“Aku” sebagai Hal yang Khusus


Di samping sifat permanence dan transendence, aku mempunyai sifat khusus (private), yakni sifat yang tidak melekat kepada badan. Kita mempunyai pengetahuan yang langsung tentang aku kita yang bersifat pribadi yang tidak dapat dilukiskan secara sempurna dengan istilah-istilah yang obyektif. Aku dapat memberikan sebuah mataku atau ginjalku atau sebagian dari darahku kepada orang lain, aku tak dapat mengganti isi kesadaran orang lain dengan kesadaranku. Kita tak dapat mengetahui secara sempurna apa yang dipikirkan oleh orang lain. Aku tak dapat memasuki alam orang lain, aku tak dapat merasakan rasa kesakitan orang lain, walaupun dengan perantaraan bentuk komunikasi yang bermacam-macam kita dapat merasa simpati, mengerti atau menunjukkan perasaan mendalam (empathy). Membicarakan “mati” secara abstrak tidak sama dengan menghadapi kematiannya sendiri. Sartre menulis suatu cerita pendek “The Wall” (Tembok). Cerita itu melukiskan tentang tiga orang yang dihukum mati. Salah seorang dari mereka, “Tom”, mengalami mimpi buruk. Tetapi ada sesuatu yang penting. Aku melihat mayatku; itu tidak sukar, tetapi aku sendiri melihatnya, dengan kedua mataku. Aku berfikir, bahwa aku tak akan melihat apa-apa lagi, dan dunia akan berjalan terus bagi orang-orang lain.[1]

Lebih jauh lagi, fakta bahwa aku itu bersifat khusus (private) berarti bahwa tak ada aku yang merasakan pengalaman aku lainnya. Kehadiran aku tak dapat diperiksa secara obyektif seperti seseorang dapat memeriksa adanya sepotong batu atau sebuah pohon; manusia tak dapat menemukan sesuatu aku di antara persepsinya, karena aku bukan obyek. Watak dari aku yang khusus itu menjadikannya suatu kesatuan yang takkan menerima penyelidikan obyektif. Itulah sebabnya maka banyak filosof beralhiran ketimuran yang mengatakan bahwa aku itu tak ada dan mereka dapat menyelidikinya dalam manifestasinya yang obyektif dalam tingkah laku.

Aku tak dapat ditemukan baik dalam tingkatan anorganik atau dalam tingkatan organik semata-mata. Aku terdapat di mana ada kesadaran pribadi, pemikiran, pertimbangan etika atau estetika, apresiasi dan lain-lainnya. Sebagaimana puisi itu lebih dari sekadar badan dalam ruang; dan “lebih dari” inilah yang dinamakan aku oleh para filosof.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafa


[1] Walter Kaufmann (ed.), Existentialism from Dostoevsky to Sartre (New York: World Publishing, 1956), h. 231.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: