“Aku” sebagai Pusat Identitas Pribadi


Istilah Aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan “subyek” atau sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah dari kehidupan seseorang. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, konsepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Jika aku itu merupakan substansi atau benda (banyak filosof modern menolak pandangan ini) maka akal itu adalah substansi yang istimewa sekali. Suatu substansi tidak harus bersifat “material”, ia mungkin juga bersifat “immaterial”. Jika kita mengatakan bahwa aku itu bukan substansi, kita dapat menggambarkannya sebagai pusat dari identitas pribadi.

Terdapat bukti tentang adanya suatu unsur inti yang dapat diberi nama: self, ego, agent, mind, knower, soul, spirit atau person. Kata-kata seperti pengalaman langsung (immediate experience) dan isi kesadaran (content of consciousness) mengandung arti “adanya sesuatu yang mempunyai pengalaman, sesuatu yang memberikan kesatuan (unity)”. Kita berkata: aku dalam menceritakan pengalaman-pengalaman yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, kemarin atau sekarang, aku adalah sesuatu “kesatuan”, subyek yang mempunyai pengalaman, yang tak dapat dianggap hanya sebagai bagian dari aku, atau sebagai unsur-unsur yang khusus dan berubah dari pengalaman saya. Kalau istilah mind dan self (akal dan aku) tak dapat dianggap benda yang sama, maka self (aku) atau person adalah yang memiliki pengalaman-pengalaman tersebut yang kita namakan pengalaman mental.

Realitas yang diketahui oleh seseorang secara langsung adalah ­aku-nya (self, ego), “Aku” diketahui secara lebih langsung dan lebih meresap daripada dunia di luar diri seseorang. Dunia yang obyektif yang dapat dialami, diukur dan dimanipulasikan selalu dipandang dari segi kepentingan aku (self) atau orang yang dimengerti. Aku mencakup kualitas keistimewaan serta kelangsungan dalam perubahan, yakni kelangsungan yang memungkinkan seseorang berkata Aku, kesadaran pribadi (self-consciousness) adalah kesadaran aku terhadap dirinya. Manusia bukannya hanya sadar terhadap dirinya sebagai aku, akan tetapi ia juga sadar kepada fakta bahwa ia sadar.

(Sumber: Harold H. Titus. (1982). Persoalan-persoalan Filsafat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: