Penutup


Seseorang yang belajar suluk harus mampu menggunakan daya pikir (fatin) dan menggunakan pandangan batin (basyir). Syair:

“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang menggunakan daya pikir mereka, menjauhkan diri dari tertipu dunia dan menakuti cobaan-cobaan. Mereka menjadikan dunia sebagai jembatan dan menjadikan amal saleh sebagai bahtera; melihat kepada ujung segala perkara dan selalu memikirkan akibatnya. Mereka tidak tertipu dengan manisnya tingkah lahiriyah”.

Ahli tasawuf berkata: “Orang-orang yang sedang belajar suluk terkadang lupa terhadap yang merubahnya”. Firman Allah: “Tiada yang mereka aman dari makar/ azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al-A’raf: 99).

Di dalam Hadits Qudsi Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw:

“Wahai Muhammad, sampaikanlah khabar gembira kepada orang yang berdosa karena Aku mengampuninya. Aku Maha Pengampun dan berikanlah peringatan kepada orang-orang yang benar bahwa Aku sangat waspada”.

Sesungguhnya karamah para wali adalah benar; segala tingkah laku para wali adalah benar, tapi mereka tidak akan lepas dari makar kepada Allah dan istidraj. Lain halnya dengan mukjizat para nabi karena mukjizat Nabi aman dari semua itu selamanya, sehingga dikatakan: “Takut su’ul khatimah adalah penyebab selama dari su’ul khatimah”. Sayyid Hasan Al-Basri berkata: “Aulia Allah Ta’ala diangkat pada darajat surga Illiyyin karena rasa takutnya. Rasa takutnya lebih tinggi dari harapannya, agar tidak terjatuh oleh sifat basyariyah dan tidak terputus perjalanannya akibat tidak mewaspadainya”.

Sebagian para ulama berkata:

“Kalau manusia dalam keadaan sehat, maka rasa takutnya harus lebih besar daripada pengharapannya; dan bilamana sakit, harapannya harus lebih besar dari rasa takutnya”.

Sabda Nabi saw:

“Jika ditimbang rasa takut dan pengharapan seorang mukmin dua-duanya akan seimbang, tetapi bila sedang dicabut rahmat, maka pengharapannya ada di atas limpahan Allah”.

Dan berpikirlah dengan firman Allah:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. Al-A;raf: 156).

Dan firman-Nya lagi:

“Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku, sesungguhnya Allah Maha Pengasih”.

Wajib bagi seorang salik berpindah dari sifat Al-Qahru (memaksa) kepada kasih sayang Allah. Dan berpindah dari Allah menuju kepada Allah dengan selalu merasa rendah, hina, memohon ampunan dan mengakui segala dosa-dosanya. Orang seperti ini akan mencapai limpahan fadhilah Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya terhadap segala dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Pengurus dan Maha Penyayang, Maha Pemberi dan Maha Mulia. Allah Maha Raja, Yang merajai Yang Agung. Rahmat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh keluarganya. Sahabatnya seluruhnya. Segala puji bagi Allah yang Mengurus seluruh alam. Amiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: