“Aku” sebagai Yang Mengatasi


Semua pengalaman menunjukkan adanya aku (self) atau subyek yang bebas dan tidak tenggelam dalam proses atau kejadian-kejadian yang melingkunginya. Oleh karena kekuatannya untuk mengintegrasikan sesuatu atau mengadakan perpaduan, maka aku mengatasi (trancends) proses di mana ia terlibat. Manusia mempunyai pengalaman tentang dunia sebagai “suatu dunia yang penuh dengan obyek yang terbuka untuk pengamatan”. Manusia mengalami dirinya sendiri sebagai “kesadaran dalam (inner awareness) bahwa ia hidup”. Orang yang ri mengingkari adanya aku (selfhood) sebagai sesuatu yang terpisah dari tingkah laku yang obyektif dan dapat dilihat, ia akan tetap mengatakan bahwa ide-idenya adalah benar. Tetapi bukankah pengingkaran terhadap aku itu malahan menjadi pengakuan terhadapnya? Jika yang dinamakan kebenaran atau kebohongan ada, niscara berpikir tidak hanya berarti rentetan perasaan yang datang bertubi-tubi tetapi tidak mengenai pusat identitas yang memberikan sifat kesatuan kepadanya. Kebenaran dan kebohongan, pengenalan dan pengetahuan harus didasari dengan adanya aku atau sesuatu yang memikir. Bagaimana kita dapat membandingkan benda-benda tanpa memikirkan pembanding yang berada di luar benda-benda yang dibandingkan? Kontinuitas pikiran yang memungkinkan manusia mengadakan argumen yang panjang atau menulis buku menunjukkan adanya aku yang melangsungkan atau subyek yang mengetahui.

Seorang psikolog berkata: Aku adalah fungsi yang mengorganisir yang ada dalam seseorang. Aku ada sebelum kita memperoleh sains dan bukan obyek sains tersebut.[1] Aku yang mengetahui dan menentukan tak dapat kita pahami jika kita hanya menggunakan metode obyektif dari sains. Karl Heim berkata: “Hal yang mengherankan mengenai ego yang menjadikan alam sebagai obyek persepsi dan kehendaknya adalah walaupun ego tersebut paling dekat dan sangat terkenal kepada kita, dan walaupun kita masing-masing sadar akan adanya, namun adalah mustahil bagi kita untuk menggambarkannya secara obyektif sebagaimana kita melukiskan suatu kristal atau bunga atau rumah.[2]

Hubungan aku dengan proses waktu adalah satu dari problema yang sangat mendalam dari kehidupan manusia. Manusia adalah suatu makhluk yang sangat terbatas, dengan kehidupan yang terbatas dengan waktu; tetapi ia mengatasi (transcends) dan berada di atas rangkaian waktu, dalam arti bahwa aku itudifahami dan dialami dalam saat “sekarang”; aku adalah titik subyektif antara masa lalu dan masa mendatang. Manusia mempunyai kemampuan untuk membicarakan masa lampau yang dapat disimpan dalam ingatan. Manusia juga memiliki daya melihat ke depan, kemampuan untuk merencanakan, menebak yang belum terjadi dengan sedikit atau banyak kepastian, mengadakan rencana, dan sampai batas tertentu membentuk hari esok. Walaupun begitu, aku-ku secara tak dapat dimengerti, terikat dengan waktu sekarang, walaupun dalam ingatanku aku dapat bergerak ke masa lalu dan dalam imajinasi aku dapat meloncat ke hari esok. Aku terikat dan tak terpisahkan dari “sekarang” yang berbeda dalam kualitasnya dari renteten titik-titik. Akuku menjadi pusat waktu, dan hari kemarin dan hari esok dapat dilihat oleh akusekarang.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).


[1] Rollo May, Man’s Search for Himself (New York: Norton, 1953), h. 21.

[2] Christian, Faith and Natural Science (New York: Harper, 1957), h. 36.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: