Masa Hidup Al-Kindi (1)


Al-Kindi hidup selama masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, yaitu al-Amin (809-813 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wathiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Selama masa kekhalifahan Abbasiyah ini, dikaruniai suatu periode kehidupan politik dan intelektual yang paling cemerlang. Selama pertengahan pertama abad kesembilan, kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak kekuatan militer dan politiknya, mempunyai hubungan-hubungan yang baik dengan orang-orang Frank, yang pada waktu itu merupakan musuh-musuh Spanyol di bawah Daulah Umayyah. Di bidang militer al-Ma’mun melancarkan perang melawan Byzantium sampai ke pantai-pantai Bosporus. Dalam pemerintahan sipil, hubungan-hubungan antara Baghdad, sebagai pusat pemerintahan, dengan setiap propinsi yang diperintah oleh gubernur, dibuat lebih kuat dengan membangun jalan-jalan, sistem pos, dan pengadaan buku-buku petunjuk berbagai propinsi. Ibukota Baghdad mungkin merupakan sebuah kota yang paling indah di seluruh dunia, dengan istana-istananya yang sangat megah, taman-taman, tempat-tempat pemandian umum, tempat-tempat hiburan, dan pasar-pasar yang penuh dengan segala macam barang yang amat bagus.

Kegiatan-kegiatan ilmiah melangkah seirama dengan pertumbuhan keindahan Baghdad. Penerjemahan warisan Yunani dalam ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam bahasa Arab telah membangkitkan minat dan perhatian baru, namun menimbulkan masalah baru pula. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Suriah telah mengasimilasikan dan memelihara banyak sekali unsur kebudayaan Yunani di dalam bahasa Suriah. Di dalam biara-biara Suriah, di sekolah-sekolah Jundishahpur di Persia yang ditangani oleh orang-orang Nestoria, dan di Harran, Suriah Utara, yang penyembah berhala, karya-karya Yunani mengenai ilmu pengetahuan, filsafat dan ilmu pengobatan diterjemahkan, kemudian diulas serta dijadikan dasar-dasar pendidikan. Tatkala orang-orang Muslim pertama kali muncul di atas pentas politik Bulan Sabit, dan bahkan sesudah akhir abad ketujuh, beberapa usaha telah dilakukan untuk menerjemahkan karya-karya tentang Ilmu Pengobatan dan Ilmu Alkimia ke dalam bahasa Arab, namun upaya penerjemahan itu tidak mengalami perkembangan yang cemerlang sampai datang al-Ma’mun, yang memercikkan gairah intelektualitas. Ia mendirikan sebuah pusat pengajaran dan penerjemahan yang termasyhur di dalam sejarah Arab sebagai Rumah Kearifan (Baytul Hikmah). Ia juga mengirimkan utusan-utusan ke seluruh kerajaan Byzantium untuk mencari buku-buku Yunani tentang berbagai subyek. Dikatakan, bahwa ia membayar setiap buku yang diterjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab, dengan emas seberat buku itu. Kita mengetahui, bahwa al-Kindi ikut serta di dalam gerakan ini, tetapi kita tidak tahu secara tepat, sebagai apa kedudukannya.

Akibat dari penerjemahan-penerjemahan ini, serta bakat minat para khalifah dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, maka ilmu pengetahuan, ilmu pengobatan, dan filsafat Yunani mencapai ketinggian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Dekat, kecuali dalam kurun waktu Alexander. Dalam kekhalifahan al-Ma’mun itulah al-Khawarizmi menulis bukunya yang lebih terkenal dengan Aljabar.

Bahkan Geodesi, ilmu mengenai perhitungan tingginya gunung dan dalamnya lembah, memperoleh perhatian yang layak. Beberapa dari tulisan-tulisan al-Kindi mengenai hal ini, bersama dengan tulisan lain yang sejenisnya, pasti telah memainkan peranan besar di dalam perancangan dan pembangunan saluran-saluran air, jembatan-jembatan, peralatan perang, dan timbangan.

Ilmu-ilmu pengetahuan yang diilhami oleh alam pemikiran Yunani itu, memperoleh bentuk Arab Muslimnya, di dalam periode ini. Kegiatan-kegiatan intelektual Islam menempuh dua jalan yang berbeda, yang hanya kadang-kadang saja saling bersilangan satu sama lain. Jalan pertama, jalan yang ortodoks, yang kebanyakan dianut oleh orang-orang Muslim. Jalan ini menuju kepada kebangunan dan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan, seperti filologi, sejarah dan jurisprudensi. Sedang jalan yang kedua, jalan yang kurang ortodoks, yaitu jalan yang dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan Yunani, Suriah, dan Persia, jalan ini menuju kepada kebangunan dan perkembangan berbagai disiplin tentang filsafat, matematika, astronomi, astrologi, ilmu-ilmu fisika, dan geografi, yang kemudian disebut “ilmu-ilmu orang zaman dahulu”.

Renungan theologis telah dimulai lebih awal di Damaskus, yang menimbulkan hubungan yang dekat dengan orang-orang Kristen, dan keinginan untuk memperoleh kejelasan dan tafsiran sendiri. Pada tahap-tahap permulaan, theologi atau kalam merupakan cabang dari fiqh atau pengkajian hukum (syari’ah). Di dalam masa Abbasiyah, kedua-duanya dipisah, seperti yang kita kenal sekarang sebagai theologi skolastik atau kalam, dan jurisprudensi atau fiqh. Dalam masa al-Kindi, mucnul empat mazhab hukum, yaitu Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ibn Hanbal, dan Malik Ibn Anas. Perbedaan dasar antara mazhab-mazhab ini terletak pada penggunaan analogi (qiyas) dan pendapat pribadi (ra’i) untuk menyesuaikan hukum itu dengan tuntutan-tuntutan zaman, atau hanya berdasarkan kesimpulan-kesimpulan atas materi yang terkandung dalam hadits Nabi. Sungguh merupakan suatu masalah, apakah menerima atau tidak pemakaian metode-metode Hellenistik, seperti halnya yang digunakan di Suriah, atau semata-mata dan benar-benar hanya tergantung kepada sunnah.

Ibn Hanbal (780-855 M) menunjukkan sikap tidak kenal kompromi kepada para pembela sunnah. Al-Ma’mun menyiksanya, karena ia mendukung teori yang mengatakan, bahwa al-Quran itu bukan makhluk. Pada akhirnya, orang-orang yang berpikir seperti Ibn Hanbal di dalam periode yang sama, pasti telah menentang diperkenalkannya “ilmu-ilmu orang zaman dahulu” dalam Islam, dan sekaligus menentang kegiatan-kegiatan ilmiah dan filosofis dari al-Kindi. Namun beruntunglah, bahwa meskipun kadang-kadang timbul tuntutan-tuntutan penghukuman oleh mereka yang anti intelektual para cendekiawan Muslim terutama dalam periode ini menikmati kemerdekaan yang luas, untuk kepada umum, serta memilih pokok persoalan yang paling menarik minat mereka.

(Sumber: George N. Atiyeh. (1983). Al-Kindi: Tokoh Filosof Muslim. Bandung: Pustaka).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: