Getaran Hati dan Bersih Hati


Firman Allah:

“Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah” (QS. Az-Zumar: 23).

Firman Allah:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima Agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah” (QS. Az-Zumar: 22).

Sabda Nabi saw.:

“Sentuhan tarikan dari tarikan Allah Al-Haq sebanding dengan ibadah seluruh jin dan manusia”.

Sabda Nabi saw.:

“Orang yang tidak punya rasa kasih sayang berarti hatinya tidak hidup”.

Berkata Al-Junaid Rahimahullah:

“Bila Allah menanamkan rasa kasih sayang di dalam batin manusia, maka akan muncul perasaan bahagia dan sedih”.

Wajdu (getaran) itu ada dua macam: 1. Jismani; 2. Ruhani. Wajdu Jismani, yaitu getaran hati yang didorong oleh nafsu dan adanya timbul dari kekuatan jasad, bukan dengan tarikan kuat Ruhani; contohnya seperti riya’ (ingin diketahui orang), atau sum’ah (ingin dibesar-besarkan orang atau ingin terkenal). Ini semua hal yang batil, karena keberadaannya masih berkisar pada diri. Getaran seperti ini tidak boleh diikuti.

Getaran hati runai ialah bertambahnya kekuatan ruh dengan daya tarik Allah, seperti membaca Al-Quran dengan suara yang bagus atau sya’ir yang memenuhi aturan wazannya; atau berdzikir yang tembus sehingga jasad tidak mampu lagi bertahan dan tumbang. Gambaran seperti ini merupakan limpahan Rahmat Allah dan baik untuk diikuti sesuai firman Allah:

“Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hambaku yang mendengar kata-kata (nasihat) lalu mengikut yang baiknya”.

Begitu pula getaran ruhani ini terjadi ketika mendengarkan suara-suara orang yang menumpahkan kerinduannya pada Ilahi. Juga suara burung-burung dan irama lagi-lagu merupakan kekuatan ruh. Bila didorong oleh kekuatan getaran ruhani, maka tidak akan dimasuki oleh nafsu dan syaitan, karena syaitan hanya dapat mengganggu pada gerakan kegelapan nafsu, tidak pada cahaya Ruhaniyyah; bahkan syaitan akan terkulai, seperti ia terkulai dengan kalimat Hauqalah (Laa Haula Wala Quwwata illa Billahil ‘aliyil azim [tiada daya dan kebaikan, kecuali oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung]); seperti leburnya garam yang dimasukkan pada air, hal ini dijelaskan oleh Hadits Rasul.

Bacaan ayat-ayat Al-Quran, syair-syair hikmat, mahabbah dan kenikmatan mahabbah, dan suara-suara kesedihan mengandung kekuatan cahaya bagi ruh. Cahaya harus bertemu dengan cahaya lagi, yaitu ruh. Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nur ayat 26: “Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”.

Getaran hati yang Syaitani (dari Syaitan) dan nafsani (dari nafsu) tidak mengandung cahaya, bahkan sebaliknya, mengandung kegelapan, kekufuran, dan kesesatan. Gelap bertemu gelap, yaitu nafsu diperkuat oleh nafsu. Sesuai firman Allah dalam surah An-Nur ayat 26: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji”. Ruh tidak menimbulkan kekuatan pada kegelapan itu.

Gerak getaran dalam getaran ruhani ada dua macam: 1. Getaran di atas sadar, 2. Getaran di bawah sadar.

Getaran di atas sadar seperti gerakan badan manusia yang bukan disebabkan rasa sakit atau penyakit. Gerakan-gerakan seperti ini bukan gerakan yang dituntut. Adapun gerakan yang di bawah sar yaitu yang ditimbulkan oleh penyebab-penyebab lain, seperti kekuatan ruh. Diri tidak akan mampu membuatnya, karena gerak ini mengalahkan gerakan badan, seperti gerakan panas; bila panas memuncak, manusia tidak akan mampu menahannya, diri sudah tidak dapat memilih-milih lagi. Getaran jiwa bila sudah menyelubungi gerakan ruhani, maka ini merupakan hakikat dari ruhaniah.

Getaran hati dan mendengar suara adalah dua alat, seperti sesuatu yang ada pada hati orang-orang yang sangat merindukan Allah dan orang-orang yang ahli ma’rifat. Getaran dan sima adalah makanan orang-orang yang mencintai Allah dan kekuatan bagi orang-orang yang kuat mencari pendekatan kepada Allah. Sebagaimana di dalam hadits Rasul:

“Mendengarkan suara bagi suatu golongan adalah fardhu, bagi golongan yang lain adalah sunnah, bahkan bagi satu golongan lagi adalah bid’ah”.

Fardhu bagi orang-orang yang khusus; sunnah bagi orang-orang yang sudah mencapai mahabbah; dan bid’ah bagi orang-orang yang masih lupa kepada Allah. Nabi saw. Bersabda:

“Orang yang tidak tergerak karena mendengar suara dan syair-syair bunga dengan bunganya, kayu dengan talu-taluannya, maka itu adalah percampuran yang rusak, tidak ada obatnya dan merupakan sebuah kekurangan yang lebih rendah dari keledai dan burung-burung, bahkan lebih rendah daripada sapi kerbau”.

Keledai, burung, sapi dan kerbau akan merasakan dampak dari suatu nada yang berirama; buktinya burung-burung yang hinggap di atas kepala Nabi Daud as, karena mendengar suara Nabi Daud as. Rasul bersabda: “Orang yang tidak punya getaran hati berarti tidak beragama”.

Getaran jiwa itu ada sepuluh jalan. Sebagian jelas dan terlihat bekasnya di dalam gerakan. Sebagian lagi samar, bekasnya tidak terlihat di dalam jasad, seperti cenderungnya hati pada zikrullah, membaca Al-Quran, menangis, rintihan kesakitan, rasa takut, rasa sedih, keputusasaan, kebingungan ketika melaksanakan zikrullah, termasuk pula di antaranya ialah perasaan menanggung beban, penyesalan, perubahan pada lahiriah dan batiniah, serta mencari ridha Allah dan merindukannya, juga termasuk di antaranya rasa panas dan sakit serta keluar keringat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: