, seseorang duduk sendirian. “Saya mendekatinya dan mencoba mengajaknya berbicara, tetapi dia menjawab, “Mengingat Allah lebih baik daripada bercakap”. Saya berkata, “Tidakkah anda kesepian?” “Tidak”, jawabnya, “Allah dan dua malaikat bersama saya”. Sembari menunjuk kepada para pemanah saya bertanya, “Mana di antara mereka yang telah berhasil menggondol gelar juara?” “Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menggondolnya”, jawabnya. Kemudian saya bertanya, “Jalan ini datang dari mana?” Terhadap pertanyaan ini dia mengarahkan matanya ke langit, kemudian bangkit dan pergi seraya berkata, “Ya Rabbi, banyak Makhluk-Mu menghalang-halangi orang dari mengingat-Mu”.

Wali Syibli suatu hari pergi mengunjungi sufi Tsauri. Didapatinya Tsauri sedang duduk tafakur sedemikian tenang sehingga tidak satu pun rambut di tubuhnya bergerak. Syibli pun bertanya kepadanya, “Dari siapa anda belajar mempraktekkan ketenangan tafakur seperti ini?” Tsauri menjawab, “Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di depan lubang tikus dengan sikap yang bahkan jauh lebih tenang daripada yang saya lakukan”.

Ibnu Hanif meriawayatkan, “Kepada saya diberitakan bahwa di kota Sur seorang Syaikh dengan seorang muridnya selalu duduk dan larut di dalam dzikrullah. Saya berangkat ke sana dan mendapati mereka berdua duduk dengan wajah menghadap ke Makkah. Saya mengucapkan salam kepada mereka tiga kali, tapi mereka tidak menjawab. Saya berkata, “Saya meminta dengan sangat, demi Allah, agar anda menjawab salam saya”. Yang lebih muda mengangkat kepalanya dan menjawab, “Wahai Ibnu Hanif, dunia ini hanya ada untuk waktu yang singkat saja. Dan dari waktu yang singkat itu hanya sedikit yang masih tersisa. Anda telah menghalang-halangi kami dengan menuntut agar kami membalas salam anda”. Ia kemudian menundukkan kepalanya kembali dan diam. Saya waktu itu merasa lapar dan haus, tetapi keingintahuan akan kedua orang itu membuat saya seakan lupa diri. Saya bersembahyang Ashar dan Maghrib bersama merka, kemudian meminta mereka memberi nasihat-nasihat ruhaniah. Yang muda menjawab, “Wahai Ibnu Hanif, kami ini orang sengsara, kami tidak memiliki lidah untuk memberikan nasihat”. Saya tetap berdiri di sana tiga hari tiga malam. Tidak satu patah kata pun terlontar dari kami dan tak seorang pun tidur. Kemudian saya berkata dalam hati, “Saya minta mereka dengan sangat, demi Allah, untuk memberi saya beberapa nasihat”. Yang muda mengkasyaf pikiran saya, kemudian sekali lagi mengangkat kepalanya. “Pergi dan carilah seseorang yang dengan mengunjunginya akan membuat anda mengingati Allah dan menanamkan rasa takut akan Dia di dalam hati anda, dan yang akan memberi anda nasihat melalui diamnnya, bukan lewat cakapnya”.

Itu semua adalah zikir para wali, yaitu berada dalam keadaan terserap keseluruhan dalam perenungan akan Allah.

Tingkatan kedua dari dzikrullah adalah zikir “golongan kanan” (ashabul yamin). Orang-orang ini sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka dan merasa malu dalam kehadiran-Nya. Meskipun demikian, mereka tidak larut dalam pikiran tentang keagungan-keagungan-Nya, melainkan tetap sepenuhnya sadar diri. Keadaan mereka seperti seseorang yang tiba-tiba terpengarah di dalam keadaan telanjang dan dengan terburu-buru menutupi dirinya. Kelompok tingkatan pertama tadi menyerupai seseorang yang tiba-tiba mendapati dirinya di hadapan seorang raja dan merasa bingung serta kaget. Kelompok tingkatan kedua menyelidiki dengan teliti semua hal yang terlintas dalam pikiran mereka, karena pada hari akhir tiga pertanyaan akan ditanyakan berkenaan dengan setiap tindakan: kenapa engkau melakukannya?; bagaimana kamu melakukannya?; apa tujuanmu melakukannya? Yang pertama ditanyakan karena seorang semestinya bertindak berdasarkan dorongan (impuls) Ilahiah dan bukan dorongan setan atau badaniah belaka. Jika pertanyaan ini dijawab dengan baik maka pertanyana kedua akan menguji tentang bagaimana pekerjaan itu dilakukan secara bijaksana atau ceroboh dan lalai. Dan yang ketiga, pekerjaan itu dilakukan hanya demi mencari ridha Tuhan ataukah demi memperoleh pujian manusia. Jika seseorang memahami arti pertanyaan-pertanyaan ini, ia akan menjadi sangat awas terhadap keadaan hatinya dan terhadap bagaimana ia berpikiran sebelum akhirnya bertindak. Memperbedakan pikiran-pikiran itu adalah hal yang sulit dan musykil dan orang yang tidak mampu melakukannya mesti mengaitkan dirinya pada seorang pengarah ruhani yang bisa menerangi hatinya. Ia mesti benar-benar menghindari dari orang-orang terpelajar yang sepenuhnya bersikap duniawi. Mereka itu agen setan. Allah berfirman kepada Daud as., “Wahai Daud, jangan bertanya tentang orang-orang terpelajar yang teracuni oleh cinta dunia, karena ia akan merampok kecintaan-Ku darimu”. Dan Nabi saw. bersabda, “Allah mencintai orang yang cermat dala meneliti soal-soal yang meragukan dan yang tidak membiarkan akalnya dikuasai oleh nafsunya”. Nalar dan pembedaan berkaitan erat, dan orang yang di dalam dirinya nalar tidak mengendalikan nafsu tidak akan cermat melakukan penyelidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: