Tepat Jam Dua!


9 DESEMBER 1996. Jakarta hujan deras. Simpang empat Tugu Pancoran banjir. Airnya meluap memenuhi trotoar. Beberapa mobil dan motor yang terjebak, dibiarkan terbengkelai oleh pemiliknya. Tampak sebuah derek, sibuk menarik sedan mewah built up Jerman, ke selatan. Di tikungan jalan, mesin derek itu terbatuk-batuk, seperempat knalpotnya sudah terendam air. Hampir saja macet. Namun sejurus kemudian, melaju lagi.

Sedan hitam antipeluru itu kosong. Beberapa menit lalu, pengemudi dan dua penumpangnya dijemput sekelompok orang bermantel panjang, berhelm kaca, lalu dilarikan ke gedung perkantoran tidak jauh dari lokasi. Kedua penumpangnya, seorang lelaki paruh baya dan pemuda berambut sebahu, langsung dibawa ke helipad di atap gedung. Mereka diterbangkan helikopter menuju hotel bintang lima, di kawasan Sudirman.

Orang-orang yang ada di shelter bis kota tidak sempat memperhatikan seluruh kejadian itu. Pikiran mereka tersita oleh hujan, yang dirasa, begitu mendadak datangnya. Petir menyambar-nyambar. Halilintar menggelegar. Membelah langit Jakarta. Sayup-sayup di kejauhan terdengar bunyi ledakan. Ternyata, mobil derek dan sedan hitam tadi meledak! Jaraknya cuma 75 meter dari tikungan yang sempat dilewati.

“Cuaca yang sangat tidak bersahabat,” sapa seorang wanita muda. Tergopoh-gopoh. Menyambut lelaki dan pemuda itu, setelah helinya mendarat.

Lelaki itu tersenyum. Wanita cantik berseragam resmi dengan logo bulat kecil di krah baju kirinya itu segera mengiring jalan lelaki itu sambil memayunginya dengan payung besar. Pemuda yang bersamanya berlari kecil di belakang. Mereka bergegas melintasi atap bangunan hotel 25 lantai di jantung metropolitan Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Suhu udara 20 derajat Celcius. Hujan masih mengganas.

“Sir, dua jam lagi manuskrip seluruh kegiatan agen di Asia Pasifik akan tiba. Kurir mengirim dari Subec dengan pesawat khusus. Mereka sudah berangkat setengah jam lalu,” wanita itu bicara panjang lebar, sesaat setelah mereka memasuki ruangan khusus, di sayap kanan hotel.

Orang yang dipanggil Sir mendengarkan secara seksama. Lalu ia memanggil pemuda tadi. Memintanya membuka kopor metal antipeluru yang ditentengnya. Mini laptop berwarna perak dikeluarkan. Juga beberapa keping CD. Ia menghidupkan laptop. “Son,” ujarnya kepada pemuda itu, “perjalanan kita tadi sedikit terganggu. Coba kontak kedutaan, kita ingin tahu siapa yang memesan detonator bom waktu dari pasar gelap pada minggu terakhir ini.”

Son keluar ruangan. Ia pindah ke ruang sebelah. Pemandangan Jakarta terlihat jelas. Stadion olahraga, gedung pencakar langit, dan jalanan macet jadi terlihat seperti sebuah lukisan modern art. Mereka memang menyewa salah satu apartemen di kondominium hotel tersebut. Dalam data administrasi, pekerjaan mereka: brooker bidang keuangan. Bekerja pada sebuah perusahaan finance multinasional di England. Fokus mereka adalah pengusaha nasional yang membutuhkan dana dari luar negeri. Pernah juga membantu pemerintah untuk mengurus dana dari Bank Dunia.

Son mengontak kedutaan dan meminta salah satu agennya datang ke lobi hotel. Dari kejauhan Son mengamati lebih detail kota Jakarta. Ia bisa memperkirakan asap yang membubung di balik gedung-gedung beton itu berasal dari sedan yang ditumpanginya tadi.

Pagi tadi, mereka melakukan perjalanan ke Bogor. Ada pertemuan kecil dengan beberapa pengusaha agrobisnis dan informan di sana. Satu-satunya kemungkinan detonator bom waktu ditempelkan ke bodi bawah sedan itu, pada saat ditinggalkan di pinggir jalan. Sopir terpaksa ikut mereka karena harus mengangkat beberapa peralatan elektronika yang diperlukan.

Mereka berjalan beberapa ratus meter menuju tanah kosong, tempat pertemuan dilangsungkan. Areal tanah seluas 20 hektare itu memang sangat ideal untuk dijadikan tempat bertukar informasi. Tinggal berjalan ke tengah, maka alat penyadap dari agen lain tidak berfungsi. Apalagi mereka juga menggunakan alat pengacak suara.

Alat sadap terbaru punya daya jangkau 200 meteran. Sementara titik pusat ngarai itu lebih dari 600 meter jaraknya dari jalan. Di samping arah angin tidak teratur, lokasinya memang terbuka. Tidak ada perdu atau pepohonan yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Jadi, memang sebuah areal yang sangat terlindung.

Jika tidak di lokasi itu Son biasanya memilih pertemuan di tengah padang golf atau naik perahu sambil memancing di Kepulauan Seribu. Di kedua tempat itu, segala jenis alat sadap langsung blank.

Pemuda berusia 29 tahun itu kembali lagi ke ruang utama. Wanita tadi sudah tidak di sana. Son memberi tahu atasannya akan ke lobi menemui agen kedutaan. Lelaki berusia 70-an, tinggi kurus, berwajah tirus, berkacamata dan selalu membawa tongkat itu berdiri dan menepukkan tangannya ke bahu Son. Di meja, laptop dan kopor metal sudah tidak ada. Son memperkirakan, Jones, wanita berseragam itulah yang membawanya keluar. Son sedikit gelisah.

“Sir!” Son memperbaiki sikap berdirinya, saat lelaki itu berdiri tepat di hadapannya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah compact disc. Ia menaik-turunkan tangan kanannya sambil melihat ke Son. Wajahnya yang biasa serius, terlihat galau. Dari sorot matanya tampak lelaki itu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Son anak didiknya itu tidak mungkin melakukan pengkhianatan.

“Jangan cemas laptop tadi sudah kosong. Seluruh data ada di sini,” lelaki itu menaik-turunkan tangannya lagi.

“Son, kali ini kita tidak cuma mengumpulkan data. Siang nanti, tepat jam dua, kitalah yang akan mengambil manuskrip itu. Mendahului pihak kedutaan,” ujarnya.

Lelaki itu juga menambahkan, “Bravo itu mendarat di Soekarno-Hatta pada jam yang sama. Operasi ini sudah tercium pihak lain. Tujuh orang tidak dikenal akan ikut “menyambut” kedatangan agen kita.”

Son berusaha menyelami seluruh perintah atasannya itu. Ia cukup heran, soal bom sudah tidak disinggung lagi. Sebelum berlalu Son sempat melihat stempel merah tertempel pada CD. Stempel yang hanya dikeluarkan oleh duta besar.

“Izin turun, Sir…” Son memberi hormat sebelum beranjak pergi.

Lobi hotel itu tergolong luas. Kapasitasnya 200 orang. Son mengedarkan matanya ke sudut-sudut lobi. Ia tidak bisa berlama-lama. Waktunya tinggal sedikit. Ia harus sampai bandara, paling tidak 20 menit lebih awal. Saat ini ia masih punya waktu 110 menit. Perjalanan ke bandara lamanya satu jam. Itu pun kalau jalanan tidak macet. Sempat terlintas di benak Son untuk mengontak kedutaan dan request helikopter lagi. Namun niat itu ia urungkan.

Son menenangkan dirinya. Ia berdiri di dekat bar yang terletak di sisi kanan lobi pada koridor menuju toilet. Orang kedutaan yang dikontaknya belum terlihat batang hidungnya. “Jika 5 menit tidak muncul, aku segera ke bandara,” gumam Son.

Manuskrip yang akan diambil Son adalah manuskrip terlengkap. Isinya laporan kegiatan mata-mata di seluruh negara kawasan Asia-Pasifik. Laporan-laporan itu dikumpulkan selama 25 tahun. Lalu dipublikasikan secara terbatas.

Keterlibatan dinas rahasia asing dalam sebuah negara memang sudah bukan rahasia lagi. Kegiatan intelijen yang mereka lakukan jelas-jelas sudah terdeteksi oleh negara bersangkutan. Namun selama ini tidak pernah dapat dibuktikan. Di Indonesia, dinas rahasia asing malah terlibat langsung dalam revolusi fisik dan pembasmian ideologi komunis pada 1965.

Pada saat komunis runtuh –seiring Perestroika dan Glas Nost yang dicanangkan Gorbachev di USSR (sekarang Rusia), maka adu kekuatan dan perebutan pengaruh dengan negara adidaya Amerika mengendur untuk beberapa saat. Perang intelijen di seluruh dunia, yang lebih dikenal sebagai perang dingin AS-Rusia, diperkirakan bakal berakhir. Di atas kertas, perang itu memang sudah berakhir. Namun dalam kehidupan politik sehari-hari segala sesuatunya masih berjalan seperti pada hari-hari kemarin.

Son tidak bisa menebak kenapa dinas rahasia menginginkan manuskrip itu. Andaikata jatuh ke tangan kedutaan pun toh besoknya juga akan dipublikasikan di media massa. Ia memang pernah mendengar rencana restrukturisasi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara. Tapi fokus operasi hanya pada daya perekonomian masing-masing negara. Dinas rahasia tidak terlibat langsung. Pusat sudah memakai seorang spekulan besar, ahli bursa saham, berkebangsaan Yahudi untuk “memainkan” Wall Street-New York. Juga bursa efek lain seperti Hang Seng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Jakarta, dan Tiongkok. Dan, memang terbukti, mata uang masing-masing negara akhirnya anjlok.

“Apakah rezim yang sudah berkuasa sampai enam kali pemilu ini masih terlalu kuat,” batin Son.

Ia sempat berpikir. Operasi hari ini adalah operasi terbesar pada sebuah negara. Dalam arti: sebuah operasi untuk menggulingkan kepala negara! Seluruh formulasi yang harus dijalankan mungkin saja sudah tertuang pada manuskrip yang akan dijemputnya jam dua nanti. Son tahu, tidak mungkin dinas rahasia merekayasa sebuah kudeta berdarah. Risikonya terlalu besar. Bisa-bisa mereka berurusan dengan Badan Amnesti Internasional.

Dengan cara apa pusat merealisasikan rencana penggulingan itu?

Son meninggalkan lobi hotel. Ia menganggap agen kedutaan batal datang. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahu kirinya. Son sedikit terkejut. Sopir sedan tadi sudah berjalan di sampingnya. “Tidak ada yang memesan bahan peledak dalam minggu ini,” ujar sopir berkebangsaan Indonesia itu.

Son betul-betul terkejut. Tidak mungkin pusat menggunakan “orang luar” sebagai agen resmi. Apalagi untuk hal-hal penting seperti pasar gelap senjata dan bahan peledak. Dan, bahkan, sampai terlibat penuh dalam setiap perjalanan kedinasan. Sopir itu berjalan cepat.

“Kita harus sampai bandara 20 menit sebelum pesawat itu mendarat…,” ujar sopir itu lagi.

Son betul-betul sudah kehilangan akal sehatnya.
“Who are you?!”
“Teman,” jawab sopir itu singkat.

Langit Jakarta mulai bercahaya. Hujan sudah berhenti. Kedua orang itu mengendarai jip Cherokee dengan kecepatan tinggi menuju Bundaran HI. Lalu belok ke kiri, masuk Hotel Indonesia. Son meyakinkan dirinya, ia ada di jalan yang benar. Atasannya memang sangat terselubung jika memberi perintah-perintah penting. Seluruh peristiwa yang terjadi dianggap Son sebagai bagian teka-teki intelijen yang harus dipecahkan. Yang tidak dimengerti Son, kenapa tugas besar ini dipikulnya sendirian?

Jip diparkir di basement. Mereka berlari kecil menaiki anak tangga khusus karyawan, lalu pindah ke lift. Beberapa karyawan yang berpapasan keheranan melihat perilaku mereka. Son mengedarkan senyumnya. Mereka naik ke helipad di atap HI.

“Nice to meet you, Sir,” pilot heli menyampaikan salamnya. Son jadi jengah karena pilot itu Jones! Masih dalam atribut resmi. Jones tersenyum manis sekali.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 ketika mereka tiba di bandara. Jones melakukan beberapa kontak dengan petugas tower. Heli itu sudah memiliki tempat parkir khusus di Soekarno-Hatta, terdaftar atas nama seorang pengusaha minyak. Satu pesawat kecil jenis Cesna sudah parkir terlebih dulu di sebelahnya. Jones memberi kode kepada pilot Cesna yang masih duduk di cockpit. Son dan sopir itu memperbaiki duduknya. Pintu heli dibuka agar tidak memancing kecurigaan petugas bandara.

Tepat jam dua! Bravo hitam mendarat. Lima meter jaraknya dari mereka. Jones dan Son bergegas turun. Sopir tadi pindah ke cockpit. Jones berdiri tegap. Menunggu pintu dibuka. Agen itu turun. Jones memberi hormat dan menyampaikan beberapa kata sandi. Manuskrip yang diberi pelindung kotak metal itu pun diserahkan kepada Jones. Jones menyerahkannya lagi kepada Son. Mereka pun berpisah. Jones naik ke Bravo, mengambil alih kemudi. Agen itu duduk di belakangnya. Semua terkesan lancar. Bravo kembali mengangkasa.

Son berbalik. Menuju heli yang tadi mengantarnya. Tiba-tiba dua orang menyergapnya, membawanya ke Cesna. Son tidak melawan. Dari kejauhan, beberapa orang berlarian, mengejar mereka sambil menembaki Son. Tampak juga trailer kargo datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Peluru berdesingan. Badan helikopter itu jadi sasaran tembak. Sopir tadi segera menghidupkan mesin heli, namun baling-balingnya tidak mau berputar. Tujuh orang yang memburu mereka jaraknya semakin dekat. Tapi Son berhasil diselamatkan. Sudah masuk ke kabin Cesna.

Mereka segera memacu pesawat itu di landasan. Beberapa menit kemudian melesat ke angkasa. Menikung di langit, 48 derajat ke barat. Son memantau dengan teleskopnya. Sopir tadi akhirnya dipaksa turun dari heli, digelandang oleh pengejarnya. Sopir itu ditembak, dimasukkan ke salah satu kotak, di trailer kargo. Mereka pun lari berhamburan.

Matahari Jakarta bersinar menyilaukan. Son membuka kotak metal itu, memasukkan manuskrip ke laptop yang dibawanya. Seluruh data digandakan. Sekilas terlihat laporan mata-mata di Indonesia. Di situ terpampang tulisan dengan berbagai sandi. Di akhir kalimat tercantum perintah singkat: Reformasi.

Cerpen: Antoni
Sumber: Jawa Pos,  Edisi 03/12/2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: