Materi dan Sebab Material (2)


Cara lain untuk menjelaskan perbedaan antara materi dan bentuk dengan menyatakan bahwa bentuk memiliki daya aktif sedangkan materi hanya memiliki daya pasif.

Daya aktif (quwwah) adalah daya yang ada pada agen sehingga tindakan (shayad) menjadi subjek utama darinya, seperti panas [subjek utama] dari api.  Dan daya pasif adalah suatu daya di mana penerimanya menerima sesuatu dari yang lain, seperti lilin yang menerima bentuk. Segala sesuatu yang benar-benar eksis (hasil bud) dikatakan aktual.[1]

Dengan kata lain, bentuk dan materi memiliki daya tertentu. Sementara bentuk memiliki daya aktif, materi hanya memiliki daya penerimaan; yang berarti menerima tetapi tidak secara aktif berpartisipasi di dalamnya. Peran materi adalah untuk menanggung bentuk. Dalam al-Najat, daya aktif dan pasif/ potensialitas (quwwah) dijelaskan secara detail. Ibn Sina menyebutkan dan menguraikan makna yang berbeda dari quwwah:

Ia adalah prinsip perubahan dan merupakan daya pasif/ potensialitas (quwwah infi’aliyyah); tetapi ketika berada dalam agen, ia merupakan daya aktif/ potensialitas (quwwah fi’liyyah). Dikatakan potensialitas karena sesuatu dapat bertindak atau bertindak atasnya dan sesuatu itu dapat menjadikan kepada yang lain. Di dalam materi-utama terdapat potensialitas untuk semuanya, tetapi perantara sesuatu mengesampingkan sesuatu [yang lain]. Sesuatu mungkin memiliki potensi pasif berkaitan dengan [penerimaan] pertentangan dalam dirinya. Misalnya, lilin memiliki potensi menjadi panas atau dingin.[2]

Bagian ini membuktikan hubungan antara bentuk dan daya aktif di satu sisi, serta materi dan daya pasif di sisi lainnya. Masing-masing dua daya ini adalah prinsip perubahan dalam kompleksitas. Oleh karena itu, kombinasi dari bentuk dan materi atau daya aktif dan pasif berasal dari perubahan. Pembahasan untuk materi-utama patut mendapat perhatian. Materi-utama memiliki potensi untuk menjadikan segala sesuatu. Kita akan melihat bahwa materi adalah potensi murni. Namun, ia memiliki daya ini tidak dengan sendirinya tetapi memiliki sesuatu yang lain, yaitu bentuk. Bentuk dalam suatu substansi tertentu dapat menyebabkan bentuk lain atau dapat pula mencegah terjadinya bentuk lain. Misalnya, meskipun prinsipnya kayu bakar akan mengambil bentuk api, tetapi bentuk air akan mencegah kejadian ini (pembakaran). Pergantian bentuk yang demikian ditentukan oleh bentuk-bentuknya, bukan oleh materinya; asumsi yang benar bahwa materi bertindak melalui bentuk. Pada sisi lain, hubungan antara materi, kemungkinan, dan non-eksistensi menjadi lebih eksplisit. Ibn Sina menyatakan bahwa ketika sesuatu adalah mungkin tetapi belum eksis, kemungkinan eksistensinya disebut potensi (quwwah).[3]

Sebelum terjadi, eksistensi sesuatu itu mungkin. Potensi adalah kemungkinan eksisnya sesuatu di dunia dalam beberapa titik waktu. Setiap substansi yang fana berada dalam potensi sebelum ia eksis. Sesuatu yang tidak eksis tetapi mungkin untuk mengada disebut potensi, atau kemungkinan untuk menjadi nyata, tetapi berbeda dari kemungkinan saja. Sesuatu yang mungkin tidak selalu menjadi eksistensi. Selain itu, potensi adalah sesuatu yang berada dalam dirinya sendiri, sebagai lawan dari ketidakmungkinan atau ketidakeksisan/ kekurangan.[4] Materi terdiri dari potensi atau kemungkinan real dari setiap substansi material tertentu.[5]

Pada makhluk yang fana, materi sama dengan potensialitas. Bagi Ibn Sina, semua mahluk selain Tuhan memiliki potensi dalam dirinya, karena ia memiliki beberapa bentuk materi. Jadi, kemungkinan secara logis dipahami karena menyatu dengan potensi real dari materi.

Meskipun materi memberikan kontribusi terhadap senyawa, tetapi ia bukan daya aktif yang dapat bertindak secara independen: “Jika seseorang mengatakan bahwa kemungkinan (shayad) [sama dengan] kekuatan suatu agen, maka orang tersebut keliru.”[6]

Materi bukanlah daya aktif karena ia bukan prinsip terhadap kemunculan semuanya—pernyataan ini secara eksplisit ditekankan Ibn Sina:

Anda tidak harus mengambil elemen (al-‘unsur) yang merupakan bagian reseptif [senyawa] sebagai prinsip bentuk. Elemen hanya menerima prinsip oleh aksiden, karena dalam aktualitasnya ia pertama kali ditentukan oleh bentuk, sedangkan esensinya ditentukan dirinya sendiri dalam potensi; dan yang ada dalam potensi adalah potensinya yang bukan prinsip untuk keseluruhan. Memang hanya suatu prinsip yang ditentukan oleh aksiden, karena aksiden itu membutuhkan subjek untuk menjadikan sesuatu aktual sebelum menjadi penyebab dari subsistensi subjek (qiwam).[7]

Kita melihat bahwa senyawa materi adalah kombinasi dari materi dan bentuk, di mana yang terakhir merupakan prinsip aktif. Akibatnya, bentuk adalah prinsip materi dengan cara mengaktualisasikannya, sedangkan materi bukanlah suatu prinsip bentuk. Materi, sebagai bagian dari senyawa tersebut adalah prinsip senyawa tetapi tidak secara langsung menjadi prinsip bentuk. Dalam senyawa tersebut tidak dapat dihilangkan bentuk atau materinya, dan di dalamnya materi dan bentuk berdampingan. Bahkan, Ibn Sina berulang-ulang dalam tulisannya menyatakan bahwa bentuk tidak eksis secara independen dari materi.[8] Bentuk tidak dengan sendirinya bergabung kepada materi, akan tetapi hal ini terjadi karena adanya entitas ketiga.

Apa artinya bahwa materi (elemen reseptif) hanya sebagai prinsip aksiden? Ia bukan suatu prinsip yang ditentukan dirinya sendiri, tetapi hanya menjadi prinsip senyawa ketika subjek diaktulisasikan oleh bentuk. Ia menjadi prinsip ketika melalui bentuk. Alasannya bukan terletak pada prinsip sebagai potensi. Sesuatu yang potensial membutuhkan sesuatu yang dapat mengaktualkannya. Definisi materi sebagai potensi menyiratkan bahwa ia tidak dapat memunculkan substansi atau peristiwa. Selain itu, materi tidak eksis jika diisolasi dari bentuk:

Materi tidak dapat dipisahkan dari bentuk dan tidak dapat mengaktual kecuali jika bentuk melekat padanya. Oleh karena itu, ia eksis dalam aktualitas melalui bentuk. Jika bentuk meninggalkannya, bentuk lain tidak dapat menggantikan bentuk [sebelumnya] dan mengambil tempatnya meskipun pada bagian materi kompleks.[9]

Generasi (bentuk umum materi) dari substansi terjadi ketika suatu bentuk bersatu dengan materi. Selanjutnya, kerusakan terjadi ketika materi dan bentuk terdisosiasi karena bentuk meninggalkan materi. Eksistensi materi ditopang oleh bentuk, kerusakan atau kebinasaan terjadi saat kepergian bentuk. Materi tidak eksis oleh dirinya sendiri ketika dipisahkan dari potensi dan entitas non-eksistensi. Meskipun terdapat saling ketergantungan antara bentuk dan materi, keunggulan bentuk selalu ditekankan oleh Ibn Sina.

Salah satu cara Ibn Sina untuk memperkuat gagasan bahwa materi “mengabdi” kepada bentuk adalah dengan mengklaim bahwa materi bukan subjek.

Ada perbedaan antara wadah (al-mahall) dan subjek (mawdu’). “Subjek” mengerti terhadap apa yang menjadi subsisten dengan sendirinya dan spesinya. Kemudian ia menjadi penyebab sesuatu yang bukan bagian darinya yang muncul melaluinya. [Dengan] wadah tersebut dapat [dipahami] sesuatu yang melekat atasnya sehingga dapat diperoleh keadaan tertentu yang melaluinya itu.[10]


[1] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 61-62. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 175.

[2] Ibn Sina, Al-Najat, hal: 250. Istilah quwwah dalam bahasa Arab memiliki banyak arti (polisemi). Dalam konteks ilmu alam (fisika) biasanya diterjemahkan sebagai potensialitas atau potensi, tetapi dapat berarti sebagai daya, sebagaimana dalam pembahasan ini. Dalam domain psikologi biasa diterjemahkan sebagai “bakat”.

[3] Ibn Sina, Danishnamah, hal: 62. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 175.

[4] Perbedaan antara kemungkinan dan potensialitas secara ekspliti diuraikan Ibn Sina dalam tulisan-tulisannya mengenai logika. Lihat: Al-Syifa, Al-Mantiq, Al-Ibarah, hal: 118. Secara umum, mungkin adalah untuk mengafirmasi yang bukan tidak mungkin. Secara spesifik, mungkin bukan keperluan terhadap sesuatu dan juga menunjukkan terhadap sesuatu yang tidak terjadi atau bukan keperluan sesuatu di masa depannya. Dengan demikian, mungkin merupakan suatu bentuk potensial (quwwah) yang dapat terjadi atau tidak terjadi.

[5] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 62-63. Le Livre de Science, Metaphysique, hal 176. Lihat juga: Goichon, Distinction, hal: 193. Goichon menjelaskan dengan menarik kesejajaran antara logika dan ontologi dalam karya Ibn Sina.

[6] Ibn Sina, Ilahiyyat, hal: 63. Le Livre de Science, Metaphysique, hal: 176.

[7] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 258.

[8] Isyarat ini menunjukkan kesalingtergantungan antara bentuk dan materi dalam suatu substansi: “Materi eksis dengan bentuk; jika salah satunya dihilangkan, maka yang lainnya akan hilang pula; jika salah satunya memiliki kekurangan, maka yang lainnya pun akan begitu, dan non-eksistensi yang satu menjadi sebab bagi non-eksistensi yang lainnya”, al-Najat, hal: 258. Ibn Sina memperlihatkan bahwa bentuk bukan eksistensi independen yang berhubungan dengan teori Platonik mengenai bentuk. Lihat: al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 317-324.

[9] Ibn Sina, al-Sama’i al-Thabi’i, hal: 14.

[10] Ibn Sina, al-Syifa, al-Ilahiyyat, hal: 59. Lihat juga: Stone, “Simplicius and Avicenna on the Essential Corporeity of Material Substance”, dalam Aspects of Avicenna (wd. Wisnovsky), hal: 78.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: