Waktu dalam Perspektif Ibn Arabi (3)


Tuhan eksis oleh diri-Nya sendiri dan dunia eksis melalui-Nya. Tetapi jika seseorang berdasarkan imajinasinya (wahm) bertanya, “Kapan dunia diciptakan Tuhan?” Kami mengatakan bahwa “kapan” adalah pertanyaan tentang waktu. Waktu memiliki domain-relasi (nisab) dan ia diciptakan oleh Tuhan, tetapi tidak seperti penciptaan eksistensi lainnya sebab domain-relasi diciptakan oleh “estimasi” manusia (atau ketetapan: taqdir). Oleh karena itu pertanyaan ini tidak bermakna. Jadi, berhati-hatilah ketika Anda mengajukan suatu pertanyaan dan jangan ditutupi dengan perangkat pernyataan yang berlawanan dengan kenyataan aktual dan memaksakan pemahaman realitas Anda sendiri.

Jadi: (1) Eksistensi murni atau absolut—bukan (eksistensi) yang didahului non-eksistensi—adalah eksistensi Tuhan, dengan demikian Ia Maha Agung; dan (2) eksistensi yang didahului non-eksistensi memiliki esensi dari eksisten itu sendiri—ini adalah eksistensi dunia. Dalam keduanya tidak dapat dibandingkan; Eksistensi Absolut (Tuhan) dan eksistensi yang diciptakan (dunia), Eksistensi Aktif (Tuhan) dan eksistensi pasif (dunia). Hal inilah yang harus dipegang dalam menjelaskan realitas.

“Dunia” menurut Ibn Arabi mencakup             spiritual dan material dan keduanya berhubungan dengan jenis waktu, spiritual dan fisik. Dunia spiritual diawali dengan penciptaan alam semesta material (alam) seperti bintang dan planet, dengan demikian waktu spiritual telah ada sebelum penciptaan dunia fisik. Hal ini mengindikasikan bahwa waktu spiritual diperlukan untuk menjelaskan hubungan antara spiritualitas dan Nama-nama (Tuhan) sebelum penciptaan dunia fisik. Pada masalah ini, Ibn Arabi berupaya merespon pertanyaan mengenai “sebelum” dalam penciptaan dunia fisik,[1] tetapi ia menegaskan bahwa pertanyaan tersebut tidak bermakna dengan argumen penciptaan dua domain dunia. Selanjutnya Ibn Arabi menjelaskan bahwa dunia secara ontologis dibedakan menjadi tiga “level”: ‘alam al-mulk atau ‘alam al-syahada, inilah dunia yang dapat diindera; ‘alam al-malakut, inilah dunia dalam domain makna; dan ‘alam al-jabarut, mencakup semua domain dari “imajinasi” Tuhan (barzakh). Tetapi dalam berbagai tulisannya, ia mengadaptasi dari Al-Quran yang membagi dunia menjadi “yang terindera” dan “yang tidak terindera”.

Ibn Arabi menyebutkan usia dunia (spiritual dan material) yang tidak terbatas atas keduanya secara langsung; dunia itu abadi tanpa permulaan dan akhir. Hal ini bukan berarti bahwa dunia material (dan peristiwa spiritual) adalah abadi, tetapi dunia memiliki jenis pra-eksistensi dalam Pengetahuan Tuhan dan Pengetahuan Tuhan adalah abadi dalam keduanya. Ibn Arabi juga menyebutkan bahwa akhir keduanya bersamaan, dengan demikian waktu secara keseluruhan seperti sebuah lingkaran yang tidak dapat ditentukan permulaan dan akhir, tetapi ketika kita menentukan titik waktu (masa sekarang) dan arah (menuju masa lalu atau masa depan) dalam lingkaran tersebut, maka kita dapat menentukan titik permulaan dan akhir.

Ibn Arabi—mengikuti kategori teologis Ibn Sina (Nasr, 1964: 173-274)—membagi jenis eksistensi ke dalam tiga kategori: niscaya, mungkin (atau “kontingen”: mumkin) dan tidak mungkin. Hanya eksistensi Tuhan yang memiliki kategori “Niscaya” atau Eksistensi Mandiri, sementara non-eksistensi absolut berkategori tidak mungkin. Dengan kata lain, dunia disebut “mungkin” sebab ia mungkin untuk eksis, tetapi ketika dunia muncul menjadi eksistensi memerlukan sebab (murajjih) yang menjadikannya sebagai pra-eksisten dan eksisten-mandiri, atau tidak ada yang lain kecuali Tuhan.[2] Oleh sebab itu, dunia (yang mungkin) asalnya adalah non-eksistensi (tetapi bukan non-eksistensi absolut, ia hanya non-eksistensi yang mungkin untuk eksis) dan dunia selalu memerlukan Tuhan untuk muncul menjadi eksistensi. Jadi dapat dikatakan bahwa dunia eksis oleh dan melalui Tuhan, bukan oleh/melalui dirinya sendiri. Perbedaan antara non-eksistensi absolut dan non-eksistensi yang mungkin; yang kedua eksis (sebelum muncul menjadi eksistensi riil) dalam Pengetahuan Tuhan, dan dengan demikian dikatakan abadi karena Pengetahuan-Nya adalah diri-Nya sendiri.

Keabadian eksistensi dunia spasial dan temporal ditentukan Pengetahuan Tuhan, tetapi kontinuitasnya sampai menjadi eksistensi adalah tidak terbatas:

Tuhan menciptakan entitas (menjadi eksistensi), Ia menciptakan mereka untuk mereka sendiri bukan untuk-Nya. Tetapi mereka memiliki keadaan spasial dan temporal dengan waktu dan ruang yang berbeda-beda. Tuhan membuka entitas dan keadaan mereka dalam interval tidak terbatas dan berurutan. Tuhan berfirman: “Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata” (QS. 54:50), dan keanekaragaman (hanya) untuk jumlah mereka.

Walaupun keadaan ini merupakan pra-eksistensi, kita tidak dapat mengatakan bahwa dunia adalah abadi dan hanya dikembangkan dari satu keadaan menjadi keadaan lainnya. Hal ini tidak terlalu tepat sebagaimana dinyatakan Henry Corbin, “Ibn Arabi tidak berpikir bahwa penciptaan berasal dari ex nihilio, yaitu permulaan yang absolut didahului oleh kekosongan” (Corbin, 1969: 200). Ibn Arabi memulai Futuhat dengan mengatakan: “Keagungan hanya untuk Tuhan yang menciptakan sesuatu (wujud) dari non-eksistensi”. Dalam Durrat Al-Bayda’, ia juga menyatakan bahwa “Eksistensi (yang mungkin) itu terikat hanya ketika didahului oleh non-eksistensi, jika tidak demikian maka menjadi “tidak mungkin” meskipun pada awalnya mungkin, dan ia tidak akan menjadi eksistensi oleh dirinya sendiri; sementara itu, ia bisa menjadi eksistensi oleh Tuhan” (Durrat Al-Bayda’: 133).

Jika Corbin memaknai apa yang kami jelaskan—sesuatu eksis dalam Pengetahuan Tuhan sebelum eksis di dunia—kemudian kami menekankan perbedaan antara esensi dan entitas (‘ayn) sesuatu dalam Pengetahuan Tuhan dan eksistensi aktualnya. William Chittick dalam bukunya (The Sufi Path of Knowledge: 77-143) menjelaskan pentingnya konsep ontologi Ibn Arabi tersebut. Entitas dunia dalam Pengetahuan Tuhan bersifat abadi, tetapi selanjutnya dunia dialihkan menjadi satu eksistensi—setelah awalnya tidak eksis. Pembedaan ini menjadi sangat penting. Ibn Arabi melanjutkan dengan menjelaskan bahwa:

Semuanya memerlukan Tuhan Yang Maha Agung untuk menjadi eksistensi dari esensi (atau entitas: ‘ayn), bukan untuk esensinya, sebab ia adalah esensi statis (‘aynuhu al-thabita, biasanya diterjemahkan sebagai “model permanen”) yang tidak ditentukan dalam kestatisannya; ia tidak ditentukan oleh suatu penentu, karena    tidak ada yang menentukan dalam keabadian. Jadi, semua (yang mungkin) menjadi eksistensi setelah pada awalnya didahului oleh non-eksistensi; maknanya adalah tidak ada penjelasan yang lain, dan harus demikian (Al-Durrat Al-Bayda’: 133; lihat juga: Al-Masail, No. 143).

Kita akan melihat dalam bahasan selanjutnya bahwa keadaan instrinsik yang “yang mungkin”—untuk semua domain penciptaan—memerlukan Tuhan yang mengalihkannya menjadi eksistensi dalam setiap momen tunggal, sebab dunia dengan kontinuitasnya menjadi eksistensi secara terus-menerus memperbaharui bentuknya (tepatnya, “penciptaan-kembali”).

Bagaimanapun, pikiran manusia tidak mudah untuk mengimajinasikan eksistensi dari penciptaan dunia (al-muhdats) dan eksistensi Tuhan yang Abadi (al-qadim) tanpa merefleksikan waktu yang berbeda-beda. Dan peristiwa tersebut bagi Ibn Arabi merupakan isu yang tidak perlu dibuka untuk umum. Karena untuk memahami misteri-misteri ini diperlukan persepsi yang melebihi manusia biasa dan memerlukan inspirasi keilahian untuk mengakses pengetahuan yang jarang dimiliki manusia dengan penerimaan spiritual tingkat tinggi. Hal inilah yang menjadi penyebab kesulitan para filsuf dan teologi Muslim untuk melanjutkan spekulasi beberapa teori yang Ibn Arabi sendiri tidak menyetujuinya (Kitab Al-Azal: 8).

Ibn Arabi menjelaskan hubungan antara eksistensi Tuhan dan eksistensi dunia pada Bab 59 dalam Futuhat, di mana dalam bab ini ia juga membicarakan mengenai waktu. Ibn Arabi mengemukakan argumen pada permulaan bab tersebut secara ekstrim, rumit, dan sangat sulit untuk dipahami dengan bahasa orisinalnya.


[1] Lihat pada Bab 371 dalam Futuhat untuk penjelasan detail mengenai skenario penciptaan dari dunia fisik dan dunia tidak terindera sebagaimana yang disaksikan Ibn Arabi. Juga pada Bab 7 dalam Futuhat Ibn Arabi memberikan penjelasan detail mengenai perbedaan keadaan penciptaan alam atau dunia fisik dalam waktu; penjelasan Ibn Arabi tersebut sangat mirip dengan apa yang dihasilkan sains modern.

[2] Ibn Arabi menjelaskan secara detail dalam permulaan Futuhat, sebagaimana ia diskusikan mengenai “manusia pilihan Tuhan”. Ia mendiskusikan doktrin ini di bawah beberapa masalah (masa’il) di mana dihasilkan beberapa kesimpulan mengenai hubungan antara Yang Riil, dunia, dan non-eksistensi. Lihat pembukaan dalam Futuhat. Ibn Arabi juga menulis masalah dan isu-isu terkait lainnya  dalam Kitab Al-Masa’il yang juga dikenal dengan Aqidah Ahl Al-Ikhtisas mengenai “doktrin manusia pilihan Tuhan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: